sesuatu Yang Terkesan Di Mata Seorang Kekasih

Segmen 29
“Sesuatu Yang Terkesan Di Mata Seorang Kekasih”

       Percikan air membersihkan piring-piring yang kotor nampak Clara sedang sibuk membantu ibunya berjualan, di belakang warungnya Rico sedang asyik main kelereng dengan teman-temannya. Clara pun berhenti sejenak ketika dilihatnya sabun cuci piring di dalam botol sudah habis dan bergegas Clara keluar dari warungnya menuju pintu belakang “Rico, ke sini sebentar” ucap Clara. “Iya kak, ada apa?” jawab Rico.
Clara: sabun cuci piringnya habis, tolong kamu beliin di warung sana ya (memberikan uang kepada Rico)
Rico: iya kak,,, sabun ya sunlight itu kak? (tersenyum)
Clara: iya…(kembali ke dalam warung)

       Pada siang hari itu pembeli sangat ramai karena menu masakannya bu Santi yang enak, warung ibu Santi sudah berdiri cukup lama-lama kira-kira 2 tahun lebih setelah ayah Clara meninggal dan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga itu akhirnya ibu Santi mendirikan sebuah warung dan sampai saat ini warungnya semakin laris. Beberapa menit kemudian Rico datang dengan membeli sabun pesanan Clara dan Clara melanjutkan mencuci piringnya. “Alhamdulilah ya Clara warung kita semakin ramai” kata bu Santi sambil melihat Clara mencuci piring. “Iya bu, syukuri saja yang ada sekarang” sibuk mencuci piring. Selang waktu kemudian waktu menunjukan pukul 4 sore itu menandakan warungnya akan segera ditutup. Sore hari itu memang terasa sedikit beda, terasa lebih cerah dari biasanya, dari warung Clara dan bu Santi sedang sibuk membereskan warungnya.
       Di depan halaman rumahnya bu Risma sedang menyirami bunga-bunga kesayangannya, dari kecil bu Risma memang menyukai bunga baginya bunga adalah sesuatu yang indah, mulai dari bunga anggrek, melati, sepatu, mawar dan masih banyak lagi koleksi bunga yang dimiliki bu Risma. Dari pintu gerbang terdengar suara motor, itu adalah Vino yang baru pulang dari rumah Kelvin dan bergegas bu Risma membukakan pintu gerbang untuk Vino lalu bu Risma berkata dengan Vino “dari mana saja Vin, kok baru pulang” sambil memandang Vino. “Vino, tadi pulang kuliah langsung buat tugas mah di rumah Kelvin dengan teman-teman Vino yang lain juga” ucap Vino.
Bu Risma: oh begitu…..ya sudah kamu makan dulu sana gih (menutup pintu gerbang)
Vino: iya mah (tersenyum)

       Di teras rumahnya, Pak johan sedang membaca koran lalu bertanya kepada Vino “dari mana saja anak ayah yang ganteng?” kata Pak Johan . “Vino, dari rumah Kelvin yah” ucap Vino dengan senyum.
Pak Johan: oh iya… gimana kabar Clara (memandang Vino)
Vino: kabarnya baik kok yah (duduk di samping ayahnya)
Pak Johan: kok sekarang kamu jarang main sama dia (sambil membaca koran)
Vino: iya sich yah,,,sekarang Vino jarang main sama dia soalnya banyak tugas kuliah kok yah,,,paling ketemu juga kalau di kampus saja (melihat bu Risma yang sedang menyirami bunga)
Pak Johan: oh..paling nggak kamu harus bisa menyempatkan waktu untuk dia,,,buat tugas kuliah kan nggak setiap hari…wanita itu butuh perhatian,,kayak ayah sama mama kamu dulu (tersenyum)
Vino: memangnya ayah dulu romantis (tersenyum)
Pak Johan: romantis sich nggak..cuma ayah selalu memberi perhatian untuk mama kamu….jadi, wanita itu seperti dipedulikan begitu….
Vino: oh begitu ya yah….Vino mau tanya sedikit nie yah..biar seseorang yang kita cintai semakin cinta dengan kita gimana itu yah? (tersenyum)
Pak Johan: beneran kamu ingin tahu (tersenyum)
Vino: iya dong yah (rasa yang penasaran)
Pak Johan: bahagiakan seseorang yang penting di mata Clara selain kamu…..
Vino: (berpikir sejenak) keluarga Clara yah….
Pak Johan: ya benar sekali Vin (membereskan koran)
Vino: (tersenyum) akhirnya Vino tahu yah…makasih ya yah…
Pak Johan: (tersenyum) ya sudah kamu mandi dulu terus jangan lupa makan (masuk ke dalam rumah)
Vino: ok! yah…(tersenyum)

