Satu Tindakan Seribu Makna

Segmen 18
“Satu Tindakan Seribu Makna”

       Di kala itu mereka berkumpul di rumah Vino untuk merencanakan suatu kegiatan. Kegiatan itu untuk melengkapi liburan kuliah mereka. Liburan kuliah mereka menyisakan waktu seminggu lagi dan mereka ingin memuaskan diri sebelum kuliah berangkat dan tugas-tugas kuliah semester nanti yang menunggunya. Dengan kondisi udara yang cukup sejuk ditambah suasana langit yang mendung, Vino, Clara, Kelvin, Kirana, Joni, Radit dan Faisal sedang asyik membicarakan misi terakhir untuk melengkapi waktu liburan. Mereka berbagi ide untuk menentukan tujuan ke mana mereka akan melakukan misi terakhir itu. Tak lama kemudian, Vino mendapatkan sebuah ide yang cemerlang. “Bagaimana kalau kita berkemah saja teman-teman” kata Vino.
Kelvin: wah…ide yang bagus Vin,, (tersenyum)
Radit: aku sih setuju saja…tapi, peralatan kemahnya kita dapat dari mana Vin..(berpikir)
Vino: oh,,,masalah itu…kita pinjam saja peralatan untuk kemah di SMA ku dulu …
Clara: iya Vin…kita bisa pinjam di sana (memandang Vino)
Faisal: ok! berarti kita semua setuju kan dengan ide Vino…iya kan Jon (berkata dengan Joni)
Joni: aku setuju saja….
Kirana: (hanya tersenyum)
Vino: kok tersenyum Kirana…kamu juga setuju kan,,,
Kirana: iya jelas dong Vin…apalagi kalau ada Kelvin (tersenyum)
Vino: ahh,,,kamu ada-ada saja (tertawa)
Clara: berarti kita harus pinjam peralatan kemahnya dua dong Vin…
Vino: iya dong…cewek dan cowok kan harus terpisah (tersenyum)
Kirana: betul itu…itu baru cowoknya Clara (tertawa)
Clara: (tersenyum) iya dong….kan, Vino calon pendamping hidupku..(nada bercanda)
Vino: ahh kalian bikin aku malu saja (tersenyum)
Joni: malu-malu tapi mau (tertawa)
Vino: yang penting nggak malu-maluin ..iya nggak Clara (tersenyum)
Clara: iya (tersenyum manis)
Kelvin: oh iya Vin..kita berangkatnya pakai mobilku saja…kan kita bertujuh…cukuplah..
Vino: ya sudah nggak apa-apa..yang penting nggak ngrepotin kamu…
Kelvin: tenang saja men ..(memandang Vino)
Radit: biar semakin kompak kita iuran saja untuk kebutuhan di sana dan untuk beli bensin juga….gimana?
Joni: wah …sip,,,ya memang kita harus iuran (tersenyum)
Vino:0k! untuk bekal kita serahkan pada Clara dan Kirana biar mereka yang merencanakan apa saja yang ingin dibawa dari makanan, obat-obatan dan lain sebagainya….biasanya naluri cewek sangat tepat (tersenyum)
Kelvin: betul Vin..mereka yang berbelanja untuk bekal kita di sana…(tersenyum)
Vino: mungkin,tugas kita ya pinjem tenda dan menyiapkan peralatan untuk kemah…terus, biar nggak terjadi apa-apa…mobil kamu sebelum kita berangkat tolong dicek…apakah ada kendala atau tidak..?
Kelvin: ok!! siap…(tersenyum)
Faisal: untuk tempat kita berkemah mau di mana Vin?
Vino: ya di perbukitan dekat pemukiman penduduk…agar kita kalau ada apa-apa bisa minta tolong kepada penduduk sekitar..
Joni: bagus..serahkan semua pada Vino..dia bisa memperkirakan segala sesuatu yang terbaik untuk kita semua (tersenyum)
Vino: makasih Jon…kita berangkat besok lusa ya..berarti dua hari lagi…dan jaga kondisi kalian semua….
Joni: baik Vin….

