Nafas Terakhir Seorang Ayah

Segmen 31
Nafas Terakhir Seorang Ayah”

       Di luar ruangan Faisal dan Fina duduk berdua sambil membicarakan sesuatu, sedikit Faisal memberi semangat untuk Fina “kamu sabar saja ya Fin, ayah kamu pasti sembuh” kata Faisal dengan senyum di wajahnya. “Iya, makasih ya Sal, tapi kan ini sudah ketiga kalinya ayahku masuk rumah sakit” jawab Fina yang nampak lesu.
Faisal: iya, pasti ini cobaan dari Tuhan untuk kamu dan keluarga kamu (memandang orang yang keluar masuk ruangan)
Fina: aku tahu Sal, sebagai anak aku juga merasa sedih (memandang Faisal)
Faisal: oh iya, kapan pertama ayahmu masuk ke rumah sakit?
Fina: sekitar dua bulan yang lalu,,,habis dibawa pulang beberapa minggu kemudian penyakitnya kambuh lagi….sampai sekarang ini..
Faisal: kamu dan keluargamu kan pasti belum makan,,, ya sudah ayo kita keluar sebentar yuk untuk beli makan (tersenyum)
Fina: ya sudah ayo,,,

       Mereka melangkahkan kakinya keluar untuk membeli makanan lalu tibalah mereka di sebuah warung “ya sudah kamu pesan dulu, aku mau ke toko itu sebentar” kata Faisal. Beberapa menit kemudian, Faisal kembali ke warung setelah dari toko “gimana, pesanannya sudah selesai” kata Faisal sambil membawa sesuatu.
Fina: ini baru saja, selesai (tersenyum)
Faisal: ini aku beliin air minum aqua (berkata dengan Fina) ya sudah, semuanya berapa bu (berkata dengan penjual)
Penjual: semuanya 18 ribu mas (tersenyum)
Faisal: ini bu…makasih ya, mari bu (tersenyum)
Penjual: iya mari-mari mas (tersenyum)
Fina: oh iya Sal, ini uangnya…
Faisal: ini uang untuk apa Fin? (sedikit bingung)
Fina: uang ganti untuk membeli makanan tadi (tersenyum)
Faisal: halah,,,,nggak usah Fin, simpan saja uangnya (tersenyun)
Fina: (tersenyum) nggak Sal, aku nggak suka ngrepotin orang lain….ini uangnya terima saja….
Faisal: nggak ngrepotin sama sekali kok Fin…sudah, simpan saja sekarang kan pasti kamu lebih membutuhkan uang itu,,,untuk membeli keperluan lainnya nanti (tersenyum)
Fina: ya sudah makasih ya Sal…(memandang Faisal dengan senyum manis)
Faisal: iya sama-sama…nah begitu senyum, nggak kayak tadi (tertawa)
Faisal: ahh kamu ada-ada saja Sal (tersenyum)

       Magrib pun tiba, mereka telah kembali ke rumah sakit dan masuk ke sebuah ruangan di mana ayah Fina dirawat. Di dalam ruangan itu, ada ibu dan adik-adik Fina yang menemani ayahnya sedangkan para saudara Fina sudah pulang semenjak sore tadi. Dengan nada yang cukup pelan Faisal berbicara kepada Fina “Fin, aku mau sholat magrib dulu ya”. “Oh iya Sal, silahkan aku sholatnya habis ini” kata Fina sambil menaruh makanan dan minumannya di meja.
Ibu Fina: kamu bawa apa itu Fin? (melihat bungkusan itu)
Fina: oh itu makanan kok bu,,,tadi Fina dan Faisal habis beli di warung (mengambil makanan itu untuk ibunya)
Ibu Fina: ya sudah,, kamu sholat dulu sana (tersenyum)
Fina: iya bu..ya sudah dimakan bu makanannya, ibu, Indah dan Taufik kan belum makan…
Ibu Fina: Indah, Taufik,,,ke sini makan dulu….jangan nonton tv terus (tesenyum)
Indah dan Taufik: (mendekati ibunya yang bawa makanan)

