Sebuah Kemenangan


Segmen 36
(lebaran)
“Sebuah Kemenangan”

Suara takbir bergemuruh di kota Jogja yang ramai itu, suara beduk dari masjid ke masjid mulai terdengar oleh mereka. Vino, Kelvin, Radit, Faisal, Joni, Clara, Fina dan Veronika tengah asyik berkeliling kota untuk melihat takbiran. Nyala kembang api dan petasan menambah kemeriahan malam takbiran itu, satu persatu mereka mulai mengumandangkan takbir sambil berada dalam mobil Vino. “Akhirnya besok kita lebaran juga ya kawan-kawan” kata Vino sambil mengendarai mobilnya, dengan nada penuh semangat Radit pun menjawab “iya Vin, terasa senang dan nyaman banget sekarang”.
Clara: (tersenyum) sekarang apa yang akan kita lakukan Vin?
Vino: (berpikir sejenak) gimana kalau kita berkunjung ke panti asuhan saja….
Veronika: ide yang bagus Vin…gimana kamu Dit?
Radit: jelas aku setuju dong dengan ide Vino,,iya nggak kawan-kawan (tertawa)
Kelvin: sip dah….(tersenyum)
Vino: ok! aku mau belikan mereka pakaian buat lebaran kasihan mereka belum bisa menikmati hidup secara baik….
Faisal: iya Vin..mereka kasihan juga, selama ini kan kita selalu makan enak, pakaian mewah dan mereka hanya menggunakan sebuah kelayakan saja…
Kelvin: hmmm kalau beli pakaian buat mereka jangan terlalu mahal Vin…yang murah tapi bagus, kan mereka di sana cukup banyak..
Joni: iya betul kata Kelvin (tersenyum)
Clara: kita mau ke panti asuhan mana Vin,,kan di Jogja banyak panti asuhan…
Vino: kita ke Panti Asuhan Al Mubarok saja,,untuk alamatnya di Pulihrejo Donokerto Turi Sleman (tersenyum)
Fina: kok kamu bisa tahu Vin,,,,kamu sering ke sana (tersenyum)
Vino: nggak,, biasa ayahku pernah jadi donator di sana (tersenyum)
Kelvin: memang kamu nggak beda jauh dengan ayah kamu Vin (tersenyum)
Clara: (tersenyum dan memandang Vino)
Vino: (tersenyum) kita beli pakaiannya di Malioboro saja ya kawan…terserah kalian mau belikan apa nggak harus selalu baju….
Fina: kira-kira di sana jumlah anak-anaknya berapa Vin?
Vino: setahuku sich 25 orang termasuk putra dan putri…ya sudah kita sudah sampai Malioboro, silahkan kalian mau belikan apa (tersenyum)

Mereka pun dengan sibuk membeli sesuatu untuk mereka, ada yang membeli celana, baju, makanan, dan lain-lain untuk di bagikan di Panti Asuhan itu. Satu jam telah berlalu setelah selesai berbelanja, mereka akhirnya menuju ke Panti Asuhan Al Mubarok. “Kamu membeli apa sayang” kata Vino kepada Clara yang duduk di sampingnya. “Aku beliin mereka jilbab Vin” sambil melihat jilbab yang tadi dibelinya.
Vino: oh…ya bagus dech (tersenyum)
Radit: aku lihat-lihat tadi, belanjaan kamu banyak banget Vin…beli apa saja kamu Vin..
Vino: aku beliin mereka baju dan celana (tersenyum), kamu sendiri apa Dit?
Radit: aku beliin mereka busana muslim,,,ya lumayan buat dipakai sholat besok (tersenyum)
Vino: oh iya…sebelumnya makasih banyak yang teman-teman sudah repot-repot bantu aku buat mereka….
Kelvin: ahh nggak masalah Vin,,untuk hal yang positif pasti kita berpartisipasi kok Vin…
Joni: tapi, anak muda jaman sekarang jarang banget seperti kita Vin…lihat saja di luar sana…
Vino: itu sich urusan mereka.. hidup itu hanya ada dua kemungkinan ke jalan yang baik atau ke jalan yang buruk sebagai manusia kita sudah berusaha mengingatkannya dan selanjutnya itu terserah mereka,,,yang terpenting kita melakukan hal ini dengan penuh ketulusan dan tanggung jawab..
Faisal: kita bersyukur Vin,,berada dalam pergaulan yang positif,,,,
Vino: sudah seharusnya Sal (tersenyum)
Tak sadar asyik mengobrol, mereka telah sampai di sebuah Panti Asuhan Al Mubarok. Sebelumnya mereka bertemu dengan pimpinan Panti Asuhan yaitu Bapak H. Bustanul Airifin.
Vino: assalamu’alaikum Pak Haji (bersalaman)
Haji Bustanul: wa’alaikum salam wr.wb…iya ada apa mas…?
Vino: sebelumnya mohon maaf ganggu pak haji kedatangan kami ke sini mau memberi sedikit sumbangan berupa pakaian, makanan dan lain-lain (tersenyum)
Haji Bustanul: alhamdulilah…silahkan duduk (berkata kepada mereka)
Kelvin: mohon maaf pak,,ganggu sebentar,,,bapak sedang ngurusin zakat fitrah ya?
Haji Bustanul: iya mas,,,tapi, ini barusan selesai…ngomong-ngomong kalian kok tahu ada Panti Asuhan di sini…
Vino: begini pak,,kebetulan dulu ayah saya pernah menjadi donator di sini dan banyak bercerita tentang Panti Asuhan Al Mubarok ini begitu pak (tersenyum)
Haji Bustanul: oh iya,,,kalau boleh tahu ayah kamu namanya siapa?
Vino: bapak Johan …(tersenyum)
Haji Bustanul: oh iya,,saya tahu…(menganggukan kepala)
Fina: anak-anaknya pada ke mana pak?
Haji Bustanul: mereka sedang ngrayain malam takbiran ..itu di mushola…
Vino: sebentar ya pak haji..saya ambil sumbangannya dulu (berkata dengan Haji Bustanul) ayo Kelvin, Radit, Joni, Faisal bantu aku nurunin belanjaannya…

Satu persatu belanjaan di turunkan, semuanya akan di berikan kepada anak-anak panti. “Karena keterbatasan, kami semua hanya mampu memberikan ini semua pak” kata Vino sambil memberikan barang-barang belanjaan.
Haji Bustanul: makasih mas dan mbak..kami sangat terbantu dengan apa yang kalian berikan,,semoga ini bermanfaat untuk anak-anak panti dan semoga kalian diberi rejeki yang melimpah atas apa yang kalian lakukan…
Vino: iya pak haji..sama-sama, karena ini waktu sudah malam kami pamit pulang ya pak haji…salam kami buat anak-anak panti (tersenyum)
Itulah yang bisa mereka lakukan untuk mengisi sebuah kehidupan agar selalu dalam ridho dan berkah-Nya. Memperjuangkan dan memberi kebahagian untuk orang lain adalah hal yang “keren”, peduli merupakan sebuah tindakan yang mencerminkan rasa belas kasih antar sesama dan dengan kepedulian kita bisa merasakan apa yang orang lain rasakan seperti, kepedihan, kesendirian, kesengsaran dan penuh segala kekurangannya.
Kini mereka telah cukup merasakan apa yang orang lain rasakan. Manusia itu seperti lambang Yin dan Yang yang berasal dari Cina artinya bahwa manusia itu tak sempurna di setiap kelebihan pasti terkandung kelemahan yang mengibaratkan ada banyak warna putih yang terdapat pada lambang Yin tapi, ada juga terdapat warna hitam meskipun itu kecil begitu juga sebaliknya.
Di dalam perjalanan Kelvin merasa rindu dengan Kirana, menyayangkan Kirana tak bisa merayakan malam takbiran bersamanya karena Kirana pulang kampung ke Semarang. Secara tidak langsung Kelvin mengirim kata-kata mutiara melalui pesan singkat untuk Kirana yang berisi :
“Ya Allah……
Perkayalah Kekasihku ini dengan keilmuan…
Hiasi hatinya dengan kesabaran….
Muliakan wajahnya dengan ketaqwaan…
Perindalah fisiknya dengan kesehatan…
Serta terimalah amal ibadahnya dengan kelipat gandaan….
Selamat hari lebaran , mohon maaf lahir Dan batin”.

Sebaliknya, Kirana juga mengirimkan kata-kata mutiara untuk Kelvin.
Jiwa Akan sepi Tanpa Kekasih..
Hati akan Mati tanpa Iman..
Hari ini adalah Kenyataan…
Kemarin adalah Kenangan…
Esok Adalah Impian..
Awali dengan Senyuman..
sucikan hati jernihkan Fikiran..
Untuk menyambut sebuah kemenangan..
MOHON MAAF LAHIR BATIN JUGA YA SAYANG”
Sampailah mereka pulang ke rumah masing-masing untuk istirahat dan mengerjakan sholat idul Fitri untuk besok pagi. Ayam berkokok dan matahari mulai terbit, Vino berangkat sholat idul fitri bersama ayah dan mamanya. Di masjid yang berbeda nampak para sahabat Vino juga ikut melaksanakan sholat idul fitri. Hari kemenagan pun tiba setelah menahan haus, lapar dan nafsu serta syahwat selama satu bulan penuh. Setelah mengerjakan sholat idul fitri, di sebuah ruang tamu nampak  Pak Johan dan Bu Risma sedang duduk manis, Vino akan meminta maaf kepada orang tuanya dengan penuh rasa hormat dan ketulusan serta tutur kata yang lembut, sopan dan penuh makna. Sebuah kondisi yang mengharukan dan juga menyenangkan, dari pintu depan banyak tetangga Vino yang berdatangan untuk bersilaturahmi di rumahnya. Pintu maaf terbuka dan kata maaf pun terucap “minal aidzin walfaizin” mohon maaf lahir dan batin. Setelah bermaaf-maafan Vino dan keluarga besarnya makan di ruang makan yang tertata rapi yang bermenu masakan opor ayam, sambal goreng hati dan tak lupa terdapat lontong dan ketupat.
Di rumahnya Joni sedang asyik bermain game di laptopnya seusai makan. Tiba-tiba datang seorang wanita yang cantik memakai jilbab, begitu kagetnya setelah Joni ke depan dan melihatnya. Itu adalah kekasihnya Tiara dari Jakarta dan berkata “maaf Jon, nggak memberitahu dulu” dengan senyum manis.
Joni: iya nggak apa-apa…ya sudah sini “sungkem” dulu sama aku (sedikit bercanda)
Tiara: minal aidzin walfaizin ya sayangku (tersenyum)
Joni: iya..aku juga minta maaf ya sayang (tersenyum) ya sudah ayo masuk…
Tiara: (masuk ke dalam) waduh, kok ramai Jon rumah kamu..
Joni: iya…tahun ini acaranya di rumahku begitu…berarti acara lebaran ini di rumah Radit ya Tiara…
Tiara: iya..makanya, aku bisa ke rumah kamu (tersenyum)
Joni: ya sudah..aku buatin sirup dulu tunggu bentar…di makan jajanya..
Tiara: iya Jon,,(tersenyum)

Dari dalam rumah, ibu Joni menghampiri Tiara.
Bu Ratih: eh,, Tiara kapan datang ke sini (bersalaman)
Tiara: barusan nyampai sini kok tante… minal aidzin walfaizin ya tante (tersenyum)
Bu Ratih: iya sama-sama…
Tiara: om ke mana tante…
Bu Ratih: om..keluar sebentar…nggak tahu ke mana (tersenyum)
Tiara: oh…(tersenyum)
Joni: (membawa minuman) ini minumnya Tiara…
Bu Ratih: ya sudah itu Joni..sudah datang, tante tinggal ke dalam dulu ya…
Tiara: iya tante (tersenyum)
Joni: oh iya Tiara…besok kita mau main ke pantai…kamu masih di sini kan…
Tiara: iya masih kok Jon…aku seminggu di sini…(tersenyum)
Joni: iya baguslah…aku kangen banget sama kamu…(memandang Tiara)
Tiara: aku juga kangen banget sama kamu Jon….btw puasa kamu full nggak ?hayo…
Joni: jelas full dong…(tersenyum)hmmm,,sudah makan belum?
Tiara: sudah…tadi, di rumah Radit..
Joni: ya sudah..habis ini aku dan teman-teman mau kumpul…sekalian aku mau ngenalin kamu sama teman-temanku…
Tiara: (tersenyum)