       Mereka pun akhirnya benar-benar mempersiapkan untuk kemah nanti. Mereka tahu apa yang harus mereka lakukan karena mereka saling mengerti satu sama lain dan mereka bisa menghargai sebuah pendapat teman-temannya yang lain. Persahabatan akan lebih berjalan dengan baik apabila saling menghargai satu sama lain. Tentunya harus ada sebuah kasih sayang yang tak terputus. Dengan adanya kasih sayang pasti kita akan membantu kesulitan teman-temannya dengan setulus hati dan sepenuh hati.
      Keesokan harinya Vino mengajak teman-temannya untuk meminjam tenda di sekolahan Vino dulu karena Vino waktu di sekolah dulu dikenal baik dan aktif dalam kegiatan akhirnya kepala sekolah mengijinkannya untuk meminjam dua tenda dan memberi sebuah kepercayaan serta tanggung jawab kepada Vino. Sebuah kepercayaan dan tanggung jawab itu adalah sebuah keharusan dan harus dijalankan dengan sebaik-baiknya. Pada dasarnya sebuah kepercayaan timbul dari sebuah tanggung jawab, kita tahu bahwa sebuah tanggung jawab tidak bisa didelegasikan maka dari itu akan muncul sebuah kepercayaan. Di samping itu, kejujuran adalah hal yang ke dua timbulnya sebuah kepercayaan jadi, tanggung jawab dan kejujuran akan menghasilkan sebuah kepercayaan.
       Cuaca yang sangat panas, mendorong mereka untuk berhenti sejenak membeli minuman di warung. “ayo men, kita beli minuman dulu” kata Vino sambil mengajak turun teman-temannya dari dalam mobilnya. Mereka pun akhirnya sedang santai dan menikmati minumannya di sebuah warung. “Kenapa ya Vin, cuaca di dalam bumi kita semakin panas” kata Kelvin kepada Vino.
Vino: ya sebenarnya banyak faktor sih Vin,,, seperti berdirinya pabrik-pabrik nantinya akan mengeluarkan asap dari dalam cerobongnya, asap rokok, asap kendaraan, efek rumah kaca juga berpengaruh sehingga lapisan atmosfir kita semakin menipis….
Joni: dan panas matahari akan semakin leluasa menembus lapisan atsmosfir itu..dan tanpa perlindungan yang kuat dari lapisan itu,,,menjadikan panas yang timbul langsung mengenai bumi…
Faisal:kalau itu dibiarin terus…es kutub lama-lama bisa mencair dan bumi kita bisa tenggelam….
Kelvin: wah..naluri kelompok kalian keluar (tertawa) hanya aku saja yang nggak tahu apa-apa (tersenyum)
Vino: kata siapa..sekarang kan kamu jadi tahu (tertawa)

       Tiba-tiba si penjual menyela perbincangan mereka.
Penjual: wah…kalian kayaknya akrab bener (memandang mereka)
Kelvin: iya ini mbak….kita itu mengutamakan kepentingan kelompok (tertawa)
Joni: bahasamu…resmi bener Vin (tertawa)
Penjual: pertahankan hubungan seperti ini….btw kalian pasti sudah punya cewek semua ya…kelihatan muka kalian cakep-cakep (sedikit genit)
Radit: kata siapa mbak…buktinya aku jomblo (bercanda)
Faisal: aku juga jomblo mbak (tertawa)
Vino: lho…kok sama-sama ngaku jomblo…emangnya acara take me out (tertawa)
Faisal: hanya sekedar memberitahu Vin…(tertawa)
Penjual: kalian ada-ada saja….pinter nglucu kalian…
Vino: kan biar awet muda mbak….senyum itu ibadah..(tersenyum)
Penjual: tapi jangan senyum-senyum tanpa sebab..nanti dikira orang gila (tertawa)
Vino: ahh…mbaknya juga lucu kok…(bercanda)
Joni: kita itu minum atau berteduh ya….masak minum minuman sampai setengah jam (tertawa)
Joni: oh iya…maaf nggak terasa mbak..aku kira baru 10 menit (tersenyum)
Vino: ya sudah..ayo kita cabut….ini uangnya mbak…makasih ya mbak….(sambil membayar)
Penjual: iya sama-sama….sering-sering mampir ke sini…
Radit: oh,,pastinya mbak,,,(bercanda)

