Pencari Kayu Yang Tabah

Segmen 35
(Bulan Ramadhan)
“Pencari Kayu Yang Tabah”

       Ini adalah hari ke 25 puasa Ramadhan, terasa sangat cepat bagi Vino. Banyah hal-hal yang Vino dapatkan dari bulan puasa ini namun, hari ini Vino tak melakukan suatu kegiatan apapun. Vino hanya berdiam diri dan merenungi sesuatu, dalam hatinya berkata” terima kasih ya Allah engkau begitu memberikan kenikmatan yang sangat besar, engkau sudah memberi kesehatan untukku dan kenikmatan yang lain tiada batasnya” tiba-tiba salah seorang tetangga Vino datang “assalamu’alaikum” kata tetangga Vino. Lalu, Vino sedikit kaget dan tersadar dari lamunannya di teras rumahnya “wa’alakum salam, iya Pak Anwar ada perlu apa pagi-pagi sudah datang ke sini” ucap Vino dengan tersenyum.
Pak Anwar: maaf, nak Vino ganggu sebentar….begini bapak mau minta tolong?
Vino: iya..mau minta tolong apa pak (tersenyum)
Pak Anwar: bisa anterin bapak ke apotek, bapak mau nembus ini obat…..
Vino: iya..bisa pak, memangnya siapa yang sakit?
Pak Anwar: itu, si Wawan yang sakit…dia terkena penyakit asma….
Vino: oh..ya sudah mari langsung saya antar pak….

       Bergegas Vino mengambil motor di garasinya, dan menuju sebuah apotek terdekat. 10 menit kemudian sampailah mereka di sebuah apotek. Pak Anwar  turun dari motor Vino “tunggu bentar ya nak Vino” ucap Pak Anwar yang sedikit buru-buru. Setelah, cukup lama menunggu Vino berkata “mana obatnya pak”.
Pak Anwar: obatnya nggak ke beli (wajah yang murung)
Vino: kok bisa pak?
Pak Anwar: obatnya terlalu mahal nak Vino (sedih)
Vino: ya sudah…mana tembusan obatnya pak…