Hampir semua bisa berkumpul di hari kemenangan ini kecuali Kirana kekasih Kelvin yang masih di Semarang. Meskipun begitu, mereka tetap senang bisa ketemu dan saling memaafkan. Sebuah kebersamaan mampu menciptakan sebuah kebahagiaan, disela-sela itu Joni tak lupa memperkenalkan Tiara kepada teman-temanya agar menjadi dekat dan menjadi sebuah satu komunitas. Semua para sahabat Vino sudah memiliki malaikat kecil atau kekasih yang akan menjadi sebuah ikatan yang utuh dan kuat dalam mengarungi hidup yang membutuhkan kerja sama ini. Mereka memanfaatkan libur hari lebaran ini dengan sebaik-baiknya termasuk rencana besok ke Pantai Parangtritis. Dan Tiara pun menjadi akrab dengan teman-teman Joni, hari kemenangan yang mampu memperkuat kesatuan antara sesama manusia. Tentunya, cobaan dan hambatan akan menanti di kehidupan mereka kelak. Apakah sebuah cinta kasih dan persahabatan di antara mereka mampu bertahan?

minato

 

 

Kunjungi juga Tempat wisata di Semarang

Pencari Kayu Yang Tabah


Segmen 35
(Bulan Ramadhan)
“Pencari Kayu Yang Tabah”

       Ini adalah hari ke 25 puasa Ramadhan, terasa sangat cepat bagi Vino. Banyah hal-hal yang Vino dapatkan dari bulan puasa ini namun, hari ini Vino tak melakukan suatu kegiatan apapun. Vino hanya berdiam diri dan merenungi sesuatu, dalam hatinya berkata” terima kasih ya Allah engkau begitu memberikan kenikmatan yang sangat besar, engkau sudah memberi kesehatan untukku dan kenikmatan yang lain tiada batasnya” tiba-tiba salah seorang tetangga Vino datang “assalamu’alaikum” kata tetangga Vino. Lalu, Vino sedikit kaget dan tersadar dari lamunannya di teras rumahnya “wa’alakum salam, iya Pak Anwar ada perlu apa pagi-pagi sudah datang ke sini” ucap Vino dengan tersenyum.
Pak Anwar: maaf, nak Vino ganggu sebentar….begini bapak mau minta tolong?
Vino: iya..mau minta tolong apa pak (tersenyum)
Pak Anwar: bisa anterin bapak ke apotek, bapak mau nembus ini obat…..
Vino: iya..bisa pak, memangnya siapa yang sakit?
Pak Anwar: itu, si Wawan yang sakit…dia terkena penyakit asma….
Vino: oh..ya sudah mari langsung saya antar pak….

       Bergegas Vino mengambil motor di garasinya, dan menuju sebuah apotek terdekat. 10 menit kemudian sampailah mereka di sebuah apotek. Pak Anwar  turun dari motor Vino “tunggu bentar ya nak Vino” ucap Pak Anwar yang sedikit buru-buru. Setelah, cukup lama menunggu Vino berkata “mana obatnya pak”.
Pak Anwar: obatnya nggak ke beli (wajah yang murung)
Vino: kok bisa pak?
Pak Anwar: obatnya terlalu mahal nak Vino (sedih)
Vino: ya sudah…mana tembusan obatnya pak…

       Kemudian, Vino masuk ke dalam apotek “sungguh malang nasib Pak Anwar, obat asma memang sangat mahal sampai ratusan ribu, bagaimana apabila asma Wawan kambuh” ucap Vino dalam hati. Akhirnya, Vino yang membelikan obat itu dan Pak Anwar sangat berterima kasih kepada Vino. Vino, yakin pasti Pak Anwar bisa membeli obat asma suatu hari nanti apabila obat yang dibelikannya habis karena Pak Anwar sangat mencintai keluarganya bukan tak mungkin beliau berusaha keras untuk membeli obat si Wawan. Inilah mungkin, yang dinamakan sebuah cobaan dan kita harus bisa menghadapinya. Manusia itu diciptakan untuk bisa benar-benar bertahan hidup di dunia ini bagaimanapun itu caranya tetapi harus berpedoman dengan sebuah keberkahan dalam mencari rezeki. “From zero to hero” hidup itu adalah sebuah proses, berusaha dari nol sampai pada sebuah kesuksesan. Cobaan itu selalu ada, hidup memang untuk di coba atau diberi cobaan untuk mengetahui seberapa besar tingkat keimanan seseorang. Tentunya, masih sangat banyak orang yang kesusahan di dunia ini sebagai orang yang mampu kita wajib untuk membantunya. Ibarat sebuah perkataan “orang yang melanggar aturan memang sampah tetapi, orang yang hanya mementingkan tujuan hidupnya tanpa memandang orang-orang disekitarnya lebih rendah dari sampah” artinya kita hidup pasti punya tujuan dengan kata lain tujuan hidup kita adalah untuk jangka panjang agar kita bisa bertahan. Simbol di dunia itu Harta, Tahta dan Wanita memang, uang itu bukan segalanya tetapi, segalanya butuh uang. Jelasnya, seorang manusia pasti ingin kaya dan hidup mewah terkadang demi mencari kekayaan seseorang terus bekerja, bekerja dan bekerja tanpa memperhatikan keluarga bahkan orang lain, itulah yang disebut sampah. Orang-orang yang kaya dan bertahta belum tentu mulia sedangkan orang yang mulia adalah orang yang benar-benar peduli dengan orang lain meskipun dirinya miskin.
       Waktu menunjukan jam 12 siang, tiba-tiba Vino mendapatkan sms dari Kelvin yang maksud dari sms itu mengajak Vino untuk mengantar beras ke rumah saudara Kelvin yang sebenarnya lokasinya jauh. Mereka berangkat sambil mengendarai Honda Vario milik Kelvin dan kebetulan mobil mereka sedang dipakai oleh orang tuannya. 1 jam telah berlalu, akhirnya mereka sampai di sebuah desa terpencil. Kelvin memberikan sekarung beras untuk neneknya sudah kewajiban seorang anak membantu ibunya ikatan antara ayah Kelvin dengan neneknya. Setiap sebulan sekali pasti keluarga Kelvin mengirim sesuatu untuk neneknya mulai dari beras, makanan dan kebutuhan lain-lainnya. Nenek Kelvin hidup ditemani oleh paman Kelvin, mereka sudah 3 jam di sana dan memutuskan untuk pulang. Dalam perjalanan pulang, tidak disangka motor Kelvin berhenti “lho, kok motormu berhenti sendiri kenapa Vin” kata Vino dengan wajah yang cukup panik. Kelvin menjawab “waduh, sob aku lupa mengisi bensin”.
Vino: kayaknya masalah besar kita bukan kehabisan bensinnya sob (turun dari motor Kelvin)
Kelvin: maksud kamu Vin? (membuka jok motornya)
Vino: motor kamu kan injeksi..jadi, kalau bensinnya benar-benar habis memperbaikinya nggak bisa di bengkel sembarangan…harus di bengkel dengan teknologi komputer…
Kelvin: oh iya, aku benar-benar lupa…..nggak mungkin, kita dapetin bengkel seperti itu di desa seperti ini..kamu lihat saja disekitar, mobil angkutan saja jarang yang lewat…
       Di gubuk yang hampir hancur mereka berdua duduk di sana, waktu sudah menunjukan pukul setengah enam sore. Tidak ada satupun orang yang lewat untuk dimintai tolong.
Kelvin: maaf ya sob, gara-gara aku kamu menjadi seperti ini (wajah yang bersalah)
Vino: nggak apa-apa lagi Vin, justru aku kuatir sama kamu seandainya kamu ke sini sendirian (tersenyum) dengan keadaan seperti ini..
Kelvin: makasih ya Vin, kamu memang sahabat terbaikku (menepuk pundak Vino)
Vino: terpaksa kita bermalam di sini Vin…besok kita minta bantuan Faisal saja untuk mengirim mobil derek ke sini…
Kelvin: iya..ide bagus itu Vin…ya sudah buka puasa dulu Vin..ini sudah magrib (memberikan sebotol minuman)
Vino: iya…makasih sob….coba kamu lihat di sana, itu sepertinya ada sebuah rumah….(melihat ke arah rumah itu)
Kelvin: iya..ya sudah kita ke sana sekarang minta bantuan (mendorong motornya)

       Mereka memutuskan untuk menuju di sebuah rumah yang sangat sederhana terletak di pinggir sawah dekat jalan setapak. Di depan rumah itu, terlihat kakek dan nenek yang duduk di depan rumahnya. “Permisi kek” kata Kelvin.
Kakek: iya nak..motor kamu kenapa kok didorong (melihat motor Kelvin)
Kelvin: motor saya mogok kek…harus dibenerin di bengkel yang ada fasilitas komputernya (tersenyum)
Kakek: oh…ya sudah masukan ke dalam saja (mendekati Vino dan Kelvin)
Nenek: kalian pasti pada belum buka puasa…(tersenyum)
Vino: iya nek (sedikit malu)
Kakek: ya sudah..kalian buka dulu di sini..sekalian bermalam di sini…soalnya di sini sangat sepi dan berbahaya apabila kalian berdua melanjutkan perjalanan….
Nenek: iya nak…benar kata kakek, kemarin ada perampokan di seberang sana…
Vino: wah..daerah sini bahaya sekali ya nek….sebelumnya, terima kasih banyak yak nenek, kakek sudah ngizinin kami tinggal di sini (tersenyum)
Kakek: iya sama-sama…ya sudah kalian buka dulu sana,,,tapi, lauknya seadanya ya…nenek tolong antar mereka berdua ke dalam…
Kelvin: iya ..nggak apa-apa kek, kita sudah berbuka saja sudah bersyukur (tersenyum)