       Vino tahu apa yang seharusnya dia lakukan dan hanya menunggu waktu yang tepat, di dalam benak Vino sudah ada rencana untuk membahagiakan keluarga Clara. Pada malam harinya Vino menuju rumah Clara sambil membawakan martabak telor kesukaan ibu Santi. Di ruang tamu Clara sedang membantu adiknya belajar. “Rico, kamu baca dulu cerita ini baru kamu bisa menjawab pertanyaan dibawah ini” kata Clara. “Oh begitu ya kak, ya sudah Rico baca” jawab Rico. Di saat sedang menemani adiknya belajar, Vino datang dengan membawa makanan. “Eh kamu Vin, kok nggak bilang kalau kamu mau ke sini” ucap Clara dengan senyum manis.
Vino: ya biar surprise saja (tersenyum) kamu lagi apa Clara?
Clara: ini lagi ngajarin Rico belajar bahasa Indonesia, masuk Vin (mempersilahkan Vino masuk)
Vino: ya sudah terusin saja (tersenyum)
Clara: Rico, kan sudah kakak beritahu cara jawabnya tadi, Rico belajar sendiri dulu ya (tersenyum dengan Rico)
Rico: iya kak….(berkata dengan Clara) kak Vino, Rico belajar di dalam dulu ya (berkata dengan Vino)
Vino: iya….belajar yang pinter ya Rico (tersenyum)
Rico: (hanya tersenyum)
Vino: ini sayang,,,,ada martabak telor untuk ibu kamu (memberikan kepada Clara)
Clara: wah..repot-repot amat Vin…makasih ya Vin…(wajah yang senang)
Vino: iya sama-sama…(tersenyum)
Clara: oh iya Vin…gimana kabar keluarga kamu? (tersenyum)
Vino: alhamdulilah baik….warung ibu kamu semakin laris tow (tersenyum)
Clara: alhamdulilah Vin…tadi, siang pembelinya ramai
Vino: ya syukurlah (memandang Clara)
Clara: ya sudah tunggu bentar Vin..aku buatin minum….(menuju ke dapur)
Vino: iya sayang….
       Di dalam rumahnya Clara memberikan martabak telor dari Vino untuk ibunya “bu, ini ada martabak telor dari Vino” kata Clara sambil memberikan martabak ke ibunya. “Kok repot-repot amat” kata bu Santi sambil berjalan menuju ruang tamu.
Bu Santi: nak Vino, kok repot-repot amat bawain ibu makanan (tersenyum)
Vino: iya nggak apa-apa bu (tersenyum)
Bu Santi: makasih ya nak Vino…(tersenyum)
Vino: iya bu sama-sama (tersenyum)
Clara: (membawa minuman untuk Vino) ini Vin minumnya…
Bu Santi: (masuk ke dalam)
Vino: iya Clara…oh iya Clara, aku minta maaf ya kalau aku jarang ada waktu untuk kamu (memegang tangan Clara)
Clara: iya Vin, aku bisa ngertiin kamu kok,,sekarang kan banyak tugas kuliah….(tersenyum)
Vino: makasih ya sayangku…kamu selalu bisa ngertiin aku (mencubit hidung Clara dengan lembut)
Clara: ya sudah diminum Vin….(tersenyum)
Vino: iya ini aku minum sayangku…….(minum sirup buatan Clara) oh iya warung kamu setiap hari apa tutupnya Clara…?
Clara: tutupnya ya hari minggu Vin,,,emang kenapa Vin?
Vino: oh…begini…aku pengen ngajak ibu kamu dan Rico main ke candi Borobudur (tersenyum)
Clara: (hati yang sangat bahagia) dalam rangka apa Vin? (bercanda)
Vino: nggak dalam rangka apa-apa…kan, aku tahu ibu kamu jarang ke mana-mana hanya sibuk jualan….pasti kan ibu kamu butuh sesuatu untuk menyenangkan hati dirinya (tersenyum)
Clara: makasih ya Vin…kamu baik banget (mata yang berkaca-kaca)
Vino: kan, sudah sewajarnya aku juga nyenengin hati orang tua kamu….aku kan kekasih kamu atau calon suami kamu (membelai rambut Clara)
Clara: (tersenyum) iya Vin……ya sudah aku panggilkan ibu dulu…biar kamu bisa bicara langsung dengan ibu (tersenyum)
Vino: iya Clara………..
       Kemudian ibu Santi menghampiri Vino.
Bu Santi: mau bicara apa dengan ibu nak Vino? (duduk di sebelah Vino)
Vino: iya begini bu..katanya Clara warung ibu kan tutup pada hari minggu….
Bu Risma: iya (tersenyum)
Vino: rencananya saya, mau ngajak ibu, Rico dan Clara pergi ke candi Borobudur….begitu (tersenyum) gimana mau nggak bu..?
Bu Santi: apa nggak tambah ngrepoti nak Vino (tersenyum)
Vino: nggak apa-apa bu….kan, pengen nyobain main bareng dengan ibu, Rico dan Clara (tersenyum) nanti pakai mobil saya kok bu….
Bu Santi: kalau kayak begitu..terserah nak Vino saja…memangnya sudah bilang sama ayah nak Vino, mau pakai mobil (tersenyum)
Vino: sudah kok bu….ayah saya malah nggak keberatan sama sekali….justru senang, lihat anaknya bisa nyenengin orang lain (tersenyum)
Clara: (memandang Vino dan ibunya)
Bu Santi: (tersenyum)
Vino: besok saya jemput jam 9 ya bu….(tersenyum)
Bu Santi: iya nak Vino…sebelumnya ibu ngucapin terima kasih banyak….
Vino: iya bu…sama-sama,,,kalau begitu saya pamit pulang dulu ya bu..sudah jam 9 soalnya….biar besok juga bisa bangun pagi (tersenyum)
Bu Santi: iya nak Vino…hati-hati di jalan (bersalaman dengan Vino)
Vino: iya bu….(tersenyum)
Vino: mari Clara (tersenyum)
Clara: iya Vin..nggak usah ngebut-ngebut malam begini (tersenyum)