       Dalam perjalanan pulang mereka selalu bercanda. Semua itu ada waktunya masing-masing, disaat kita dituntut serius, kita juga harus serius bahwa sebuah percandaan hanya untuk menyegarkan pikiran yang jenuh akibat dari masalah-masalah yang setiap hari kita hadapi. Sebenarnya hidup itu sederhana apabila kita bisa pandai menyikapinya dengan bijak, hati-hati dan sabar.
       Vino pun akhirnya mengantar pulang sahabatnya ke rumah masing-masing, hari ini Vino merasa senang karena Vino memiliki sahabat-sahabat yang membuat hidupnya semakin istimewa dan berwarna. Banyak orang-orang disekitar kita yang dianggap penting, namun apakah kita sudah membuat mereka bangga atau senang? dalam membahagiakan orang yang kita cintai tidak harus diawali dengan memberi sesuatu tetapi tunjukanlah kepada mereka bahwa kita bisa hidup dengan baik dan berguna bagi orang lain. Dan itu semua dapat kita dapatkan dari sebuah cobaan seperti sebuah ketangguhan diawali dari sebuah kekalahan, cinta diawali dari sebuah pandangan, kejujuran diawali dari sebuah kenyataan dan yang terpenting adalah moral karena moral mencerminkan tingkah laku kita. Dengan kata lain, kepribadian yang baik diawali dengan sebuah perkataan dan pikiran yang positif.
       Burung pipit bernyanyi di dekat jendela kamar Vino. Vino pun terbangun dan langsung melihat ke  arah sebuah jam, ternyata sudah jam 6 Vino bergegas untuk siap-siap untuk pergi kemah dengan teman-temannya. Hari ini cuaca sangat cerah dan langit menunjukan warnanya yang biru muda, hari yang indah diawali dengan cuaca yang cerah. Vino pun tak lupa dengan segala sesuatu yang harus dia bawa mulai dari pakaian, perlengkapan dan peralatan untuk mandi dan lain sebagainya. Untuk keamanan karena di sana tak ada listrik Vino membawa power bank untuk mengecas hpnya dan teman-temannya. Semuanya pun sudah siap tak lupa Vino berpamitan dengan ibunya sambil menunggu Kelvin dan teman-temannya menjemputnya. Beberapa menit kemudian Kelvin dan teman-teman datang dengan membawa mobil Toyota terios. Akhirnya pun mereka berangkat, jarak tempat kemahnya cukup jauh kira-kira 60 km dari Yogyakarta. Di dalam mobil mereka bernyanyi dengan membawa gitar sambil menunggu sampai tujuan, banyak hal-hal yang dilalui mereka dari pemandangan alam sampai keramaian kota yang indah. Dua jam kemudian mereka berhenti, dan Vino memandang keluar jendela “ini tempat yang cocok untuk kita membuat tenda” kata Vino sambil keluar dari dalam mobil Kelvin. Keadaan alam di sana cukup indah dan banyak para pedagang serta sebelahnya pemukiman warga. Di sana juga terdapat mata air yang indah, ada musola dan kamar mandi umum. Mereka sangat senang dengan tempat kemahnya. Waktu menunjukan pukul 9 pagi, saatnya Vino dan teman-temannya mendirikan tenda. Semua sudah mereka siapkan dan rencanakan sehingga tak ada kendala dan semuanya berjalan dengan lancar. Bahwa hidup itu harus diawali dari sebuah rencana dengan rencana kita bisa menata kehidupan kita dan lebih siap dalam menjalani sebuah kehidupan yang tak dapar diperkirakan dan penuh resiko. Tendapun akhirnya sudah selesai mereka dirikan, sebelumnya mereka juga sudah minta izin kepada penduduk sekitar untuk berkemah ke area itu. Untuk melihat kondisi area berkemah mereka, mereka berjalan-jalan sambil melihat pemandangan yang indah. “Pemandangan yang indah ya Vin” kata Clara kepada Vino.
Vino: iya sayang..semuanya masih terlihat alami (tersenyum kepada Clara)
Clara: iya mungkin, jarang dimasuki oleh manusia…..tempat ini juga cocok untuk tempat kemah kita.. (memandang Vino dengan mesra)
Vino: btw kamu sudah minta izin belum tadi sama ibu kamu…(memetik bunga)
Clara: ya sudah dong Vin….
Vino: ya bagus lah….kamu di sini nggak usah takut ya sayang…aku pasti kan selalu menjaga kamu kok (memegang tangan Clara)
Clara: makasih ya Vin,,,aku senang bisa selalu dekat denganmu (memandang Vino)
Vino: ini bunga untuk kamu sayang….(tersenyum)
Clara: makasih ya Vin…(tersenyum)
Vino: ya sudah sini…aku pakaikan di telingamu…..(memakaikan bunga di telinga Clara) wah…kamu terlihat anggun Clara (tersenyum)
Clara: kamu bisa saja Vin…(sedikit malu)
Vino: ya sudah yuk…kita gabung teman-teman di sana..(tersenyum dan menggandeng tangan Clara)
Clara: ayo…(tersenyum)