       Vino dan Kelvin cukup kaget dengan kondisi rumah kakek itu yang sebenarnya tidak layak huni, genteng yang berlubang dan kondisi kayu yang lapuk serta banyak nyamuk di rumah itu. Mereka sangat prihatin dengan kondisi kakek dan nenek itu. Setelah berbuka puasa mereka mandi lalu, mereka berkumpul Vino, Kelvin, Kakek dan Nenek. Di dalam rumah itu, mereka mengobrol dengan kakek dan nenek dengan ceria di wajah Vino dan Kelvin.
Vino: oh iya kek, kakek kerjanya apa?
Kakek: kakek, nyari kayu di hutan kok nak untuk di jual ke pasar
Kelvin: apa itu cukup kek buat kebutuhan kakek sehari-hari (sedih)
Kekek: sangat tidak cukup nak….
Vino: terus anak-anak kakek dan cucu kakek pada ke mana…
Nenek: mereka juga hidupnya susah seperti kami…dan akhirnya mereka memutuskan untuk merantau ke Jakarta (terbayang anak dan cucunya)
Kakek: iya nak..dulu mereka tinggal bersama kami karena kondisi di sini tidak memungkinkan untuk mencari uang..ya akhirnya, mereka ke Jakarta dengan suami dan anaknya..(mata yang berkaca)
Vino: oh..yang sabar ya kek, oh iya kek..bukannya di hutan banyak rotan yang bisa kakek manfaatkan buat kerajinan…
Kakek: tapi, kan kakek nggak bisa membuat kerajinan dari rotan…(tersenyum)
Kelvin: tenang saja kek, kan ada internet jadi nanti kami carikan cara pembuatan kerajinan dari rotan dan perawatannya kek…
Vino: ada pensil atau bolpen nggak kek..mau buat nyalin pembuatan kerajinan rotan dari hp ke kertas..
Nenek: ada nak, bentar nenek ambilkan dulu…..
Kelvin: benarkan kek, di hutan sini masih banyak rotan…
Kakek: iya masih banyak…gimana kalau besok kakek ajak ke hutan untuk mencari rotan…
Kelvin: kita setuju banget kek (tersenyum)
Kakek: kalian nggak apa-apa..puasa-puasa ke hutan, nanti kecapekan …
Vino: wah..nggak masalah kek kan kita mau bantu kakek….(tersenyum)
Nenek: ini nak, buku dan pensilnya (memberikan kepada Vino)
Vino: makasih ya nek, aku tulis semuanya yang ada di sini..tunggu bentar ya kek (mulai menulis)
Kelvin: besok kita ke hutan jam berapa kek?
Kakek: biasanya kakek ke sana jam 6…..
Kelvin: ok! kek…
       Mereka berusaha untuk membantu kakek itu, karena kakek dan nenek sangat baik kepada mereka. Keesokan harinya Kakek, Vino dan Kelvin pergi ke hutan sedangkan, nenek menunggu di rumah. Jarak hutan dari rumah kakek cukup dekat sehingga mereka bisa jalan kaki untuk menuju ke sana. Banyak rotan yang mereka dapatkan, cukup untuk membuat beberapa kursi atau rak buku, setelah itu mereka pulang dan Vino mulai mengajarkan cara membuat rotan yang Vino dapatkan informasinya dari internet. Semua konsep sudah Vino ajarkan untuk kakek mulai dari teknik pembuatan, alat yang digunakan sampai pada penyimpanan dan perawatan. Dan Vino tak lupa, memberikan catatannya yang ditulis tadi malam untuk kakek guna lebih memperjelas lagi.
Kakek: makasih ya nak, sudah mengajarkan kakek cara membuat kerajinan dari rotan….mungkin, apabila sudah terwujud ini sangat membantu ekonomi keluarga kakek (sedikit terharu)
Vino: iya sama-sama…orang yang tabah seperti kakek pantas mendapatkan ini semua…kakek, sungguh luar biasa tidak mengeluh sedikitpun dengan kondisi seperti ini,,justru kakek semakin semangat dan lebih bekerja keras dalam menghadapi kehidupan yang keras ini…(memandang kakek)
Kelvin: sebenarnya, untuk usia seperti kakek ini..sudah tidak bekerja lagi, minum kopi sambil duduk di depan rumah,,menikmati kebahagiaan…
Vino: mudah-mudahan dengan niat, usaha dan do’a…usaha ini bisa lancar dan kakek bisa hidup enak serta yang terpenting suatu saat nanti kakek bisa menyuruh anak dan menantu kakek pulang untuk membantu usaha ini (tersenyum)
Kelvin: sebentar lagi, teman kita akan ke sini sambil membawa mobil derek untuk mengangkut motor saya kek…
Vino: sebelum kami pulang..ini ada uang dari kami sebanyak 500 ribu, untuk membeli peralatan pembuatan kerajinan rotan..
Nenek: (hanya bisa memeluk kakek sambil menangis)
Kakek: makasih banyak ya nak, kakek nggak bisa membalas dengan apa-apa
Kelvin: sudah nek, jangan nangis….(berkata dengan nenek) cukup do’akan kami saja kek agar kami bisa menjadi manusia yang berguna untuk orang lain (berkata dengan kakek)
Vino: betul kata temanku itu kek…pasan saya kek, apabila kakek berhasil membuat kerajinan dari rotan..sebagian hasil dari penjualan itu dikumpulkan sebanyak mungkin, untuk membeli rotan karena rotan yang ada di hutan suatu saat bakal habis….dan berikan sebuah hasil kerajinan yang terbaik…(tersenyum)
Kelvin: nanti di depan sana kek, kalau usaha ini berhasil,,,kakek buat papan atau triplek pasang di sana dan di tulis “menjual kerajinan dari rotan” soalnya biar orang banyak yang tahu bahwa kakek membuat kerajinan dari rotan….
Kakek: iya..kakek kan selalu mengingat dan mempelajari apa yang kalian ajarkan kepada kakek (tersenyum)
Nenek: kalian anak-anak yang baik..pasti suatu saat nanti banyak orang yang akan menyayangi kalian (tersenyum)
Vino: iya makasih nek….(tersenyum)
Kelvin: sebenarnya nggak ada yang sulit..apabila kita mau belajar kek…saya juga tahu, kakek pasti bisa membuat kerajinan dari rotan..karena kakek ada sebuah kemauan untuk mengubah hidup kakek..meski, nanti kakek harus bisa kreatif dalam membentuk sebuah kerajinan dari rotan…
Vino: itu mobilnya sudah datang kek..kami pamit pulang dulu ya kek..mudah-mudahan usaha ini berhasil…(bersalaman dengan kakek dan nenek)
Kelvin: kami pamit kek, semoga kakek dan nenek sehat selalu (bersalaman dengan kekek dan nenek)
Kakek: amin..hati-hati di jalan nak (tersenyum)
Nenek: iya nak, terima kasih banyak….hati-hati di jalan (tersenyum)

      Mereka sangat senang bisa membantu orang lain, apalagi di bulan puasa seperti ini. Seorang pencari kayu yang tabah akhirnya mendapat sebuah pertolongan melalui Vino dan Kelvin. Sampai kapanpun Kakek dan Nenek tadi akan selalu mengingat kebaikan Vino dan Kelvin. Di dalam ketabahan pasti mengandung sebuah kesabaran, keikhlasan dan rasa syukur terhadap Sang Maha Pencipta, tingkat keimanan yang tinggi membuat seseorang selalu bahagia dalam suka maupun duka. “Selalu bahagia dalam suka maupun duka” sebuah hal yang sangat jarang kita temukan sekarang ini namun, kini mereka temukan dalam diri seorang kakek dan nenek.

minato

Ilmu Agama Di Atas Ilmu-Ilmu Lainnya


Segmen 34
(Bulan Ramadhan)
Ilmu Agama Di Atas Ilmu-Ilmu Lainnya

       “Oh iya, mens jalan-jalan kita dilanjutkan besok lagi ya” kata Vino sambil mengendarai mobilnya. “Iya Vin, lagian ini kan sudah sore” ucap Kelvin.
Radit: btw besok kamu mau ngajak Clara nggak Vin? (tersenyum)
Vino: iya nggak…kan, bulan puasa …aku sama Clara waktu bulan puasa begini paling kalau keluar cuma buber saja (tersenyum)
Kelvin: iya…benar banget kamu Vin (tertawa)
Vino: memangnya ada yang lucu Vin..kamu kok ketawa (tersenyum)
Faisal: wah…jangan-jangan kamu masih pacaran kalau bulan puasa ya (berkata dengan Kelvin)
Kelvin: (tertawa) iya nggaklah…Kirananya di Semarang maklum, libur kuliah…
Vino: kamu kalau nakal-nakal…aku masukin ke hotel di kamar nomor 13 lho (berkata dengan Kelvin)
Kelvin: malah asyik dong…gratisan (tersenyum)
Vino: aku belum selesai bicara…itu lho hotel yang deket  pantai Parangtritis (tertawa)
Kelvin: wah Vin…kalau yang itu nggak usah repot-repot dech..kirain hotel yang lain..
Radit, Joni dan Faisal: (tertawa)
Joni: besok kita mau jalan-jalan ke mana lagi Vin….
Vino: hmmmm, ke mana ya..aku juga bingung….
Radit: gimana kalau besok kita jalan-jalan ke Kotagede…
Kelvin: sip…aku sangat setuju (tersenyum)
Vino: aku juga sependapat dengan Kelvin,,,gimana kalian?
Joni: sama dong…aku juga setuju..iya nggak Faisal….
Faisal: aku juga setuju mens………
Vino: baik…kita berangkat jam 8…ok!

       Akhirnya tujuan mereka selanjutnya ke Kotagede lalu beberapa jam kemudian mereka sampai di rumah Kelvin dan mereka langsung pulang ke rumah masing-masing karena hari sudah sangat sore.
       Sesampai di rumah, Vino langsung mandi dan disaat menuju ke kamar mandi tiba-tiba Pak Johan bertanya kepada Vino “Vin dari mana saja kok baru pulang” sambil mematikan televisi. “Oh iya, maaf yah…Vino tadi pagi lupa bilang, Vino tadi habis ke museum batik yang ada di Imogiri itu lho yah” kata Vino sambil mengambil handuknya.
Pak Johan: oh iya ayah tahu, sama siapa saja ke sana?
Vino: biasa sama Kelvin, Radit, Joni dan Faisal (tersenyum)
Pak Johan: kok tumben kamu ke sana (tersenyum)
Vino: iya nggak apa-apa yah…dari pada tidur di rumah (tertawa) tadi, di sana Vino juga diajari membatik lho yah…
Pak Johan: memangnya siapa yang ngajari….?
Vino: sama pemilik museum itu….ya sudah Vino mandi dulu ya yah keburu magrib nanti…
Pak Johan: oh….ya sudah silahkan….(menuju ruang tamu)

       Adzan magrib pun berkumandang, mulailah keluarga Pak Johan berbuka dengan yang manis-manis seperti, kurma. Suasana berbuka sangat tenang dan penuh keharmonisan tidak lupa sebelum berbuka mereka berdo’a terlebih dahulu. Rutinitas Vino pada bulan Ramadhan yaitu sering membaca al-qur’an selain itu Vino juga sholat tahajud, sholat dhuha dan membaca surat yasin setiap habis sholat magrib. Itu semua Vino lakukan untuk bekal di akhirat nanti terkadang para sahabatnya juga sedikit heran sama Vino, walaupun Vino ganteng, kaya tetapi Vino selalu peduli dengan orang lain bahkan dalam hubungan percintaan Vino adalah seseorang yang setia. Maka dari itu semua, para sahabatnya selalu mencintainya. Bagi mereka Vino seperti malaikat hanya sebuah kebaikan yang mereka lihat dari sosok Vino. Vino baik karena latar belakang keluarganya juga baik, Pak Johan adalah seseorang yang dermawan sedangkan Bu Risma seorang yang ramah dan peduli dengan para tetangganya. Sahabat Vino yang bernama Kelvin sebelum kenal dengan Vino, dia adalah anak yang nakal tetapi setelah Kelvin bertemu dengan Vino menjadi berubah 180 derajat. Dia menjadi anak yang baik dilatar belakangi faktor pergaulan yang sangat mempengaruhi kepribadiannya. Kebersamaan adalah sesuatu yang sangat menyenangkan melainkan sebuah kebersamaan yang menjunjung tinggi sebuah hal positif dan rasa saling menghargai serta menghormati. Mungkin, di bulan puasa ini mereka sedikit aktif melakukan segala sesuatu yang bermanfaat seperti yang dilakukan mereka kemarin banyak hal yang mereka dapat dari belajar membatik yaitu sebuah kesabaran dan ketelatenan.
       Pukul 6 pagi secara tiba-tiba Vino menelepon Kelvin, dia ingin memberitahu bahwa sekarang mobilnya di pakai ayahnya untuk keluar kota dan secara kebetulan mobil Kelvin tidak dipakai oleh orang tuanya. Jadi, untuk perjalanan ke Kotagede menggunakan mobil Kelvin. Seperti biasa, Radit, Joni dan Faisal berkumpul di rumahnya Kelvin selanjutnya, mereka yang menjemput Vino di rumah. Kesimpulannya, ada sebuah saling pengertian dalam menjalin sebuah persahabatan.
       Tidak perlu berlama-lama mereka mulai berangkat menuju ke Kotagede atau pesona kota tua bertabur kilau perak. Untuk sejarah Kotagede, pada tahun 1522 M, Ki Ageng pemanahan yang mendapatkan hadiah sebuah wilayah di Mataram dari Sultan Pajang karena jasanya mengalahkan Aryo Penangsang, membangun istananya di Kotagede (cikal bakal Kesultanan Yogyakarta). Kerajaan Mataram yang beribukota di Kotagede ini mengalami perkembangan pesat pada masa kekuasaan Sultan generasi keempat, Sultan Agung Hanyokrokusumo. Setelah Sultan Agung wafat dan digantikan putranya, Amangkurat I, Kerajaan Mataram mengalami konflik internal yang dimanfaatkan oleh VOC hingga berakhir perjanjian Giyanti pada bulan februari 1755 yang membagi Kerajaan Mataram menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Jogjakarta. Pangeran Mangkubumi kemudian menjadi Sultan pertama Kasultanan Yogyakarta dengan gelar Sri Sultan Hamengku Buwono I. Sultan Hamengku Biwono I kemudian membangun pusat pemerintahan baru di tempat yang sampai sekarang masih bisa kita saksikan sebagai Keraton Yogyakarta.
       Di daerah selatan perkampungan Kotagede, terdapat Pasar Gede atau Sergede yang merupakan pasar tradisional yang dibangun pada masa Panembahan Senopati. Keistimewaan Kotagede terdapat sentra kerajinan perak Yogyakarta. Bengkel-bengkel dan toko-toko kerajinan perak bisa kita temui disepanjang jalan kemasan hingga pertigaan ex-Bioskop Istana. Selain sebagai pusat produksi dan penjualan perhiasan perak, Kotagede juga menyimpan sekitar 170 bangunan kuno buatan tahun 1700 hingga 1930. Hal tersebut menjadikan Kotagede tidak hanya sebagai Kota Perak, tetapi juga Kota Tua bersejarah. Suasana tradisional masih sangat terasa di kota ini.
       Beberapa saat kemudian, mereka telah sampai di Kotagede kemudian buru-buru turun dari mobil karena mereka tidak sabar untuk melihat bangunan dan suasana yang masih terbilang tradisional. “Wah, di sini ternyata budaya tradisionalnya masih sangat kental juga ya” kata Vino sambil memakai kacamata.
Kelvin: sekarang kita berada di Pasar gede….silahkan kalau mau beli apa (tersenyum)
Vino: wah..nanti saja Vin,,kita menikmati pemandangannya dulu (sambil berjalan)
Kelvin: ok!! bos Vino (tertawa)
Vino: wah kamu bisa saja Vin..(tersenyum)
Radit: kamu nggak mau belikan Clara kerajinan perak Vin..untuk oleh-oleh (berkata dengan Vino)
Vino: yah…pastinya nanti, aku juga suka banget sama kerajinan perak…
Joni: kita mau ke mana dulu ini kawan….
Kelvin: yang dekat-dekat dulu mens gimana…
Faisal: boleh…ya sudah kita ke kampung alun-alun dan ke kampung Ndalem saja dulu….
Vino: sip..ayo jangan berlama-lama keburu panas…