       Kemudian, Faisal kembali ke ruangan itu setelah menunaikan ibadah sholat magrib dan Fina berkata “sudah selesai sholat Sal, kok lama”
Faisal: sudah,,, tadi ketemu teman waktu SMA jadi di sana ngobrol sebentar begitu (tersenyum)
Fina: oh begitu…ya sudah ini makananmu dimakan (memberikan makanannya)
Faisal: (tersenyum) nggak usah saja Fin…makasih,,,
Fina: lho, kan kamu tadi yang beli sich,,,,udah aku pesankan tadi di sana…
Faisal: iya,, aku kan niatnya mau beliin kamu dan keluarga kamu (tersenyum)
Fina: (tersenyum dan memandang Faisal)
Faisal: oh iya, aku kan sudah lama di sini dari tadi sore,,,aku mau pulang dulu takutnya nanti mamaku nyariin (tersenyum)
Fina: oh…ya sudah sebelumnya makasih ya Sal sudah ngrepotin (bersalaman dengan Faisal)
Faisal: iya sama-sama…biasa saja lagi Fin (tersenyum)
Faisal: bu.. mau pulang dulu (bersalaman dengan ibu Fina)
Ibu Fina: iya nak Faisal,,,makasih sudah mau ke sini (tersenyum)
Faisal: pak, saya pamit pulang dulu (berkata dengan ayah Fina)
Ayah Fina: iya nak Faisal,,,hati-hati di jalan (batuk-batuk)

       Pada malam hari itu, Faisal pun pulang. Sedangkan, di dalam ruangan rumah sakit, Fina duduk di samping ayahnya dan berkata “gimana pak, sudah agak baikan” sambil memandang ayahnya dengan penuh rasa kasihan.
Ayah Fina: iya,,, bapak sudah mendingan…
Fina: alhamdulilah,, ya sudah pak, Fina suapin ya makanannya (tersenyum)

       Fina menyuapi ayahnya dengan rasa penuh kasih sayang, dia benar-benar ingin merawat ayahnya dengan sepenuh hati. Dulu sebelum, Fina menjadi penulis novel ayahnya sangat baik dengan Fina dan keluarganya, ayahnya dikala itu benar-benar bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarganya mulai dari makan dan berusaha menyekolahkan anak-anaknya. Di saat Fina ingin menyuapi ayahnya lagi, tiba–tiba ayahnya berkata “oh iya Fin, bapak hampir lupa dulu waktu ultahmu pada waktu masih SMP kelas 3 katanya dulu kamu mau minta dibelikan sebuah boneka iya tow” sambil terbaring di tempat tidurnya.
Fina: iya pak (tersenyum)
Ayah Fina: tolong ambilkan bu (berkata dengan istrinya)
Ibu Fina: (membawa sebuah boneka kucing yang cukup besar)
Ayah Fina: kasihkan ke Fina…(berkata dengan ibu)
Fina: maksudnya apa ini pak? (mata yang berkaca-kaca)
Ayah Fina: dulu kan bapak, nggak sempat membelikan kamu boneka karena bapak dulu nggak punya uang,,,dan sekarang bapak baru bisa beliin untuk kamu (tersenyum)
Fina: makasih ya pak…..(memeluk ayahnya dengan air mata yang tak tertahan)
Ibu Fina: (memandang mereka berdua dengan rasa terharu)
Taufik dan Indah: (sibuk menonton tv)
Ayah Fina: sudah,,nggak usah menangis (mengusap kepala Fina)
Fina: (mengusap air matanya dan sedikit tersenyum)
Ayah Fina: tadi itu, teman kamu atau pacar kamu? (tersenyum)
Fina: (tersenyum) cuma teman kok pak….
Ayah Fina: oh,,,dia kelihatannya anaknya baik dan ramah…
Fina: memang Faisal baik anaknya,,,tadi kan yang beliin makanan dan minuman dia pak…
Ayah Fina: oh….kamu nggak suka begitu sama dia…
Fina: (hanya tersenyum)
Ayah Fina: kok malah tersenyum…
Fina: habis, bapak nanyanya ada-ada saja (tersenyum)
Ayah Fina: nggak apa-apa lagi,,,kalau kamu suka sama Faisal….kan, dia anaknya baik…cari seorang laki-laki itu nggak perlu kaya, yang penting baik dengan keluarga kamu, bertanggung jawab dan mempunyai sebuah pekerjaan…untuk masa depan kamu,,,
Fina: iya pak,,(tersenyum)
Ayah Fina: sekarang itu, laki-laki yang kaya belum tentu bisa ngebahagiakan seorang istri…
Fina: bukannya laki-laki yang kaya,,bisa memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya dengan baik pak
Ayah Fina: apa kamu mau, dapetin seorang laki-laki yang kaya tapi, nggak pintar dengan keluarga kamu..
Fina: iya nggak mau kalau nggak baik dengan bapak dan ibu….
Ayah Fina: maka dari itu, kamu harus bisa memilih….kaya belum tentu bisa memberi kenyamanan…tapi, kalau baik pasti selalu bisa memberi kenyamanan….
Fina: iya pak,,, ya sudah bapak istirahat dulu kan sudah malam,,,besok Fina juga kuliah (mencium kening ayahnya)
Ayah Fina: (hanya tersenyum)