       Mereka akhirnya berkumpul di tenda, mereka sangat ceria dan senang. Pemandangan di sana memang begitu indah yang mampu melahirkan kenyamanan diantara mereka. Tidak terasa matahari mulai tenggelam untuk mengisi kesunyian di sana, mereka bernyanyi-nyanyi ditemani dengan lantunan suara gitar dan api unggun untuk menghangatkan suasana. Begitu terlihat kasih sayang diantara mereka, dunia terasa damai. Kantuk pun tak kuasa mereka tahan, akhirnya mereka tidur ditenda masing-masing. Dengan nyala api unggun yang masih berkobar.
       Tetesan embun sebelum cahaya, memberi hawa dingin pada pagi hari itu. Satu persatu mereka mulai terbangun. “Ya sudah sana kalau kalian pada mau mandi dulu” kata Vino.
Kelvin: sana Kirana kamu mandi dulu saja (tersenyum)
Vino: ya benar cewek dulu yang mandi…tapi, nanti habis mandi tolong masakin buat para cowok (bercanda)
Kirana: ok!! sip dah pokoknya,,,(tersenyum)
Clara: ayo…kirana,,,,(sambil membawa pelengkapan mandi)
Kirana: ayo……
Radit: oh ya Vin…kamu bawa power bank nggak…hpku mati …(menunjukan hpnya yang mati)
Vino: itu bawa…ambil saja di tasku (menunjukan tasnya)

       Joni pun, sedang asyik smsan dengan kekasihnya Tiara yang ada di Jakarta. Biasa sekedar menanyakan keadaannya. Tiba-tiba Faisal berkata “Jon, sepupunya Radit itu pacar kamu”.
Joni: iya…emangnya kenapa?
Faisal: wah…berarti yang jomblo hanya aku dan Radit saja dong (bercanda)
Joni: (tertawa) halah nggak usah dipikir,,,kebahagian datang tepat pada waktunya….yang terpenting kita sebagai cowok itu…harus berubah menjadi pribadi yang baik dulu…disaat kita punya pacar,,jadi, kita bisa mengarahkannya ke hal-hal yang positif….(tersenyum)
Faisal: ok!! memang benar katamu Jon (tersenyum) sudah berapa lama Jon…
Joni: baru seminggu Sal….biasa long distance (tersenyum)
Faisal: wah…kalau begitu…kamu dan dia harus bisa saling percaya dong…apa yang kamu dilakukan di sini…dan dia lakukan di sana
Joni: ya memang harus begitu….(tresenyum)
Faisal: ya mudah-mudahan sahabatku ini hubungannya langgeng dan sampai nikah,,,
Joni: amin..makasih men atas do’anya..(memandang Faisal)