       Mereka benar-benar mengaggumi kemegahan bengunan itu dan begitu menikmatinya. Setelah cukup lama berjalan-jalan mereka berhenti di sebuah gapura dengan benteng panjang untuk istirahat sejenak. “Lumayan capek ya kawan” kata Joni sedikit ngos-ngosan.
Vino: sini Jon…kita foto-foto dulu buat kenang-kenangan (tersenyum)
Joni: (menuju ke Vino dan sahabat lainnya)
Radit: ya sudah…tolong Fotoin dulu Jon kita berempat nanti saling bergantian…
Joni: ya sudah..aku fotoin…muka biasa saja,,,jangan diimut-imutin (tertawa)

       Mereka saling berfoto secara bergantian tidak lupa terselip canda dan tawa diantara mereka. Lalu, mereka melihat-lihat pohon-pohon beringin di sekitar tempat itu.
Vino: mungkin…ini pohon usianya sudah tua banget ya….(memegang batang pohon)
Joni: iya Vin…ini, pohon berjulur panjang…
Radit: pohon-pohon itu mungkin, menjadi penjaga tempat keramat ini sob…(melihat ke atas pohon)
Kelvin: ayo kawan…kita ke gapura dua….
Radit: ayo..(berjalan menuju ke sana)

       Melewati gapura kedua, ada sebuah tembok tinggi sekitar 2 meter dengan jalan di kedua sisinya menghalangi pandangan dari gapura ketiga yang menjadi jalan menuju kompleks Masjid Agung Kotagede, masjid pertama di Kotagede yang di kelilingi rumah para Abdi Dalem. Selanjutnya, Vino dkk menuju ke kompleks makam, mereka di wajibkan untuk memakai pakaian adat jawa dan melaksanakan tahlilan sebelum memasuki makam. “Harga sewa pakaian ini berapa mas” kata Vino kepada orang yang menyewakan pakaian adat. “lima belas ribu mas, setiap pakaian” kata orang itu. “Ya sudah ini uangnya tujuh puluh lima ribu mas untuk berlima” ucap Vino sambil memberikan uangnya.
        Mereka sangat puas dengan keindahan di Kotagede itu, hampir semuanya mereka kunjungi mulai dari Pasar Gede sampai ke bangunan utama yang menjadi tempat bersemayam keluarga besar kerajaan kerena sudah waktu dhuhur mereka menyempatkan diri untuk sholat di Masjid Agung Kotagede yang berada di jalan Watu Gilang, Kotagede, Yogyakarta.
       Mereka sepakat untuk mengerjakan sholat dhuhur secara berjama’ah dengan Vino yang sebagai imamnya. Beberapa menit kemudian mereka selesai mengerjakan sholat. Di samping mereka nampak seorang laki-laki setengah baya yang berpakaian seperti ustadz, tidak menyangka laki-laki itu menghampiri mereka yang baru mengerjakan sholat dhuhur berjama’ah. Sepertinya, laki-laki itu sedikit simpati dengan Vino dkk. Laki-laki itu bertanya kepada seorang diantara mereka “anak muda, kalian datang dari mana?” sambil duduk diantara mereka. “Kami juga orang Jogja kok pak” kata Vino sambil tersenyum.
Kelvin: apa ada yang bisa kami bantu pak….?
Ustadz: bukan…saya merasa senang melihat kalian sholat berjama’ah….coba yang tadi imam siapa namanya…(tersenyum)
Vino: nama saya Vino….apakah anda ini seorang ustadz?
Ustadz: nama yang keren juga…kalau saya dikatakan ustadz belum layak, saya juga masih belajar (tersenyum) kalau boleh tahu tujuan kalian ke sini mau apa ya? ini kan bulan puasa ….
Vino: tujuan kami jalan-jalan ke sini sekadar mencari aktivitas di bulan puasasedikit mencari sebuah ilmu lah Pak Ustadz(tersenyum)
Radit: betul itu pak, dari pada di rumah tidur..mending kita mencari sesuatu yang lebih bermanfaat…(tersenyum)
Joni: apakah bapak warga sini juga?
Ustadz: iya…rumah saya nggak jauh dari sini..(tersenyum)
Vino: tapi, saya yakin..anda seorang ustadz (tersenyum) saya boleh nanya sesuatu pak?
Ustadz: silahkan….akan saya jawab semampu saya…mau tanya apa?
Vino: saya mau tanya tentang sebuah ilmu, ilmu apa yang paling tinggi kedudukannya di dunia ini Pak Ustadz?
Ustadz: sebelum saya jawab…apakah kalian bisa menjawab pertanyaan dari teman kalian Vino (tersenyum)
Kelvin: menurut saya sich…ilmu teknologi dan komunikasi pak…karena dengan perkembangan sebuah ilmu dan teknologi dapat mempermudah kehidupan manusia….misalkan, seperti sebuah kendaraan bermotor..dari dulu hingga sekarang mengalami sebuah perkembangan yang sangat signifikan…mulai dari kecepatan dan sebuah kenyaman berkendara….apakah jawaban saya benar pak (tersenyum)
Ustadz: sebentar…ada yang mau menambahkan lagi…ayo silahkan…
Radit: saya pak…hhmm, ilmu yang paling tinggi kedudukannya kalau menurut saya adalah ilmu kesehatan pak..kita tahu sebuah kesehatan adalah mahal harganya…tanpa, sebuah penemuan obat-obatan sulit bagi manusia untuk menyembuhkan penyakitnya pak….
Ustadz: iya benar…biar adil kalian semua memberi persepsi saja….nanti terakhir akan saya jelaskan…sekarang kamu (menunjuk Faisal)
Faisal: baik pak…semua kita tahu kan pak,,,bahwa Sumber Daya Manusia itu adalah sangat penting bagi kehidupan kita..dengan SDM kita bisa menggerakan dan mengendalikan sesuatu…dengan kemampuan seorang manusia kita bisa menciptakan sesuatu..bahkan yang sangat luar biasa pak…seperti, nuklir….
Ustadz: ya..(menganggukan kepala) yang terakhir kamu….apa pendapat kamu?
Joni: kalau menurut saya ya…SDA atau Sumber Daya Alam…betapa pentingnya itu bagi kelangsungan hidup manusia…sebuah sumber daya yang tidak terbatas pak yang diberikan Allah kepada umat manusia…contoh kecil saja adalah air, kita tahu air adalah sumber kehidupan manusia terutama mendapatkan sebuah air yang bersih…mungkin, tanpa air manusia tak akan bisa hidup pak (tersenyum)
Ustadz: semua yang kalian katakan pada dasarnya memang benar dan penting bagi kehidupan manusia…di hadapan Allah manusia itu nggak ada yang ditinggikan derajatnya semuanya sama…tetapi, Allah hanya melihat manusia dari imannya dan hanya sebuah iman yang akan mengangkat derajat manusia itu sendiri….ini bicara tentang sebuah keutamaan…Imam Ibnu Hajar Al-Asqalaani berkata “Dalam hadist ini terdapat keterangan yang jelas tentang keutamaan orang-orang yang berilmu di atas semua manusia dan keutamaan mempelajari ilmu agama di atas ilmu-ilmu lainnya”.
Vino: oh…berarti ilmu agama memilki keutamaan yang lebih tinggi dari pada ilmu lainnya Pak Ustadz…(tersenyum)
Ustadz: iya benar…ilmu yang disebutkan keutamaannya dan dipuji oleh Allah Ta’ala dan Rosul-Nya adalah ilmu agama begitu….
Kelvin: berarti dengan kata lain ilmu agama akan membawa kita dalam kebahagiaan dunia dan akhirat…begitu Pak Ustadz…
Ustadz: (menganggukan kepala) karena ilmu agama itu berbeda dari ilmu lainnya…
Joni: bedanya apa itu Pak Ustadz…?
Ustadz: ilmu lain mencari kebenaran dengan jalan penyelidikan, pengalaman dan percobaan sebagai batu sandungan.. sementara ilmu agama, manusia mencari dan menemukan kebenarannya melalui kitab suci, hadist dan firman-firman illahi semuanya terangkum dalam sebuah kitab suci yang bernama Al-Qur’an….begitu….(tersenyum)
Joni: berarti ilmu yang lain nggak begitu penting ya Pak Ustadz….?
Ustadz: bukan begitu maksudnya…Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda “Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim” secara garis besar kita harus selalu belajar dan belajar…seperti, hak dan kewajiban…mana dulu yang harus dilaksanakan…
Faisal: kewajiban dulu dong Pak Ustadz….
Ustadz: sama halnya mencari ilmu…ilmu agama lebih diutamakan daripada ilmu yang lain..bukan berarti mengesampingkan….setiap manusia hidup di dunia harus di bekali dengan ilmu lainnya agar kita bisa hidup dengan baik…kalian ingin mencari ilmu yang berkaitan dengan profesi atau kepentingan kalian itu adalah hak kalian…tetapi, untuk masalah ilmu agama adalah sebuah keharusan yang wajib kita cari karena ilmu ini adalah jalan menuju akhirat nanti kehidupan kita yang sebenarnya…
Vino: oh begitu ya Pak Ustadz….kalau begitu terima kasih ya Pak Ustadz atas dakwahnya…semoga itu semua dapat bermanfaat bagi kami…maaf sudah menyita waktu Pak ustadz…
Ustadz: iya…sama-sama, dalam diri kalian yang tidak kalian ketahui berusahalah untuk mencari tahu….mulai dari bertanya hingga membaca buku,,,bekali diri kalian dengan ilmu yang sebanyak mungkin…(tersenyum)
Kelvin: iya Pak Ustadz…kalau begitu kita mau jalan lagi…(bersalaman dengan Pak Ustadz)
Ustadz: iya…ya sudah hati-hati di jalan…
Vino: mari Pak Ustadz….(bersalaman)
Faisal, Joni dan Radit: (bersalaman dengan Pak Ustadz dan mengucapkan pamit)

       Setelah ini mereka akan membeli kerajinan perak sebagai oleh-oleh. Oleh-oleh itu akan diberikan kepada orang-orang yang mereka cintai seperti, keluarga, pacar atau teman. Waktu sudah sore saatnya mereka bersiap-siap untuk pulang. Dengan hati yang puas dan senang mereka menuju perjalanan pulang ke rumah masing-masing. Untuk kali ini mereka mendapatkan sebuah informasi yang sangat penting, selamanya mereka akan mengingat dan melakukan apa yang dikatakan Pak Ustadz tadi. Bahwa ilmu agama adalah ilmu yang wajib kita pelajari karena itu merupakan sebuah kewajiban kita sebagai umat beragama. Dengan ilmu agama juga, kita dapat mengendalikan ilmu-ilmu yang lain. Sifat manusia yang tidak terlepas dari sebuah keserakahan, sebagai bukti ketika bayi manusia lahir, pasti tangannya mengepal atau menggenggam itu menandakan manusia ingin menguasai segala sesuatu yang ada di bumi ini. Maka dari itu, diperlukan ilmu agama sebagai pengendali ilmu yang lain. Kalau tidak ada ilmu agama manusia akan menghancurkan manusia yang lain dengan kemampuan yang mereka miliki. Ilmu agama adalah ilmu murni dari Tuhan Sang Pencipta alam semesta ini yang tidak bisa diubah ketentuannya oleh manusia.

minato

5 Panca Indra Alat Pencari Ilmu


Segmen 33
(Bulan Ramadhan)
“5 Panca Indra Alat Pencari Ilmu”