       Kemudian, Vino masuk ke dalam apotek “sungguh malang nasib Pak Anwar, obat asma memang sangat mahal sampai ratusan ribu, bagaimana apabila asma Wawan kambuh” ucap Vino dalam hati. Akhirnya, Vino yang membelikan obat itu dan Pak Anwar sangat berterima kasih kepada Vino. Vino, yakin pasti Pak Anwar bisa membeli obat asma suatu hari nanti apabila obat yang dibelikannya habis karena Pak Anwar sangat mencintai keluarganya bukan tak mungkin beliau berusaha keras untuk membeli obat si Wawan. Inilah mungkin, yang dinamakan sebuah cobaan dan kita harus bisa menghadapinya. Manusia itu diciptakan untuk bisa benar-benar bertahan hidup di dunia ini bagaimanapun itu caranya tetapi harus berpedoman dengan sebuah keberkahan dalam mencari rezeki. “From zero to hero” hidup itu adalah sebuah proses, berusaha dari nol sampai pada sebuah kesuksesan. Cobaan itu selalu ada, hidup memang untuk di coba atau diberi cobaan untuk mengetahui seberapa besar tingkat keimanan seseorang. Tentunya, masih sangat banyak orang yang kesusahan di dunia ini sebagai orang yang mampu kita wajib untuk membantunya. Ibarat sebuah perkataan “orang yang melanggar aturan memang sampah tetapi, orang yang hanya mementingkan tujuan hidupnya tanpa memandang orang-orang disekitarnya lebih rendah dari sampah” artinya kita hidup pasti punya tujuan dengan kata lain tujuan hidup kita adalah untuk jangka panjang agar kita bisa bertahan. Simbol di dunia itu Harta, Tahta dan Wanita memang, uang itu bukan segalanya tetapi, segalanya butuh uang. Jelasnya, seorang manusia pasti ingin kaya dan hidup mewah terkadang demi mencari kekayaan seseorang terus bekerja, bekerja dan bekerja tanpa memperhatikan keluarga bahkan orang lain, itulah yang disebut sampah. Orang-orang yang kaya dan bertahta belum tentu mulia sedangkan orang yang mulia adalah orang yang benar-benar peduli dengan orang lain meskipun dirinya miskin.
       Waktu menunjukan jam 12 siang, tiba-tiba Vino mendapatkan sms dari Kelvin yang maksud dari sms itu mengajak Vino untuk mengantar beras ke rumah saudara Kelvin yang sebenarnya lokasinya jauh. Mereka berangkat sambil mengendarai Honda Vario milik Kelvin dan kebetulan mobil mereka sedang dipakai oleh orang tuannya. 1 jam telah berlalu, akhirnya mereka sampai di sebuah desa terpencil. Kelvin memberikan sekarung beras untuk neneknya sudah kewajiban seorang anak membantu ibunya ikatan antara ayah Kelvin dengan neneknya. Setiap sebulan sekali pasti keluarga Kelvin mengirim sesuatu untuk neneknya mulai dari beras, makanan dan kebutuhan lain-lainnya. Nenek Kelvin hidup ditemani oleh paman Kelvin, mereka sudah 3 jam di sana dan memutuskan untuk pulang. Dalam perjalanan pulang, tidak disangka motor Kelvin berhenti “lho, kok motormu berhenti sendiri kenapa Vin” kata Vino dengan wajah yang cukup panik. Kelvin menjawab “waduh, sob aku lupa mengisi bensin”.
Vino: kayaknya masalah besar kita bukan kehabisan bensinnya sob (turun dari motor Kelvin)
Kelvin: maksud kamu Vin? (membuka jok motornya)
Vino: motor kamu kan injeksi..jadi, kalau bensinnya benar-benar habis memperbaikinya nggak bisa di bengkel sembarangan…harus di bengkel dengan teknologi komputer…
Kelvin: oh iya, aku benar-benar lupa…..nggak mungkin, kita dapetin bengkel seperti itu di desa seperti ini..kamu lihat saja disekitar, mobil angkutan saja jarang yang lewat…
       Di gubuk yang hampir hancur mereka berdua duduk di sana, waktu sudah menunjukan pukul setengah enam sore. Tidak ada satupun orang yang lewat untuk dimintai tolong.
Kelvin: maaf ya sob, gara-gara aku kamu menjadi seperti ini (wajah yang bersalah)
Vino: nggak apa-apa lagi Vin, justru aku kuatir sama kamu seandainya kamu ke sini sendirian (tersenyum) dengan keadaan seperti ini..
Kelvin: makasih ya Vin, kamu memang sahabat terbaikku (menepuk pundak Vino)
Vino: terpaksa kita bermalam di sini Vin…besok kita minta bantuan Faisal saja untuk mengirim mobil derek ke sini…
Kelvin: iya..ide bagus itu Vin…ya sudah buka puasa dulu Vin..ini sudah magrib (memberikan sebotol minuman)
Vino: iya…makasih sob….coba kamu lihat di sana, itu sepertinya ada sebuah rumah….(melihat ke arah rumah itu)
Kelvin: iya..ya sudah kita ke sana sekarang minta bantuan (mendorong motornya)

       Mereka memutuskan untuk menuju di sebuah rumah yang sangat sederhana terletak di pinggir sawah dekat jalan setapak. Di depan rumah itu, terlihat kakek dan nenek yang duduk di depan rumahnya. “Permisi kek” kata Kelvin.
Kakek: iya nak..motor kamu kenapa kok didorong (melihat motor Kelvin)
Kelvin: motor saya mogok kek…harus dibenerin di bengkel yang ada fasilitas komputernya (tersenyum)
Kakek: oh…ya sudah masukan ke dalam saja (mendekati Vino dan Kelvin)
Nenek: kalian pasti pada belum buka puasa…(tersenyum)
Vino: iya nek (sedikit malu)
Kakek: ya sudah..kalian buka dulu di sini..sekalian bermalam di sini…soalnya di sini sangat sepi dan berbahaya apabila kalian berdua melanjutkan perjalanan….
Nenek: iya nak…benar kata kakek, kemarin ada perampokan di seberang sana…
Vino: wah..daerah sini bahaya sekali ya nek….sebelumnya, terima kasih banyak yak nenek, kakek sudah ngizinin kami tinggal di sini (tersenyum)
Kakek: iya sama-sama…ya sudah kalian buka dulu sana,,,tapi, lauknya seadanya ya…nenek tolong antar mereka berdua ke dalam…
Kelvin: iya ..nggak apa-apa kek, kita sudah berbuka saja sudah bersyukur (tersenyum)