       Beberapa saat kemudian Clara dan Kirana kembali ke tenda “ya sudah..sekarang giliran kalian yang mandi aku dan Kirana yang masak” kata Clara kepada teman-temannya.
Vino: ok! sayang….ya sudah ayo guys kita merapat (bercanda)
Kelvin: ok,,,,(sambil membawa perlengkapan mandi)
       Vino, Kelvin, Radit, Joni dan Faisal pun mandi secara bergantian sedangkan Clara dan Kirana sedang sibuk memasak dan merebus air. Waktu menunjukan pukul 8 pagi mereka semua sudah selesai mandi dan sarapan. Tetapi mereka tak ingin di tenda terus, mereka memutuskan untuk jalan-jalan di pemukiman penduduk. Disaat perjalanan, mereka kaget banyak anak-anak yang nggak sekolah dan banyak penduduk yang sedang mengumpulkan barang-barang bekas yang dipungut dari pinggir jalan. Mereka semakin penasaran, dan lebih dalam memasuki pemukiman itu. Dari kejauhan di suatu tempat banyak berkumpul anak-anak dan ibu setengah baya seperti sedang menerangkan sesuatu dan mereka pun mendekatinya ternyata ibu itu sedang mengajar anak-anak yang tak mampu bersekolah. Sebenarnya tempatnya sudah tak layak pakai dan seperti papan tulis yang berlubang apalagi meja dan kursi yang digigit rayap. Pada waktu itu suasana memang sangat memprihatinkan. Dan Vino memberanikan diri untuk bertanya dengan sopan agar tidak mengganggu proses belajar mereka. “Maaf bu ganggu sebentar,,,kami dari anak-anak UGM kebetulan kami sedang mengadakan kemah non formal di area sini. Tak sengaja disaat kami sedang jalan-jalan kami melihat ibu sedang mengajar..kenapa mereka tak bersekolah saja“ kata Vino sambil memandang anak-anak yang sedang diajar. “oh perkenalkan nama saya bu Nita” sambil bersalaman kepada Vino dan teman-temannya.
Bu Nita: bentar ya anak-anak,,,kalian tulis yang bu guru terangkan tadi (sambil menunjukan ke papan tulis)
Bu Nita: silahkan duduk nak…. (mempersilahkan Vino dan teman-temannya)
Vino: sudah berapa lama mereka diajar oleh ibu,,,
Bi Nita: ya lumayan….gara-gara gempa di sini, banyak bangunan sekolah di sini yang roboh…bahkan, banyak tempat tinggal mereka yang tak layak huni…dan kebetulan saya di tugaskan sementara untuk mengajar di sini (tersenyum)
Vino: jadi mereka tak mampu lagi untuk bersekolah lagi bu,,,,
Bu Nita: iya…kebetulan jarak sekolah yang di kota jauh dari pemukiman sini..
Vino: oh…kenapa pemerintah tak memberi bantuan di sini bu….?
Bu Nita: iya…mungkin, gara-gara daerah sini sangat tertutup dan jauh dari jangkauan orang-orang (memandang anak-anak yang sedang menulis)

       Kemudian Vino dan teman-temannya mau memberi sedikit uang untuk kelancaran proses belajar mengajar dan untuk memperbaiki fasilitas yang ada.
Vino: ini bu,,,ada sedikit uang untuk ibu…tolong gunakan untuk kebutuhan mereka (memberikan uangnya)
Bu Nita: makasih banyak…ternyata kalian semua anak-anak yang baik (sedikit terharu)
Kelvin: tenang saja bu..sudah tugas kita membantu orang lain…bukankah, pendidikan itu adalah sebuah masa depan yang tak bisa ditunda….
Faisal: benar bu kata teman saya…untuk mendukung pendidikan kita juga harus menyediakan fasilitas yang memadai untuk mempermudah proses belajar mengajar (tersenyum)
Bu Nita: ibu tak tahu harus membalas apa …selain ucapan terima kasih dan rasa bangga …masih ada generasi muda seperti kalian yang baik dan peduli terutama dalam membantu dunia pendidikan…
Clara: iya bu…sama-sama…tidak cuma pemerintah yang membantu dalam dunia pendidikan…tapi kita semualah sebagai warga negara Indonesia yang mampu…yang wajib membantu pemerintah dalam memberikan pendidikan yang terbaik untuk mereka yang tak mampu….
Vino: iya bu,,,ini ada tambahan uang dariku….tapi, masih bentuk cek sebesar 10 juta…terimalah bu,,,untuk anak-anak yang di sana…(memberikan cek kepada ibu Nita)
Bu Nita: terima kasih banyak…apa yang kalian lakukan benar-benar sangat bermanfaat bagi kami (terharus dengan penuh rasa terima kasih)
Vino: iya bu…sama-sama (tersenyum)
Kirana: oh iya bu…boleh nggak bu hari ini..saya dan teman-teman ikut membantu mengajar mereka (tersenyum)
Bu Nita: justru ibu..sangat senang,,kalau kalian ikut bantu ibu mengajar..(tersenyum)
Joni: wah..asyik..ayo teman-teman kita ikut mengajar juga (tersenyum sambil memandang teman-temannya)