       Di ruang tamu terlihat bu Santi sedang menjahit baju yang sobek dan di sampingnya Rico sedang main game di hpnya. “Bu kak Clara kok belum pulang sich” kata Rico sambil main game. Dengan senyum bu Santi menjawab “paling sebentar lagi pulang”.
       Suara kendaraan motor terdengar di depan rumah sambil membuka pintu dan membaca salam “assalamu’alaikum” kata Clara sambil membawa bungkusan.
Bu Santi: wa’alaikum salam, dari mana saja kamu Clara (tersenyum)
Clara: tadi kita habis buber sama Vino dan sholat magrib di luar (berkata dengan ibu) sini Vin…masuk (berkata dengan Vino)
Vino: iya Clara…
Bu Santi: masuk saja nak Vino…….(berkata dengan Vino) itu bungkusan apa yang kamu bawa Clara (berkata dengan Clara)
Clara: ini bebek goreng super enak bu (nada bercanda) tadi Vino yang beliin buat ibu….
Bu Santi: waduh..makasih banyak nak Vin (tersenyum)
Vino: iya bu sama-sama…..oh iya bu, Vino langsung pamit saja soalnya kan sudah cukup malam (tersenyum)
Bu Santi: oh iya nak Vino…ya sudah hati-hati di jalan ya nak Vino (bersalaman dengan Vino)
Vino: iya bu (tersenyum) ya sudah aku duluan ya Clara….
Clara: iya Vin..hati-hati di jalan (tersenyum)

       Ada 2 kebahagiaan dalam hati Vino yang pertama Vino berhasil menemukan jawaban dari pertanyaan ayahnya dan yang ke dua Vino bisa buber dengan kekasihnya Clara. Sesampai di rumah Vino nggak sabar untuk memberitahu ayahnya.”Yah, Vino sudah tahu jawabannya” kata Vino. “Apa itu Vino?” kata Pak Johan yang sedang duduk di teras rumahnya.
Vino: ya nanti saja yah, Vino juga dapat sumbernya dari sebuah buku (tersenyum)
Pak Johan: oh iya…wah, bagus kalau begitu (tersenyum)
Vino: mama tadi terawih nggak yah,,,,
Pak Johan: nggak, biasa mama kamu sedang nggak sholat…..
Vino: oh…ya sudah Vino ambil air wudhu dulu….(masuk ke dalam rumah)

       Setelah waktu menunjukan pukul 9 malam, Vino dan ayahnya duduk di ruang tamu. “Katanya mau beritahu ayah, apa coba jawabannya” kata Pak Johan sambil memandang Vino.
Vino: baik yah…jawabannya adalah ilmu, Vino dapat jawaban ini dari sebuah buku yang menceritakan tentang kisah nabi Sulaiman a.s (menunjukan bukunya)
Pak Johan: (membaca sedikit tentang buku itu)
Vino: dalam cerita itu kan dijelaskan bahwa nabi Sulaiman a.s di sudutkan oleh 3 pilihan yaitu akan diberi sebuah harta, tahta dan wanita namun, beliau tidak memilih ketiga pilihan itu yang beliau pilih adalah ilmu karena dengan ilmu bisa mendapatkan itu semua…begitu yang Vino baca dari buku itu….
Pak Johan: bagus…jawaban kamu memang tepat sekali….yaitu ilmu, dengan ilmu kita bisa mengatur manusia dan kehidupan di dunia ini makanya, ada hadist yang menyebutkan carilah ilmu sampai ke negeri cina artinya carilah ilmu sebanyak mungkin kapan saja, di mana saja dan oleh siapa saja…
Vino: iya yah…apa maksud arti oleh siapa saja yah?
Pak Johan: oh itu, yang artinya begini carilah ilmu sampai ke negeri cina itu dimaksudkan mencari ilmu tidak dibatasi dengan usia yaitu anak-anak, remaja atau dewasa …walaupun sudah tua kita juga tetap harus mencari ilmu…sampai kita berada di liang lahat atau meninggal begitu…
Vino: iya yah..berarti kita dilahirkan dari kandungan ibu dan kita juga akan kembali ke kandungan ibu pertiwi (tersenyum)
Pak Johan: bahasa kamu bagus juga (tersenyum)
Vino: makasih yah atas sharingnya…ini sangat bermanfaat untuk Vino, ya sudah kalau begitu Vino mau tidur dulu biar nggak ngantuk nanti waktu sahur….
Pak Johan: iya, kamu kan anak bisnis jadi kamu harus bisa mencari banyak ilmu lain…(tersenyum)
Vino: ok yah..(menuju ke kamarnya)

       Setelah menjalani rutinitas pada bulan puasa, keesokan harinya Vino ingin mengajak para sahabatnya untuk jalan-jalan tentunya jalan-jalan yang tidak sembarangan. Radit, Joni dan Faisal mereka berkumpul di rumah Kelvin sedangkan Vino menuju rumah Kelvin dengan membawa mobil jazznya. Pukul 8 pagi mereka sudah mulai berangkat, setelah diskusi dengan para sahabatnya tujuan mereka yang pertama yaitu di sebuah museum  batik “Ciptowening”, Imogiri, Bantul. Museum ini memiliki koleksi-koleksi bernilai sejarah tinggi, tersimpan kolesi batik kuno yang usianya lebih dari 100 tahun. Konon batik-batik kuno di museum ini pernah digunakan oleh Pakualam VII dan Pakualam VIII. Beberapa saat kemudian mereka sampai di museum batik, “akhirnya kita sampai juga ya mens” kata Vino sambil membuka pintu mobilnya. Akhirnya, mereka berjalan masuk ke museum itu kebetulan sekarang hari sabtu jadi museum ini bisa di buka untuk umum karena museum yang di buka untuk umum setiap sabtu dan minggu sehingga masyarakat awam dan siswa bersekolah bisa belajar membatik. Setelah mereka masuk, mereka bertemu dengan seorang pendiri sekaligus pemilik museum ini yang bernama Linda heri Diyana Bondan Gunawan. Dia menjelaskan pada mereka tentang sejarah museum batik . “Apa kabar?” kata Vino kepada seseorang sambil berjabatan tangan.
Pemilik Museum: iya baik, saya pemilik museum ini… kalau boleh tahu kalian dari mana?
Vino: kami mahasiswa UGM yang mengadakan kunjungan non formal untuk menyempatkan kesibukan di bulan puasa ini (tersenyum) oh iya, nama anda siapa?
Pemilik Museum: kenalkan nama saya Linda heri Diyana Bondan Gunawan…(berjabatan dengan sahabat Vino yang lain)
Pemilik Museum: oh iya…(tersenyum) dalam musem ini batik-batiknya rata-rata berusia 100 tahun lebih….(sambil menunjukan batik-batik yang ada disekitar)
Kelvin: wah..keren, kalau itu batik motif apa? (menunjukannya)
Pemilik Museum: itu batik motif slogan….
Faisal: wah, aku kok baru dengar (nada bercanda)
Joni: kalau boleh saya tahu museum ini didirikan tahun berapa?
Pemilik museum: Museum ini didirikan pada tahun 2004 kemudian museum lingkungan batik Ciptowening ini diresmikan kembali oleh Gebernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Joni: oh…(sambil melihat-lihat batik)
Vino: ada berapa motif batik di museum ini?
Pemilik Museum: museum batik ini memiliki 250 hingga 300 koleksi batik dari berbagai motif, batik-batik ini berasal dari batik Yogya dan batik Solo. Batik Yogya sendiri barasal dari batik Imogiri, Bantul dan motif-motif lain…(tersenyum)
Kelvin: membatik itu apakah sulit?(tersenyum)
Pemilik Museum: tergantung dari motifnya…tapi, beberapa batik saat ini sudah sulit ditemukan mulai dari motif lereng atau beberapa batik kuno seperti, motif sidomukti, sidoluhur atau wahyu tumurun pasalnya, banyak pembatik yang sudah tidak bisa membuatnya selain sulit, butuh ketelatenan yang lebih dibandingkan membuat batik biasa begitu……….
Vino: apakah semua batik-batik ini sudah patenkan?
Pemilik Museum: pertanyaan yang bagus….baru sebagian kecil batik di Yogyakarta yang sudah dipatenkan,,dari 1400 motif batik..baru sekitar 300-an diantaranya yang telah dipatenkan….
Vino: wah….masih banyak juga ya,,padahal mematenkan batik ini dipandang cukup penting agar batik tetap bisa lestari dan terjaga
Pemilik Museum: iya…memang benar itu…kalian mau belajar membatik….(tersenyum)
Radit: boleh juga itu…di mana tempatnya..(tersenyum)
Pemilik Museum: mari ikut saya…(menunjukan tempatnya)
Vino: oh ini ruangan untuk membatik….(tersenyum)
Pemilik museum: mari saya ajarkan sedikit tentang cara membatik….ini semua alat-alat yang diperlukan untuk membatik…di sini ada canting, gawangan, wajan, kompor kecil, malam atau lilin dan bahan pewarna..
Kelvin: rumit juga alatnya pasti sulit….(tertawa)
Pemilik Museum: wah..kalau sudah belajar nggak ada yang namanya sulit (tersenyum)..tolong kalian perhatikan baik-baik (memraktekannya) yang pertama siapkan kain lalu buat motif di atas kain dengan pensil….buatlah yang sederhana dulu, lakukan semampu kalian…
Vino: ini sudah aku buat motifnya (tersenyum)
Pemilik Museum: ya,,,seperti itu tolong ikuti..setelah itu sampirkan kain pada gawangan….
Joni: ya…ini sudah saya sampirkan (tersenyum)
Pemilik Museum: setelah itu,,nyalakan kompor taruh malam atau lilin ke dalam wajan dan panaskan wajan dengan api kecil sampai malam mencair sempurna…..(tersenyum)

       Mereka serentak mengikuti apa yang diajarkan Pemilik Museum itu.
Pemilik Museum: biarkanlah api tetap menyala kecil…mulailah membatik dengan cara ambil sedikit malam cair dengan menggunakan canting, tiup-tiup sebentar biar tidak terlalu panas…goreskanlah canting dengan motif yang kalian buat tadi…..
Faisal: seperti ini ya….(menunjukannya)
Pemilik Museum: hati-hati jangan sampai malam yang cair menetes di atas permukaan kain karena akan mempengaruhi hasil motif batik….(tersenyum) nah begitu, nyatanya kalian sudah lumyan bisa….
Joni: kan karena belajar (tertawa)
Pemilik Museum: baik…setelah motif tertutup malam, maka proses selanjutnya adalah proses pewarnaan…..ya sudah sekarang kalian siapkan bahan pewarna dalam ember….aku tunggu bentar….
Vino: iya kami sudah semua (tersenyum)
Pemilik Museum: kemudian celupkan kainnya ke dalam larutan pewarna dengan menggunakan kuas, ulangi sampai beberapa kali……untuk tahap selanjutnya, adalah proses penghilangan lilin batik dengan cara pengerakan dan melarod….