       Fina dan sekeluarga akhirnya tidur pulas. Pagi yang cerah Faisal bersiap-siap untuk berangkat kuliah dan tak lupa Faisal berpamitan dengan kedua orang tuanya. Dikeluarkannya dari dalam garasinya Satria F warna merah tua, Faisal melihat ke atas langit dan berkata “wah, cuaca yang cerah nie semoga aktivitasku juga cerah atau lancar” lalu dinyalakan motornya dan bergegas berangkat kuliah. Sambil memperpelan laju motornya Faisal menikmati pemandangan sekitar “ternyata indah juga ya kota Yogyakarta pagi hari ini” kata Faisal dari dalam hati. Beberapa saat kemudian, Faisal sampai di kampusnya UGM, setelah memarkirkan motornya Faisal duduk di halaman kampus dan mengeluarkan sebuah buku. Itu adalah novel Fina, asyik membaca novel dari arah belakang muncul Vino dan Kelvin “hai Sal, tumben pagi-pagi sudah baca buku” kata Kelvin.
Faisal: oh kalian…tumben kamu bareng sama Vino (tersenyum)
Kelvin: iya, tadi aku ke rumah Vino buat nganter tugas kuliah sekalian berangkat bareng….(duduk di samping Faisal)
Vino: oh iya Sal,,tadi malam ke mana saja…di cariin nggak ada di rumah (memandang Faisal)
Faisal: sorry mens, aku tadi malem di rumah sakit…
Kelvin: oh,,,jenguk ayahnya Fina yang sakit ….
Faisal: iya Vin…pulang habis magrib terus Joni ngajakin ke warnet ya sudah aku nggak jadi pulang ke rumah, sampai rumah malah jam 11an…(tersenyum)
Kelvin: oh begitu (sambil membalas sms)
Vino: ya sudah,,kita ke kelas mens…hampir masuk nie…
Kelvin: ayo..(berdiri)
Faisal: (memasukan novelnya ke dalam tas)

       Mereka bertiga masuk ke dalam kelas untuk mengikuti mata kuliah Pengantar Ilmu Administrasi Niaga. Di dalam kelas, Faisal menengok ke arah bangku Fina yang ternyata kosong “paling Fina, masih nemenin ayahnya di rumah sakit” ucap Faisal dalam hati. Dosen menerangkan materinya dan para mahasiswa mendengarkan dengan tenang.
       Waktu menunjukan pukul 11.11 wib tanda kuliah telah selesai. Faisal, Kelvin, Joni, Radit dan Vino berkumpul di parkiran kampus. Dan Vino berkata “ sekarang kita jadi sich, buat jenguk ayah Fina di rumah sakit” sambil memandang sahabatnya.
Radit: iya kita semua ada waktu…iya kan teman-teman (tersenyum)
Joni: iya,, ya sudah kita mau beli apa buat Fina dan keluarganya….
Vino: ya kita belikan buah-buahan dan roti …gimana (mengeluarkan uang dari dompetnya) ini uangnya…
Clara: (tersenyum)
Kelvin: kamu terus Vin, yang ngluarin uangnya….kita iuran saja….(duduk di motornya)
Joni: iya aku setuju…(tersenyum)
Clara: iya sayang, benar kata Kelvin…
Vino: oh ya sudah kalau begitu….mau urunan berapa?
Kelvin: biar adil kita urunan 20rb per orang,,,setuju kan….
Radit: ok! dech ini uangnya (mengeluarkan uang dari sakunya)

       Radit, Kelvin, Faisal dan Joni serta Clara mengumpulkan iuran itu kepada Vino “semua sudah pada iuran, ini jumlahnya 120 rb” kata Vino sambil menunjukan total uangnya.
Kelvin: aku dan Vino saja yang membeli buah dan roti…kalian semua langsung menuju rumah sakit..ok!!
       Akhirnya Kelvin dan Vino membeli buah-buahan dan roti di suatu tempat sedangkan temannya yang lain langsung menuju ke rumah sakit. Semua sudah menyalakan motornya dan cepat-cepat menuju rumah sakit. Beberapa menit kemudian, Faisal, Joni, Clara dan Radit sampai di rumah sakit tapi, alangkah terkejutnya mereka di dalam ruangan sudah tak melihat ada Fina dan keluarganya. Lalu, Faisal bertanya dengan pasien keluarga sebelah “maaf bu, pasien yang tinggal di sini ke mana ya” sambil menunjukan tempatnya. “Masak mas, nggak tahu bapak yang kemarin di rawat di situ sudah meninggal jam 4 pagi” kata seorang itu.
Faisal: innalilahi wainalilahi rojiun (kaget) ya sudah makasih bu (bergegas keluar)
Radit: ada apa Sal? (cukup panik)
Faisal: sekarang kita ke rumah Fina…ayo cepat ..!!
Joni: maksud kamu ayah Fina sudah dibawa pulang begitu…
Faisal: ayah Fina ternyata sudah meninggal tadi jam 4 pagi (perasaan yang sedih)
Radit: innalilahi wainnailahi rojiun (berjalan menuju parkiran di rumah sakit)
Clara: innalilahi wainnailahi rojiun…ya sudah aku sms Vino dan Kelvin buat langsung menuju ke rumah Fina…
Faisal: iya Clara (mengambil motornya dengan buru-buru)