       Vino pulang dengan perasaan yang bahagia, dia berharap mudah-mudahan besok cuaca mendukung. Sesampai di rumah, Vino langsung tidur karena rasa kantuk yang tak tertahan. Kamar yang gelap disertai nyala kipas angin Vino tertidur lelap dengan jaket yang masih melekat pada bajunya.
       Suara adzan subuh yang berkumandang membangunkan Vino dari tidurnya cepat-cepat dia mengambil air wudhu untuk segera pergi ke mushola dekat rumahnya. Setelah sholat subuh berjamaah dia mempersiapkan segala sesuatu untuk dibawanya ke obyek wisata candi Borobudur bersama dengan Clara dan keluarganya. Di laci kamarnya dia mengambil sesuatu, itu adalah kamera Vino satu-satunya “bawa kamera ahh, buat kenang-kenangan di sana” kata Vino. Pintu kamar Vino yang terbuka menarik perhatian Pak Johan untuk masuk “nyari apa Vin” kata Pak Johan. “Ini yah, Vino mau bawa kamera buat foto di sana” kata Vino sambil melihat-lihat kameranya.
Pak Johan: oh..ya sudah ini kunci mobilnya…salam buat ibu Clara (tersenyum)
Vino: iya yah,,nanti Vino sampaikan (tersenyum dan menerima kunci mobil)
Pak Johan: kamu mau berangkat jam berapa? (memandang kamar Vino)
Vino: jam 9 kok yah…masih lama,,emang kenapa?
Pak Johan: nggak apa-apa….kamu masih punya uang kan di dompetmu (tersenyum)
Vino: masih kok yah..tenang saja…..(tersenyum)
Pak Johan: ya sudah…ini ayah kasih uang buat beli bensin 200 rb (mengambil uang dari dompetnya)
Vino: makasih yah…(menerima uang dari ayahnya)
Pak Johan: oh iya hampir lupa….mobilnya tolong kamu panasin dulu ( keluar dari kamar Vino)
Vino: iya yah,,,Vino panasin sekarang (keluar dari kamarnya)