        Setelah beberapa menit kemudian.
Pemilik Museum: ini adalah tahap terakhir dari proses pembuatan batik yaitu proses pencucian dan penjemuran…mari kita bawa ke sana…
       Mereka benar-benar memerhatikan dengan beberapa indra mereka untuk membuat batik tentunya mereka sangat menikmati proses belajar membatik. Tidak terasa mereka hampir dua jam di sana dan mereka mengucapkan banyak terima kasih kepada Pemilik Museum batik karena telah mengajarkan sedikit tentang belajar membatik. Meskipun sedikit itu tetaplah ilmu yang mereka dapatkan selanjutnya tinggal mereka mengembangkannya sendiri. Dalam proses mencari ilmu yang terpenting mencari sebuah kebenaran dan sebuah proses utuk mendapatkannya. Hanya belajar, belajar dan belajar yang harus kita lakukan di dunia ini. Berpikirlah kita selalu merasa bodoh karena dengan seperti itu kita akan terus menggali dan menggali ilmu yang ada di dunia ini. Mencari ilmu di bulan puasa kita akan mendapatkan keuntungan yang lebih, Allah akan melipat gandakan pahala kita karena mencari ilmu itu hukumya wajib. Mereka akan melanjutkan perjalannannya lagi di suatu tempat lain dengan ilmu-ilmu yang menarik. Jadi, kelima indra kita adalah sebagai alat untuk mendapatkan sebuah ilmu. Tanpa indra mustahil kita bisa merealisasikan semuanya dalam mencari sebuah ilmu maka, jagalah kelima indra kita karena itu adalah aset kita yang tidak ternilai.

minato

Cantik=Berjilbab


Segmen 32
(Bulan Ramadhan)
“Cantik=Berjilbab”
      
       Saat pulang kuliah Vino dan Clara menyempatkan makan siang di rumah makan. “Nanti malam kita mulai sholat terawih ya sayang” kata Vino sambil memandang Clara ketika sedang makan. “Iya Vin, btw kamu waktu bulan ramadhan tahun kemarin full puasa nggak?” kata Clara sambil tersenyum.
Vino: (tertawa) ngledek kamu ahh…jelas puasa penuh dong, oh iya nanti puasa pertama kita buber yuk Clara…..
Clara: iya Vin…boleh juga tuh (memandang ke arah Vino)
Vino: sip…aku ada kejutan buat kamu Clara (tersenyum)
Clara: apa itu Vin (penuh penasaran)
Vino: sebentar ya Clara (berjalan menuju mobilnya yang ada di depan rumah makan)
Clara: (tersenyum) iya…..
Vino: ini Clara ada sesuatu untuk kamu…tapi, nanti bukanya di rumah saja (memberikan sebuah kado)
Clara: waduh makasih ya sayangku (tersenyum)
Vino: iya sama-sama (tersenyum) ya sudah makannya habiskan Clara….
Clara: ini mau habis Vin…..(tersenyum)

       Setelah itu mereka pulang dan beberapa saat kemudian sampailah di rumah Clara. “Makasih ya Vin, sudah nganter dan memberi kejutan” kata Clara sambil keluar dari mobil. “Ok! sayang” kata Vino dari dalam mobil.
Clara: ya sudah hati-hati di jalan ya Vin…aku nggak sabar ingin membuka kado dari kamu (tersenyum)
Vino: mudah-mudahan kamu suka Clara (menyalakan mobilnya)

       Di dalam kamarnya yang wangi dan rapi, Clara membuka pelan-pelan kado dari Vino tadi. Setelah Clara membuka kadonya, dia cukup terkejut yang ada dalam kado itu adalah sebuah pakaian jilbab yang indah dan mewah tetapi Clara melihat sesuatu kertas di sela-sela kado itu yang bertuliskan “Mulai sekarang dan seterusnya kamu berjilbab ya sayangku karena dengan berjilbab kamu akan menjadi seorang wanita yang sempurna. Cantik itu sama dengan berjilbab”. Clara sangat senang dengan kejutan yang diberikan Vino dan akan melaksanakan apa yang tertulis di dalam kertas itu. Tak lupa Clara bercerita tentang apa yang dialaminya kepada ibunya dan ibunya malah sangat bangga dengan Vino. Waktu menunjukan pukul 7 malam saatnya Clara, Rico dan Bu Santi bergegas menuju mushola di sekitar rumahnya untuk melaksanakan sholat isyak dan terawih secara berjama’ah. Hari pertama sholat terawih cukup lancar dan banyak pula warga yang mengikutinya. Bulan puasa adalah bulan yang penuh berkah dan pengampunan dengan kata lain bulan yang sungguh istimewa. Selain kita menahan haus dan lapar kita juga harus bisa mengendalikan nafsu dan syahwat kita.
       Sambil memandang foto yang ada di tangannya, terpikir di benak Vino “bahwa waktu terindah ketika aku dan dia bersama” sambil tersenyum. “Iya mungkin, ini yang dinamakan arti cinta di mana setiap hubungan mampu di bawa ke sebuah hal positif antara keseimbangan dunia dan akhirat” kata Vino dalam hati. Perlahan Vino mulai memejamkan matanya karena rasa kantuk yang tak tertahankan.
       Waktu menunjukan pukul setengah 3 pagi, Clara terbangun dari tidurnya. Diambilah hp dari meja di kamarnya. Di rumahnya Vino masih tertidur lelap, suara hp membangunkan Vino dan segera Vino mengangkat panggilan itu dengan sedikit sadarkan diri. “Iya sayangku” kata Vino.
Clara: kamu lupa ya, kan besok puasa jadi sekarang kamu sahur,,,,(tersenyum)
Vino: oh iya,,,aku hampir saja lupa makasih ya Clara sudah bangunin aku….(tersenyum)
Clara: iya…oh iya Vin, makasih ya atas kadonya tadi aku suka banget…
Vino: sama-sama Clara….kamu mau kan mulai saat ini kamu berjilbab….
Clara: iya..aku mau banget Vin kan ini buat kebaikan aku juga (tersenyum) sebelumnya aku merasa bahagia banget kamu bisa menjadi seseorang laki-laki yang bisa membimbing aku dan mengarahkan aku ke hal positif…..
Vino: sudah seharusnya kita begitu….tujuan hidup kita kan menjauhi larangan-Nya dan mentaati perintah-Nya (tersenyum)
Clara: iya Vin….ya sudah kita sahur dulu yuk….
Vino: kalau begitu met sahur dan met puasa saja ya sayangku….(tersenyum)

       Mereka akhirnya sahur dengan keluarganya masing-masing dengan menu seadanya. Hari memasuki puasa pertama cukup menyenangkan bagi mereka berdua. Vino dan Clara jarang sekali bertengkar karena mereka saling mengerti apa yang harus mereka lakukan jika terjadi sesuatu seperti ini dan mampu menyelesaikan masalah dengan tepat.
       Di teras rumahnya setelah selesai sahur Vino menunggu adzan subuh untuk mengerjakan sholat subuh berjama’ah di mushola dekat rumahnya sambil menunggu waktu subuh Vino bermain game di hpnya dan suasana dingin menyelimuti Vino pada pagi hari itu. Dari dalam rumahnya keluar Pak Johan ayah Vino “sedang apa kamu Vin?” kata Pak Johan.
Vino: Vino sedang main game di hp yah (tersenyum) ya sudah duduk bareng Vino sini yah…..
Pak Johan: (tersenyum) ini kan bulan puasa,, kalau bisa kamu banyak-banyak beramal dan lakukan sesuatu yang bermanfaat…
Vino: iya yah…Vino bakal menikmati puasa Vino (mematikan game di hpnya)
Pak Johan: baguslah,,,IP kamu berapa Vin?
Vino: alhamdulilah yah…IP Vino 3,50 (tersenyum)
Pak Johan: bagus dong….dulu zaman ayah kuliah dosennya killer-killer semua….dapat IP 3 saja harus benar-benar belajar dan berjuang keras…
Vino: begitu ya yah berarti Vino beruntung dong (tersenyum)
Pak Johan: (tersenyum) ada sesuatu di dunia ini yang benar-benar berharga dengan sesuatu ini kita bisa mendapatkan wanita, harta, tahta dan bisa menyeimbangkan dunia dan akhirat….apa coba Vin?
Vino: ayah ngasih pertanyaan susah amat (tersenyum) apa ya,,,dari pada Vino pusing mending Vino nyerah saja deh yah (tertawa)
Pak Johan: mau tahu jawabannya…..kamu harus cari sendiri, kalau kamu sudah tahu beritahu ayah (tersenyum) ya sudah itu sudah adzan subuh….ayo Vin, kita jama’ah bareng…
Vino: oh,,, boleh juga tantangan dari ayah..(tersenyum) ayo..ya sudah ayah ngambil air wudhu dulu…

       Vino penasaran dengan jawaban dari pertanyaan ayahnya dan Vino akan berusaha mencari jawaban itu. Ternyata dia benar-benar ingin tahu, pagi harinya pukul 9 Vino keluar untuk mencari sebuah buku yang ada kaitannya dengan pertanyaan ayahnya. Sudah banyak buku yang Vino baca tetapi jawaban itu tidak ketemu. Vino mulai bingung “ayo berpikir dan berpikir” kata Vino dalam hati. Akhirnya Vino menenangkan diri di dalam kamarnya karena terlalu capek Vino tertidur.
       Pukul 4 sore Vino, bersiap-siap untuk buber dengan Clara. Dari ruang tamu Pak Johan bertanya dengan Vino “mau ke mana Vin?” sambil mematikan laptop.
Vino: Vino mau buber dengan Clara (tersenyum)
Pak Johan: oh…..gimana sudah ketemu jawabannya? (tertawa)
Vino: belum yah…tapi, Vino nggak akan nyerah pasti Vino bakal menemukan jawaban itu (tersenyum)
Pak Johan: ok!ok! ayah kan selalu menunggu jawaban dari kamu….
Vino:ya sudah Vino berangkat, assalamualaikum…
Pak Johan: wa’alaikum salam…hati-hati Vin…
Vino: iya yah…..(tersenyum)

       Di ruang tamu, Clara sedang menunggu Vino untuk buber. Beberapa menit kemudian Vino pun tiba di rumah Clara. Clara bergegas membukakan pintu. “Masuk dulu Vin, lagian ini masih sore” sambil tersenyum.
Vino: iya…Rico ke mana Clara…?
Clara: dia main sama temennya….
Vino: sudah sore begini belum pulang…
Clara: paling bentar lagi Vin (tersenyum)
Vino: nanti mau buber sama apa Clara…(memandang Clara)
Clara: ya,, terserah kamu saja Vin…aku buber sama apa saja nggak masalah kok Vin (tersenyum)
Vino: hmmm..ya sudah buber kita nanti bebek goreng saja ya…(tersenyum)
Clara: iya Vin (tersenyum)

       Tiba-tiba Rico datang “hayo, puasa-puasa malah pacaran” dengan nada yang keras dan menggagetkan Vino dan Clara.
Vino: astagfirullah….Rico bikin kaget kak Vino saja..
Clara: Rico yang sopan sama kak Vino…(tegas)
Rico: iya…maafin Rico ya kak Vino…
Vino: iya (tersenyum) kamu bawa apa itu Rico?
Rico: oh..ini cerita nabi sulaiman as…ini pinjem dari temen tadi…
Vino: mana kak Vino pinjem….(tersenyum)
Rico: ini kak…(memberikan bukunya)
Clara: ya sudah…kamu mandi dulu sana  biar bukunya di pinjem sama kak Vino..
Rico: iya kak (masuk ke dalam rumah)
Clara: kamu suka Vin…tentang kisah para nabi (memandang Vino yang sedang baca bukunya)
Vino: iya suka…(tersenyum)

       Setelah beberapa menit Vino membaca buku itu, secara mengejutkan Vino menemukan jawaban dari pertanyaan ayahnya dan sontak Vino kegirangan. “Akhirnya, aku menemukan jawabannya Clara”. Dan Clara sedikit bingung dengan Vino. Kemudian Vino cerita dengan Clara tentang apa yang dialaminya, Clara pun juga turut senang. Vino berencana meminjam bukunya Rico sebagai sumber jawabannya yang akan diberitahukan kepada ayahnya.
       Tak lama kemudian, mereka keluar untuk buber. Lalu, berhentilah di rumah makan yang terkenal yaitu bebek goreng H Slamet yang terkenal di daerah Kartosuro (kota antara Jogja dengan Solo). “Ini bebek gorengnya benar-benar enak banget lho Clara” kata Vino.
Clara: yang benar Vin (tersenyum)
Vino: coba saja nanti …tapi, kalau sudah adzan magrib (tertawa)
Clara: (tersenyum) btw ini ada cabangnya nggak Vin….
Vino: wah,,cabangnya sudah banyak banget Clara tersebar di pulau Jawa (tersenyum)
Clara: waduh…keren banget Vin…itu sudah adzan Vin…
Vino: iya…ya sudah kita baca do’a dulu sebelum berbuka….