       Vino dan Kelvin cukup kaget dengan kondisi rumah kakek itu yang sebenarnya tidak layak huni, genteng yang berlubang dan kondisi kayu yang lapuk serta banyak nyamuk di rumah itu. Mereka sangat prihatin dengan kondisi kakek dan nenek itu. Setelah berbuka puasa mereka mandi lalu, mereka berkumpul Vino, Kelvin, Kakek dan Nenek. Di dalam rumah itu, mereka mengobrol dengan kakek dan nenek dengan ceria di wajah Vino dan Kelvin.
Vino: oh iya kek, kakek kerjanya apa?
Kakek: kakek, nyari kayu di hutan kok nak untuk di jual ke pasar
Kelvin: apa itu cukup kek buat kebutuhan kakek sehari-hari (sedih)
Kekek: sangat tidak cukup nak….
Vino: terus anak-anak kakek dan cucu kakek pada ke mana…
Nenek: mereka juga hidupnya susah seperti kami…dan akhirnya mereka memutuskan untuk merantau ke Jakarta (terbayang anak dan cucunya)
Kakek: iya nak..dulu mereka tinggal bersama kami karena kondisi di sini tidak memungkinkan untuk mencari uang..ya akhirnya, mereka ke Jakarta dengan suami dan anaknya..(mata yang berkaca)
Vino: oh..yang sabar ya kek, oh iya kek..bukannya di hutan banyak rotan yang bisa kakek manfaatkan buat kerajinan…
Kakek: tapi, kan kakek nggak bisa membuat kerajinan dari rotan…(tersenyum)
Kelvin: tenang saja kek, kan ada internet jadi nanti kami carikan cara pembuatan kerajinan dari rotan dan perawatannya kek…
Vino: ada pensil atau bolpen nggak kek..mau buat nyalin pembuatan kerajinan rotan dari hp ke kertas..
Nenek: ada nak, bentar nenek ambilkan dulu…..
Kelvin: benarkan kek, di hutan sini masih banyak rotan…
Kakek: iya masih banyak…gimana kalau besok kakek ajak ke hutan untuk mencari rotan…
Kelvin: kita setuju banget kek (tersenyum)
Kakek: kalian nggak apa-apa..puasa-puasa ke hutan, nanti kecapekan …
Vino: wah..nggak masalah kek kan kita mau bantu kakek….(tersenyum)
Nenek: ini nak, buku dan pensilnya (memberikan kepada Vino)
Vino: makasih ya nek, aku tulis semuanya yang ada di sini..tunggu bentar ya kek (mulai menulis)
Kelvin: besok kita ke hutan jam berapa kek?
Kakek: biasanya kakek ke sana jam 6…..
Kelvin: ok! kek…
       Mereka berusaha untuk membantu kakek itu, karena kakek dan nenek sangat baik kepada mereka. Keesokan harinya Kakek, Vino dan Kelvin pergi ke hutan sedangkan, nenek menunggu di rumah. Jarak hutan dari rumah kakek cukup dekat sehingga mereka bisa jalan kaki untuk menuju ke sana. Banyak rotan yang mereka dapatkan, cukup untuk membuat beberapa kursi atau rak buku, setelah itu mereka pulang dan Vino mulai mengajarkan cara membuat rotan yang Vino dapatkan informasinya dari internet. Semua konsep sudah Vino ajarkan untuk kakek mulai dari teknik pembuatan, alat yang digunakan sampai pada penyimpanan dan perawatan. Dan Vino tak lupa, memberikan catatannya yang ditulis tadi malam untuk kakek guna lebih memperjelas lagi.
Kakek: makasih ya nak, sudah mengajarkan kakek cara membuat kerajinan dari rotan….mungkin, apabila sudah terwujud ini sangat membantu ekonomi keluarga kakek (sedikit terharu)
Vino: iya sama-sama…orang yang tabah seperti kakek pantas mendapatkan ini semua…kakek, sungguh luar biasa tidak mengeluh sedikitpun dengan kondisi seperti ini,,justru kakek semakin semangat dan lebih bekerja keras dalam menghadapi kehidupan yang keras ini…(memandang kakek)