       Kemudian mereka sampai di rumah Fina, nampak orang-orang yang sedang berdatangan menuju rumah Fina, suasana pada waktu itu ramai dan penuh kesedihan yang menyelimuti keluarga Fina. Faisal, Clara, Radit dan Joni disambut hangat oleh para saudara Fina dan dari dalam rumah nampak jenazah ayahnya. Fina dan keluarganya memperlihatkan tangis dan kesedihan. Mungkin, seorang ayahnyalah yang membawa pengaruh besar terhadap keluarganya mulai dari mencari rizki sampai pada sebuah nasehat dan bimbinganya. Lalu, mereka bersalaman dengan para orang disekitar ketika masuk ke dalam rumah Fina kemudian, Fina menghampiri mereka berempat. “Kenapa kamu nggak beritahu aku sich Fin” kata Faisal.
Fina: maaf Sal (mata yang sedikit merah)
Faisal: ya sudah nggak apa-apa…kamu yang sabar ya, kami turut berduka cita atas meninggalnya ayahmu (memandang Fina dengan belas kasihan)
Fina: iya makasih ya,,ya sudah kalian duduk di sana…

       Selang beberapa saat kemudian, Kelvin dan Vino datang dengan membawa buah-buahan dan roti. Semuanya bisa berkumpul dihadapan jenazah ayah Fina dan tak lupa Fina mengucapkan terima kasih kepada teman-temannya yang sudah ikut turut berduka cita atas meninggalnya ayahnya. Pada pukul 4 sore jenazah ayah Fina mulai dimakamkan, tak terbendung tangis yang mengalir di mata Fina dan keluarganya ketika ayahnya dimasukan ke dalam liang lahat. Faisal dan teman-temannya sepakat untuk membiayai acara 7 hari meninggalnya ayah Fina. Setelah ayah Fina meninggal, hanya Fina yang menghidupi keluarganya dari penjualan novel itu. Faisal dan teman-temannya selalu datang di acara 7 hari meninggalnya almarhum dengan bersama-sama membacakan surat yasin dan tahlil.
       Semua orang yang hidup pasti akan meninggal, tentunya kita harus siap dan ikhlas ketika Sang Illahi mengambil orang-orang yang kita cintai. Tentunya semuanya nanti akan kembali kepada Sang Pencipta. Semasa kita hidup, kita harus menyiapkan bekal sebanyak-banyaknya untuk menuju sebuah kehidupan yang abadi di akhirat nanti. Sebelum almarhum meninggal, beliau memberi sebuah boneka untuk Fina sebagai hadiah yang dulunya belum sempat beliau berikan kepada Fina di saat ultah Fina, dan selamanya boneka itulah yang akan memberikan kesan terindah untuk Fina. Kebaikan seseorang semasa hidupnya pasti akan selalu dihargai dan diingat karena dengan kebaikan itu orang menjadi sangat berharga di mata orang lain terutama orang-orang yang kita cintai. Sedangkan, para teman-temanya akan memberikan kesan sendiri untuk Fina bahwa kedatangan teman-temannya akan sangat memberi pengaruh kepada Fina terutama dalam memberi sebuah dukungan dan motivasi untuk dapat menerima kenyataan serta mengikhlaskan sesuatu. Cobaan itu adalah sesuatu yang menghambat kehidupan kita dan cobaan itu juga yang mengajarkan kita untuk bisa selalu bersabar, kuat dan tegar dalam menjalani hidup yang tak mudah ini. Sebuah cobaan apabila kita hadapi sendiri maka akan terasa berat bahkan dapat melahirkan sebuah keputus asaan tetapi, andai kata sebuah cobaan dihadapi dengan bersama terutama dengan orang-orang yang kita cintai seperti teman, kekasih dan keluarga kita tentunya akan terasa lebih ringan. Hidup itu harus selalu peduli dengan orang lain, kita menolong seseorang tidak hanya kepada seseorang yang kita kenal saja, tetapi juga orang lain di luar sana  yang tidak kita kenal pun harus wajib kita tolong.

minato

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s