       Mereka berbuka puasa dengan menu bebek goreng yang sangat enak. Dan mereka sangat bersyukur bisa berbuka dengan makanan yang lezat. Tak lupa juga Vino membelikan bebek goreng untuk keluarganya dan keluarga Clara. Jadikanlah, bulan Ramadhan sebagai momen yang istimewa saling berbagi dan yang paling penting maksimalkan ibadah kita di bulan itu karena itu adalah bulan istimewa yang akan melipat gandakan pahala kita yang berbeda lipatannya dari bulan yang lainnya. Untuk Clara itu juga momen yang istimewa karena disaat itu juga dia pertama kali dan selamanya akan berjilbab. Berjilbab adalah salah satu syariat islam yang harus dilakukan untuk para kaum hawa. Ini adalah manfaat berjilbab menurut islam dan ilmu pengetahuan yaitu selamat dari azab Allah, terhindar dari pelecehan, memelihara kecemburuan laki-laki, akan seperti bidadari surga, mencegah penyakit kanker kulit dan memperlambat gejala penuaan.

minato

Nafas Terakhir Seorang Ayah


Segmen 31
Nafas Terakhir Seorang Ayah”

       Di luar ruangan Faisal dan Fina duduk berdua sambil membicarakan sesuatu, sedikit Faisal memberi semangat untuk Fina “kamu sabar saja ya Fin, ayah kamu pasti sembuh” kata Faisal dengan senyum di wajahnya. “Iya, makasih ya Sal, tapi kan ini sudah ketiga kalinya ayahku masuk rumah sakit” jawab Fina yang nampak lesu.
Faisal: iya, pasti ini cobaan dari Tuhan untuk kamu dan keluarga kamu (memandang orang yang keluar masuk ruangan)
Fina: aku tahu Sal, sebagai anak aku juga merasa sedih (memandang Faisal)
Faisal: oh iya, kapan pertama ayahmu masuk ke rumah sakit?
Fina: sekitar dua bulan yang lalu,,,habis dibawa pulang beberapa minggu kemudian penyakitnya kambuh lagi….sampai sekarang ini..
Faisal: kamu dan keluargamu kan pasti belum makan,,, ya sudah ayo kita keluar sebentar yuk untuk beli makan (tersenyum)
Fina: ya sudah ayo,,,

       Mereka melangkahkan kakinya keluar untuk membeli makanan lalu tibalah mereka di sebuah warung “ya sudah kamu pesan dulu, aku mau ke toko itu sebentar” kata Faisal. Beberapa menit kemudian, Faisal kembali ke warung setelah dari toko “gimana, pesanannya sudah selesai” kata Faisal sambil membawa sesuatu.
Fina: ini baru saja, selesai (tersenyum)
Faisal: ini aku beliin air minum aqua (berkata dengan Fina) ya sudah, semuanya berapa bu (berkata dengan penjual)
Penjual: semuanya 18 ribu mas (tersenyum)
Faisal: ini bu…makasih ya, mari bu (tersenyum)
Penjual: iya mari-mari mas (tersenyum)
Fina: oh iya Sal, ini uangnya…
Faisal: ini uang untuk apa Fin? (sedikit bingung)
Fina: uang ganti untuk membeli makanan tadi (tersenyum)
Faisal: halah,,,,nggak usah Fin, simpan saja uangnya (tersenyun)
Fina: (tersenyum) nggak Sal, aku nggak suka ngrepotin orang lain….ini uangnya terima saja….
Faisal: nggak ngrepotin sama sekali kok Fin…sudah, simpan saja sekarang kan pasti kamu lebih membutuhkan uang itu,,,untuk membeli keperluan lainnya nanti (tersenyum)
Fina: ya sudah makasih ya Sal…(memandang Faisal dengan senyum manis)
Faisal: iya sama-sama…nah begitu senyum, nggak kayak tadi (tertawa)
Faisal: ahh kamu ada-ada saja Sal (tersenyum)

       Magrib pun tiba, mereka telah kembali ke rumah sakit dan masuk ke sebuah ruangan di mana ayah Fina dirawat. Di dalam ruangan itu, ada ibu dan adik-adik Fina yang menemani ayahnya sedangkan para saudara Fina sudah pulang semenjak sore tadi. Dengan nada yang cukup pelan Faisal berbicara kepada Fina “Fin, aku mau sholat magrib dulu ya”. “Oh iya Sal, silahkan aku sholatnya habis ini” kata Fina sambil menaruh makanan dan minumannya di meja.
Ibu Fina: kamu bawa apa itu Fin? (melihat bungkusan itu)
Fina: oh itu makanan kok bu,,,tadi Fina dan Faisal habis beli di warung (mengambil makanan itu untuk ibunya)
Ibu Fina: ya sudah,, kamu sholat dulu sana (tersenyum)
Fina: iya bu..ya sudah dimakan bu makanannya, ibu, Indah dan Taufik kan belum makan…
Ibu Fina: Indah, Taufik,,,ke sini makan dulu….jangan nonton tv terus (tesenyum)
Indah dan Taufik: (mendekati ibunya yang bawa makanan)

       Kemudian, Faisal kembali ke ruangan itu setelah menunaikan ibadah sholat magrib dan Fina berkata “sudah selesai sholat Sal, kok lama”
Faisal: sudah,,, tadi ketemu teman waktu SMA jadi di sana ngobrol sebentar begitu (tersenyum)
Fina: oh begitu…ya sudah ini makananmu dimakan (memberikan makanannya)
Faisal: (tersenyum) nggak usah saja Fin…makasih,,,
Fina: lho, kan kamu tadi yang beli sich,,,,udah aku pesankan tadi di sana…
Faisal: iya,, aku kan niatnya mau beliin kamu dan keluarga kamu (tersenyum)
Fina: (tersenyum dan memandang Faisal)
Faisal: oh iya, aku kan sudah lama di sini dari tadi sore,,,aku mau pulang dulu takutnya nanti mamaku nyariin (tersenyum)
Fina: oh…ya sudah sebelumnya makasih ya Sal sudah ngrepotin (bersalaman dengan Faisal)
Faisal: iya sama-sama…biasa saja lagi Fin (tersenyum)
Faisal: bu.. mau pulang dulu (bersalaman dengan ibu Fina)
Ibu Fina: iya nak Faisal,,,makasih sudah mau ke sini (tersenyum)
Faisal: pak, saya pamit pulang dulu (berkata dengan ayah Fina)
Ayah Fina: iya nak Faisal,,,hati-hati di jalan (batuk-batuk)

       Pada malam hari itu, Faisal pun pulang. Sedangkan, di dalam ruangan rumah sakit, Fina duduk di samping ayahnya dan berkata “gimana pak, sudah agak baikan” sambil memandang ayahnya dengan penuh rasa kasihan.
Ayah Fina: iya,,, bapak sudah mendingan…
Fina: alhamdulilah,, ya sudah pak, Fina suapin ya makanannya (tersenyum)

       Fina menyuapi ayahnya dengan rasa penuh kasih sayang, dia benar-benar ingin merawat ayahnya dengan sepenuh hati. Dulu sebelum, Fina menjadi penulis novel ayahnya sangat baik dengan Fina dan keluarganya, ayahnya dikala itu benar-benar bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarganya mulai dari makan dan berusaha menyekolahkan anak-anaknya. Di saat Fina ingin menyuapi ayahnya lagi, tiba–tiba ayahnya berkata “oh iya Fin, bapak hampir lupa dulu waktu ultahmu pada waktu masih SMP kelas 3 katanya dulu kamu mau minta dibelikan sebuah boneka iya tow” sambil terbaring di tempat tidurnya.
Fina: iya pak (tersenyum)
Ayah Fina: tolong ambilkan bu (berkata dengan istrinya)
Ibu Fina: (membawa sebuah boneka kucing yang cukup besar)
Ayah Fina: kasihkan ke Fina…(berkata dengan ibu)
Fina: maksudnya apa ini pak? (mata yang berkaca-kaca)
Ayah Fina: dulu kan bapak, nggak sempat membelikan kamu boneka karena bapak dulu nggak punya uang,,,dan sekarang bapak baru bisa beliin untuk kamu (tersenyum)
Fina: makasih ya pak…..(memeluk ayahnya dengan air mata yang tak tertahan)
Ibu Fina: (memandang mereka berdua dengan rasa terharu)
Taufik dan Indah: (sibuk menonton tv)
Ayah Fina: sudah,,nggak usah menangis (mengusap kepala Fina)
Fina: (mengusap air matanya dan sedikit tersenyum)
Ayah Fina: tadi itu, teman kamu atau pacar kamu? (tersenyum)
Fina: (tersenyum) cuma teman kok pak….
Ayah Fina: oh,,,dia kelihatannya anaknya baik dan ramah…
Fina: memang Faisal baik anaknya,,,tadi kan yang beliin makanan dan minuman dia pak…
Ayah Fina: oh….kamu nggak suka begitu sama dia…
Fina: (hanya tersenyum)
Ayah Fina: kok malah tersenyum…
Fina: habis, bapak nanyanya ada-ada saja (tersenyum)
Ayah Fina: nggak apa-apa lagi,,,kalau kamu suka sama Faisal….kan, dia anaknya baik…cari seorang laki-laki itu nggak perlu kaya, yang penting baik dengan keluarga kamu, bertanggung jawab dan mempunyai sebuah pekerjaan…untuk masa depan kamu,,,
Fina: iya pak,,(tersenyum)
Ayah Fina: sekarang itu, laki-laki yang kaya belum tentu bisa ngebahagiakan seorang istri…
Fina: bukannya laki-laki yang kaya,,bisa memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya dengan baik pak
Ayah Fina: apa kamu mau, dapetin seorang laki-laki yang kaya tapi, nggak pintar dengan keluarga kamu..
Fina: iya nggak mau kalau nggak baik dengan bapak dan ibu….
Ayah Fina: maka dari itu, kamu harus bisa memilih….kaya belum tentu bisa memberi kenyamanan…tapi, kalau baik pasti selalu bisa memberi kenyamanan….
Fina: iya pak,,, ya sudah bapak istirahat dulu kan sudah malam,,,besok Fina juga kuliah (mencium kening ayahnya)
Ayah Fina: (hanya tersenyum)

       Fina dan sekeluarga akhirnya tidur pulas. Pagi yang cerah Faisal bersiap-siap untuk berangkat kuliah dan tak lupa Faisal berpamitan dengan kedua orang tuanya. Dikeluarkannya dari dalam garasinya Satria F warna merah tua, Faisal melihat ke atas langit dan berkata “wah, cuaca yang cerah nie semoga aktivitasku juga cerah atau lancar” lalu dinyalakan motornya dan bergegas berangkat kuliah. Sambil memperpelan laju motornya Faisal menikmati pemandangan sekitar “ternyata indah juga ya kota Yogyakarta pagi hari ini” kata Faisal dari dalam hati. Beberapa saat kemudian, Faisal sampai di kampusnya UGM, setelah memarkirkan motornya Faisal duduk di halaman kampus dan mengeluarkan sebuah buku. Itu adalah novel Fina, asyik membaca novel dari arah belakang muncul Vino dan Kelvin “hai Sal, tumben pagi-pagi sudah baca buku” kata Kelvin.
Faisal: oh kalian…tumben kamu bareng sama Vino (tersenyum)
Kelvin: iya, tadi aku ke rumah Vino buat nganter tugas kuliah sekalian berangkat bareng….(duduk di samping Faisal)
Vino: oh iya Sal,,tadi malam ke mana saja…di cariin nggak ada di rumah (memandang Faisal)
Faisal: sorry mens, aku tadi malem di rumah sakit…
Kelvin: oh,,,jenguk ayahnya Fina yang sakit ….
Faisal: iya Vin…pulang habis magrib terus Joni ngajakin ke warnet ya sudah aku nggak jadi pulang ke rumah, sampai rumah malah jam 11an…(tersenyum)
Kelvin: oh begitu (sambil membalas sms)
Vino: ya sudah,,kita ke kelas mens…hampir masuk nie…
Kelvin: ayo..(berdiri)
Faisal: (memasukan novelnya ke dalam tas)

       Mereka bertiga masuk ke dalam kelas untuk mengikuti mata kuliah Pengantar Ilmu Administrasi Niaga. Di dalam kelas, Faisal menengok ke arah bangku Fina yang ternyata kosong “paling Fina, masih nemenin ayahnya di rumah sakit” ucap Faisal dalam hati. Dosen menerangkan materinya dan para mahasiswa mendengarkan dengan tenang.
       Waktu menunjukan pukul 11.11 wib tanda kuliah telah selesai. Faisal, Kelvin, Joni, Radit dan Vino berkumpul di parkiran kampus. Dan Vino berkata “ sekarang kita jadi sich, buat jenguk ayah Fina di rumah sakit” sambil memandang sahabatnya.
Radit: iya kita semua ada waktu…iya kan teman-teman (tersenyum)
Joni: iya,, ya sudah kita mau beli apa buat Fina dan keluarganya….
Vino: ya kita belikan buah-buahan dan roti …gimana (mengeluarkan uang dari dompetnya) ini uangnya…
Clara: (tersenyum)
Kelvin: kamu terus Vin, yang ngluarin uangnya….kita iuran saja….(duduk di motornya)
Joni: iya aku setuju…(tersenyum)
Clara: iya sayang, benar kata Kelvin…
Vino: oh ya sudah kalau begitu….mau urunan berapa?
Kelvin: biar adil kita urunan 20rb per orang,,,setuju kan….
Radit: ok! dech ini uangnya (mengeluarkan uang dari sakunya)