       Akhirnya mereka pun ikut membantu mengajar, mereka memberi yang terbaik untuk anak-anak di sana. Itulah yang dimaksud satu tindakan seribu makna. Dengan kita menolong orang lain, pastinya orang lain kan semakin terbantu apalagi dengan kita melakukan tindakan tadi seperti yang dilakukan Vino dan teman-temannya banyak makna yang didapat. Sebuah kabaikan pasti banyak memiliki makna, meski terkadang makna itu tak terlihat hanya orang-orang yang merasa tertolong yang dapat merasakannya. Dari satu tindakan tadi, dapat memberikan banyak dampak apabila kita lakukan dengan tepat dan terarah mungkin, dengan uang itu dapat mengubah masa depan anak-anak itu untuk berpendidikan dengan baik. Kelayakan saja belum tentu menjamin masa depan bangsa yang kita butuhkan sekarang kehidupan ke arah yang baik bukan layak lagi. Kita tahu materi atau uang yang membuat pendidikan jauh di atas rata-rata karena semakin lama biaya hidup menjadi mahal untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja susah apalagi untuk bersekolah yang jelas-jelas sebuah pendidikan sama halnya dengan masa depan. Coba kita lihat negara-negara yang mempunyai pendidikan yang maju seperti Jerman, bahwa di sana dari SD hingga SMA semua gratis hanya kuliah saja yang mengeluarkan biaya tetapi biaya kuliah di sana jauh lebih murah dari Indonesia. Jadi, di sana semuanya bisa sekolah tanpa memikirkan biaya sehingga penduduknya berpendidikan semua. Sehingga bisa menyesuaikan arus globalisasi dan teknologi yang akan menjadikan pola pikir yang maju. Tetapi, pajak di sana sangat besar yaitu 40% dari gaji yang diperoleh. Dari pajak itu memperoleh tunjangan berupa, kesehatan, dana pensiun dan lain sebagainya. Hidup akan menjadi tertanggung, walau nanti sudah tak bekerja lagi. Bahwa penduduk di Jerman memiliki rata-rata kekayaan yang hampir sejajar tak ada orang yang sangat kaya dan tak ada orang yang sangat miskin karena hasil pemungutan pajak sebesar 40% sehingga ekonomi seimbang. Sedangkan, di Indonesia perbandingan tingkat kekayaan dari orang ke orang terlalu signifikan, banyak orang yang sangat kaya dan banyak pula orang yang sangat miskin dan di sinilah terjadi ketidakseimbangan yang menyebabkan masalah ekonomi di negara kita maka dari itu, kita juga harus mencontoh sistem di negara lain. Dahsyat bukan, sudah siapkah kita seperti itu? hanya diri kalian yang bisa menjawab dan semua kembali pada diri kita masing-masing. Jangan ada lagi masalah untuk pendidikan apalagi yang tak bisa bersekolah. Tanamkan, prinsip ini “HIDUP UNTUK ORANG LAIN” dengan cara inilah kita bisa membantu orang lain secara maksimal tanpa melihat kondisi kita lebih baik atau tidak dari orang yang akan kita tolong nantinya.

minato

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s