Kelvin: sebenarnya, untuk usia seperti kakek ini..sudah tidak bekerja lagi, minum kopi sambil duduk di depan rumah,,menikmati kebahagiaan…
Vino: mudah-mudahan dengan niat, usaha dan do’a…usaha ini bisa lancar dan kakek bisa hidup enak serta yang terpenting suatu saat nanti kakek bisa menyuruh anak dan menantu kakek pulang untuk membantu usaha ini (tersenyum)
Kelvin: sebentar lagi, teman kita akan ke sini sambil membawa mobil derek untuk mengangkut motor saya kek…
Vino: sebelum kami pulang..ini ada uang dari kami sebanyak 500 ribu, untuk membeli peralatan pembuatan kerajinan rotan..
Nenek: (hanya bisa memeluk kakek sambil menangis)
Kakek: makasih banyak ya nak, kakek nggak bisa membalas dengan apa-apa
Kelvin: sudah nek, jangan nangis….(berkata dengan nenek) cukup do’akan kami saja kek agar kami bisa menjadi manusia yang berguna untuk orang lain (berkata dengan kakek)
Vino: betul kata temanku itu kek…pasan saya kek, apabila kakek berhasil membuat kerajinan dari rotan..sebagian hasil dari penjualan itu dikumpulkan sebanyak mungkin, untuk membeli rotan karena rotan yang ada di hutan suatu saat bakal habis….dan berikan sebuah hasil kerajinan yang terbaik…(tersenyum)
Kelvin: nanti di depan sana kek, kalau usaha ini berhasil,,,kakek buat papan atau triplek pasang di sana dan di tulis “menjual kerajinan dari rotan” soalnya biar orang banyak yang tahu bahwa kakek membuat kerajinan dari rotan….
Kakek: iya..kakek kan selalu mengingat dan mempelajari apa yang kalian ajarkan kepada kakek (tersenyum)
Nenek: kalian anak-anak yang baik..pasti suatu saat nanti banyak orang yang akan menyayangi kalian (tersenyum)
Vino: iya makasih nek….(tersenyum)
Kelvin: sebenarnya nggak ada yang sulit..apabila kita mau belajar kek…saya juga tahu, kakek pasti bisa membuat kerajinan dari rotan..karena kakek ada sebuah kemauan untuk mengubah hidup kakek..meski, nanti kakek harus bisa kreatif dalam membentuk sebuah kerajinan dari rotan…
Vino: itu mobilnya sudah datang kek..kami pamit pulang dulu ya kek..mudah-mudahan usaha ini berhasil…(bersalaman dengan kakek dan nenek)
Kelvin: kami pamit kek, semoga kakek dan nenek sehat selalu (bersalaman dengan kekek dan nenek)
Kakek: amin..hati-hati di jalan nak (tersenyum)
Nenek: iya nak, terima kasih banyak….hati-hati di jalan (tersenyum)

      Mereka sangat senang bisa membantu orang lain, apalagi di bulan puasa seperti ini. Seorang pencari kayu yang tabah akhirnya mendapat sebuah pertolongan melalui Vino dan Kelvin. Sampai kapanpun Kakek dan Nenek tadi akan selalu mengingat kebaikan Vino dan Kelvin. Di dalam ketabahan pasti mengandung sebuah kesabaran, keikhlasan dan rasa syukur terhadap Sang Maha Pencipta, tingkat keimanan yang tinggi membuat seseorang selalu bahagia dalam suka maupun duka. “Selalu bahagia dalam suka maupun duka” sebuah hal yang sangat jarang kita temukan sekarang ini namun, kini mereka temukan dalam diri seorang kakek dan nenek.

minato

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s