       Vino menuju ke garasi mobilnya, dari arah dapur Bu Risma bertanya kepada Vino “makan dulu nak, ini sudah mama masakin ayam goreng kesukaan kamu”. “Bentar mah, Vino mau manasin mobil dulu taruh dulu di meja makan” berjalan menuju garasi depan. Waktu menunjukan pukul 8 pagi, Vino sudah mempersiapkan semua dari manasin mobil, makan hingga menyiapkan segala sesuatu untuk di bawa ke Candi Borobudur. “Semua sudah beres tinggal mandi yang belum” kata Vino.
       Di teras rumah Pak Johan sedang asyik ngopi sambil baca koran dan ditemani Bu Risma yang duduk di sampingnya. “Ayah, kerjaannya sudah kelar kan” kata Bu Risma sambil memandang Pak Johan yang sedang baca koran.
Pak Johan: iya sudah..emang kenapa mah? (tersenyum)
Bu Risma: ini lho Yah…kemarin anaknya temannya mama masuk rumah sakit,,,,terkena DB katanya…
Pak Johan: maksud mama anak ibu Firly…(memandang bu Risma)
Bu Risma: iya…kalau ayah nggak ada acara nanti kan kita bisa ke rumah sakit…..
Pak Johan: oh iya jelas dong mah….kasian bu Firly ya mah,,,semenjak cerai dengan suaminya dia yang bekerja sendirian….
Bu Risma: iya yah,,,dengar-dengar biaya buat ke rumah sakit saja dia sedikit kesulitan….
Pak Johan: oh begitu….kita bisa bantu bu Firly,,tenang saja mah (tersenyum)

       Dari kamar Vino menuju ke pintu depan untuk berpamitan dengan orang tuanya “mah, yah Vino berangkat dulu ya” kata Vino sambil memakai jaket kesayangannya.
Pak Johan: ada yang ketinggalan nggak?
Vino: nggak kok yah ..Vino pergi dulu (mencium tangan ayahnya)
Vino: Vino pergi dulu ya mah (mencium tangan ibunya)
Bu Risma: ya sudah,,hati-hati di jalan nak….salam buat ibunya Clara (tersenyum)
Vino: iya mah (membuka pintu mobilnya)

       Beberapa menit kemudian, Vino menuju ke rumah Clara. Di rumah Clara dan ibunya sedang bersiap-siap malahan Rico sudah duduk di kursi ruang tamu dengan baju warna merah dan celana pendek sambil memandang keluar tiba-tiba terlihat mobil warna putih yang menuju ke rumahnya. “Wah, itu pasti kak Vino” sambil berjalan keluar rumah. “Kak, Vino” memanggil Vino dengan wajah yang berseri-seri.
Vino: iya Rico (keluar dari mobilnya) wah,,,Rico kok cakep bener (mengusap kepala Rico)
Rico: iya dong…adik siapa dulu (tertawa)
Vino: oh iya…ibu dan kak Clara sedang apa?
Rico: sedang pada di kamar lagi siap-siap kak (tersenyum) mobil kak Vino kok bagus banget….nanti Rico duduk paling depan ya (melihat ke mobil Vino dengan wajah yang gembira)
Vino: wah,,beres dech pokoknya sama kak Vino (tersenyum)

      Bu Santi dan Clara keluar dari dalam rumahnya.
Clara: sudah menunggu lama Vin (memasukan sesuatu ke dalam tasnya)
Vino: nggak…baru nyampai kok Clara….
Vino: bu..(bersalaman dengan Bu Santi) ya sudah,,bisa kita berangkat sekarang bu…
Bu Santi: iya nak Vino (tersenyum)
Vino: ya sudah mari bu…(membukakan pintu belakang mobilnya)
Rico: Rico…duduk depan ya kak Vino..
Vino: iya..ya sudah Rico masuk (membukakan pintu depan mobilnya)
Vino: kamu temani ibu kamu di belakang ya Clara (tersenyum)
Clara: iya Vin (tersenyum)
       Pagi yang indah dan cerah akhirnya mereka mulai berangkat menuju candi Borobudur. Jarak antara candi Borobudur dengan Yogyakarta kira-kira kurang lebih 40 km. Candi Borobudur terletak di Desa Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Candi ini merupakan candi Buddha terbesar kedua setelah Candi Ankor Wat di Kamboja dan termasuk dalam salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Ada beberapa versi mengenai asal usul nama candi ini. Versi pertama mengatakan bahwa nama Borobudur berasal dari bahasa Sanskerta yaitu “bara” yang berarti “kompleks candi atau biara” dan “beduhur” yang berarti “tinggi atau di atas”.
       Candi Borobudur merupakan salah satu peninggalan sejarah yang paling dikenal bahkan oleh masyarakat dunia. Bahkan popularitasnya melebihi kota Yogyakarta itu sendiri dan merupakan salah satu tempat paling menarik yang harus dikunjungi ketika sudah di Yogyakarta. Merupakan Candi Buddha dengan bentuk stupa. Kita akan mengenal kemegahan Candi Borobudur yang dibangun dengan luas dasar 123×123 meter dan tinggi 42 meter ini. Yang paling menarik dari Candi Borobudur, selain dari megah dan luasnya Candi ini, adalah mengenai danau purba yang masih menjadi perdebatan hingga sekarang. Ada beberapa arkeolog yang beranggapan bahwa asal mula Candi Borobudur dibangun di atas sebuah danau sehingga menyerupai teratai. Itu sedikit asal-usul mengenai candi Borobudur, kita kembali lagi ke cerita. 50 menit kemudian mereka sampai di Candi Borobudur, untuk alat transportasi di luar candi menggunakan becak.
       Untuk menuju ke sebuah candi mereka menggunakan transportasi becak. Di Candi borubudur mereka berjalan-jalan mengitarinya dan tak lupa Vino mengambil gambar sebagai kenang-kenangan lalu Vino berfoto-foto bersama dengan Clara, Rico dan Bu Santi. Mereka terasa sangat bahagia bisa berjalan-jalan dengan tempat yang menakjubkan itu. Canda dan tawa terselip diantara mereka, dikala itu Clara memang terasa sangat terkesan bisa melihat senyum ibunya dengan lepas, hati Clara pada waktu itu memang terasa sangat bahagia. Dan Clara berterima kasih banyak dengan Vino yang sudah membuat keluarganya bahagia dan nyaman. Semenjak, ayah Clara meninggal keluarga Clara sudah jarang bisa pergi ke suatu tempat bersama-sama namun, kini dengan adanya seorang Vino yang mampu mengubah itu semuanya. Mereka seperti layaknya satu keluarga bisa menerima dan saling melengkapi. Kebahagiaan ibunya sama halnya adalah kebahagiaan Clara juga. Vino juga merasa senang bisa berkumpul di tengah-tengah keluarga Clara tentunya Vino sangat mencintai mereka semua.
       Sekarang memang jarang kita bisa menemukan momen seperti itu, Kita harus banyak berbagi kebahagiaan agar orang lain juga dapat merasakannya. Tersenyum itu memang indah, bisa mengubah suasana menjadi tenang, nyaman dan damai. Itulah sesuatu yang terkesan di mata seorang kekasih, bahwa keluarganya ternyata lebih dari segalanya untuk menjadi segalanya kita juga harus dapat memberikan segalanya untuk orang yang dia (kekasih) cintai yaitu keluarganya. Hidup akan terasa indah jika kita saling membahagiakan bahwa sesuatu yang kita lakukan pasti akan mengandung makna dan arti untuk orang lain. Manusia itu adalah makhluk sosial yang artinya saling membutuhkan satu sama lain atau tidak bisa hidup sendiri selain itu manusia juga mempunyai sifat yang mementingkan kelompoknya seperti keluarga. Itu merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan dan mempunyai sebuah ikatan yang sangat kuat yang maknanya adalah apa yang dirasakan salah satu dari anggota keluarga kita akan terasa di kita juga. Maka, dari itu keluarga adalah nomor satu. Jadi, jika kita membahagiakan keluarganya maka, kita akan memperoleh kedudukan yang istimewa di dalam hatinya seorang kekasih

minato

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s