       Radit, Kelvin, Faisal dan Joni serta Clara mengumpulkan iuran itu kepada Vino “semua sudah pada iuran, ini jumlahnya 120 rb” kata Vino sambil menunjukan total uangnya.
Kelvin: aku dan Vino saja yang membeli buah dan roti…kalian semua langsung menuju rumah sakit..ok!!
       Akhirnya Kelvin dan Vino membeli buah-buahan dan roti di suatu tempat sedangkan temannya yang lain langsung menuju ke rumah sakit. Semua sudah menyalakan motornya dan cepat-cepat menuju rumah sakit. Beberapa menit kemudian, Faisal, Joni, Clara dan Radit sampai di rumah sakit tapi, alangkah terkejutnya mereka di dalam ruangan sudah tak melihat ada Fina dan keluarganya. Lalu, Faisal bertanya dengan pasien keluarga sebelah “maaf bu, pasien yang tinggal di sini ke mana ya” sambil menunjukan tempatnya. “Masak mas, nggak tahu bapak yang kemarin di rawat di situ sudah meninggal jam 4 pagi” kata seorang itu.
Faisal: innalilahi wainalilahi rojiun (kaget) ya sudah makasih bu (bergegas keluar)
Radit: ada apa Sal? (cukup panik)
Faisal: sekarang kita ke rumah Fina…ayo cepat ..!!
Joni: maksud kamu ayah Fina sudah dibawa pulang begitu…
Faisal: ayah Fina ternyata sudah meninggal tadi jam 4 pagi (perasaan yang sedih)
Radit: innalilahi wainnailahi rojiun (berjalan menuju parkiran di rumah sakit)
Clara: innalilahi wainnailahi rojiun…ya sudah aku sms Vino dan Kelvin buat langsung menuju ke rumah Fina…
Faisal: iya Clara (mengambil motornya dengan buru-buru)

       Kemudian mereka sampai di rumah Fina, nampak orang-orang yang sedang berdatangan menuju rumah Fina, suasana pada waktu itu ramai dan penuh kesedihan yang menyelimuti keluarga Fina. Faisal, Clara, Radit dan Joni disambut hangat oleh para saudara Fina dan dari dalam rumah nampak jenazah ayahnya. Fina dan keluarganya memperlihatkan tangis dan kesedihan. Mungkin, seorang ayahnyalah yang membawa pengaruh besar terhadap keluarganya mulai dari mencari rizki sampai pada sebuah nasehat dan bimbinganya. Lalu, mereka bersalaman dengan para orang disekitar ketika masuk ke dalam rumah Fina kemudian, Fina menghampiri mereka berempat. “Kenapa kamu nggak beritahu aku sich Fin” kata Faisal.
Fina: maaf Sal (mata yang sedikit merah)
Faisal: ya sudah nggak apa-apa…kamu yang sabar ya, kami turut berduka cita atas meninggalnya ayahmu (memandang Fina dengan belas kasihan)
Fina: iya makasih ya,,ya sudah kalian duduk di sana…

       Selang beberapa saat kemudian, Kelvin dan Vino datang dengan membawa buah-buahan dan roti. Semuanya bisa berkumpul dihadapan jenazah ayah Fina dan tak lupa Fina mengucapkan terima kasih kepada teman-temannya yang sudah ikut turut berduka cita atas meninggalnya ayahnya. Pada pukul 4 sore jenazah ayah Fina mulai dimakamkan, tak terbendung tangis yang mengalir di mata Fina dan keluarganya ketika ayahnya dimasukan ke dalam liang lahat. Faisal dan teman-temannya sepakat untuk membiayai acara 7 hari meninggalnya ayah Fina. Setelah ayah Fina meninggal, hanya Fina yang menghidupi keluarganya dari penjualan novel itu. Faisal dan teman-temannya selalu datang di acara 7 hari meninggalnya almarhum dengan bersama-sama membacakan surat yasin dan tahlil.
       Semua orang yang hidup pasti akan meninggal, tentunya kita harus siap dan ikhlas ketika Sang Illahi mengambil orang-orang yang kita cintai. Tentunya semuanya nanti akan kembali kepada Sang Pencipta. Semasa kita hidup, kita harus menyiapkan bekal sebanyak-banyaknya untuk menuju sebuah kehidupan yang abadi di akhirat nanti. Sebelum almarhum meninggal, beliau memberi sebuah boneka untuk Fina sebagai hadiah yang dulunya belum sempat beliau berikan kepada Fina di saat ultah Fina, dan selamanya boneka itulah yang akan memberikan kesan terindah untuk Fina. Kebaikan seseorang semasa hidupnya pasti akan selalu dihargai dan diingat karena dengan kebaikan itu orang menjadi sangat berharga di mata orang lain terutama orang-orang yang kita cintai. Sedangkan, para teman-temanya akan memberikan kesan sendiri untuk Fina bahwa kedatangan teman-temannya akan sangat memberi pengaruh kepada Fina terutama dalam memberi sebuah dukungan dan motivasi untuk dapat menerima kenyataan serta mengikhlaskan sesuatu. Cobaan itu adalah sesuatu yang menghambat kehidupan kita dan cobaan itu juga yang mengajarkan kita untuk bisa selalu bersabar, kuat dan tegar dalam menjalani hidup yang tak mudah ini. Sebuah cobaan apabila kita hadapi sendiri maka akan terasa berat bahkan dapat melahirkan sebuah keputus asaan tetapi, andai kata sebuah cobaan dihadapi dengan bersama terutama dengan orang-orang yang kita cintai seperti teman, kekasih dan keluarga kita tentunya akan terasa lebih ringan. Hidup itu harus selalu peduli dengan orang lain, kita menolong seseorang tidak hanya kepada seseorang yang kita kenal saja, tetapi juga orang lain di luar sana  yang tidak kita kenal pun harus wajib kita tolong.

minato

Kesan Terindah Selama Di Kota Semarang


Segmen 30
“Kesan Terindah Selama Di Kota Semarang”

       Di dalam kelas Kirana sedang sibuk membaca sebuah buku diam-diam ada seseorang yang masuk ke dalam kelasnya karena terlalu fokus membaca buku Kirana pun tak menyadarinya dan kemudian dari arah belakang seseorang itu menutup mata Kirana “siapa sich ini?” kata Kirana lalu Kirana berpikir sejenak “ahh pasti ini angel kan”. Dan seseorang melepaskan tangan dari mata Kirana. “Kelvin! Kok kamu sampai sini” kata Kirana dengan jantung yang cukup kaget.
Kelvin: iya dong…kan, aku pengen ngajak kamu pulang bareng (tersenyum dan memandang Kirana)
Kirana: (tersenyum) ya sudah Vin,,kamu duduk sini dulu….
Kelvin: kamu sedang baca apa Kirana (duduk di sebelah Kirana)
Kirana: ini aku lagi baca buku psikologi (tersenyum)
Kelvin: oh iya Kirana, nanti kamu pulang ke Semarang nggak,,,kan sekarang hari jum’at….(memandang kelas Kirana)
Kirana: nanti aku pulang kok Vin,,,,kenapa masih kangen ya (bercanda)
Kelvin: (tersenyum) kan dulu kamu pernah janji sama aku,,,kalau kamu ingin ngajak aku main ke rumahmu di Semarang (memandang Kirana)
Kirana: kapan ya (bercanda)
Kelvin: waktu kita main ke Malioboro itu (tersenyum)
Kirana: ahh nggak ahh…aku nggak bilang kayak begitu (tertawa)
Kelvin: oh …begitu tow…aku marah lho (sedikit cemberut)
Kirana: (tertawa) marah kok bilang-bilang sich Vin…iya, kan aku tadi cuma bercanda…(tersenyum)
Kelvin: aku juga bercanda kali (tertawa) begini saja nanti aku antar kamu pulang sekalian aku tidur di sana juga (tersenyum)
Kirana: maksudnya kamu tidur di rumahku begitu….
Kelvin: iya nggaklah…aku tidurnya di mobil kali (tertawa)
Kirana: oh,,kirain (tersenyum) kasian banget tow sayang,,,kamu kok tidur di mobil sich…
Kelvin: iya nggak apa-apa sayangku….daripada tidur di jalan,,,lagian kan di mobil kursinya empuk,,,emang keras kayak batu,,,kalau keras ya badanku sakit semua (tertawa)
Kirana: ahh kamu bisa saja (tertawa)
Kelvin: sudah ahh…jangan banyak ketawa nanti perutnya sakit (tersenyum)
Kirana: habis kamu lucu kok Vin (tersenyum)
Kelvin: ya sudah pulang sekarang yuk,,,kan aku mau jum’atan juga (tersenyum) nanti aku antar pulangnya habis sholat jum’at saja ya Kirana…
Kirana: ok! dech Vin…(memasukan bukunya ke dalam tas)

       Sebelum pulang ke rumahnya, Kelvin mengantar Kirana ke kos-kosan yang tak jauh dari kampus. Suasana yang mendung membuat Kelvin terburu-buru pulang “oh iya aku hampir lupa, aku kan pernah kecelakaan” kata Kelvin dalam hati, akhirnya pun Kelvin memperpelan laju motornya. Kelvin pun tak sabar ingin bisa main ke Semarang.
       Sesampai di rumah Kelvin bersiap-siap untuk sholat jum’at. Dari teras rumahnya ibu Kelvin bertanya kepada Kelvin “oh iya Kelvin, kamu habis ini mau main lagi nggak”. “Oh iya mah, hampir lupa habis ini Kelvin mau nganter Kirana pulang ke Semarang mah” sambil memakai sarung dan peci.
Mama Kelvin: jauh banget main ke Semarang (memandang Kelvin)
Kelvin: iya nggak apa-apa mah..sekali-kali,,boleh ya mah (tersenyum sambil merayu mamanya)
Mama Kelvin: terus kamu tidurnya di mana…pasti kamu kan nggak mungkin langsung pulang (cukup tegas)
Kelvin: iya di mobil kan bisa mah (tersenyum)
Mama Kelvin: kasian banget anak mama tidur di mobil (memandang Kelvin)
Kelvin: emang apa salahnya mah kan cuma dua hari, minggu Kelvin pulang kok kalau tidur di hotel mahal mah (sedikit cemberut) kan di luar sana masih banyak yang menderita dari Kelvin…lihat saja orang-orang yang hidup di jalanan pasti ngrasain panas pada siang hari dan dingin pada malam hari….izinkan Kelvin buat nganter kirana ya mah,,,karena tanpa izin mama Kelvin tak akan berangkat (kepala tertunduk)
Mama Kelvin: (diam sejenak sambil memandang Kelvin) ya sudah….mama izinkan kamu buat nganter Kirana….
Kelvin: (wajah yang senang) makasih ya mah,,,mama memang baik bener,,,ya sudah Kelvin berangkat sholat jum’at dulu (mencium tangan mamanya) assalamu’alaikum..
Mama Kelvin: (tersenyum) wa’alaikum salam…..

       Tiba-tiba hujan pun turun dengan deras, di kamarnya terlihat Kelvin sedang mempersiapkan sesuatu untuk di bawa ke Semarang “bawa pakaian, handuk dan perlengkapan mandi sudah, apa lagi ya yang belum” ucap Kelvin. Dan setelah berpikir sejenak Kelvin menemukan ide “oh iya, untuk orang tua Kirana aku bawain saja oleh-oleh dari sini pasti ortunya senang” sambil tersenyum. Kemudian, Kelvin berangkat dan tak lupa berpamitan dengan kedua orang tuanya “hati-hati ya Vin di jalan” kata ayahnya. “Iya yah” jawab Kelvin sambil membawa tasnya. Beberapa saat kemudian, Kelvin sampai di kos-kosan Kirana. Dari dalam kosnya Kirana sedang bersiap-siap dan seorang teman kosnya bertanya kepada Kirana “itu Kirana, pangeranmu sudah datang” sambil melihat ke jendela. Dan Kirana hanya tersenyum saja.
       Dalam perjalanan, sejenak Kelvin berhenti di Malioboro untuk membeli oleh-oleh. “Kok berhenti di sini emang ada apa Vin” sambil memakai jaket dari dalam mobil.
Kelvin: sebentar ya Kirana ,,,kamu tunggu di sini nggak usah keluar soalnya hujannya deras (membuka pintu mobilnya)
Kirana: iya Vin…..(sedikit kedinginan)

       Dari dalam kaca jendela mobil, Kirana nampak melihat Kelvin sedang membawa bungkusan yang cukup banyak.
Kelvin: (membuka pintu mobilnya) ini sayang,,,ada oleh-oleh untuk orang tuamu (tersenyum)
Kirana: (menerima bungkusan itu) wah, makasih banyak ya Vin (tersenyum)
Kelvin: (kembali menyetir) iya sama-sama Kirana (tersenyum)

       Kirana pun tertidur di dalam mobil Kelvin, lalu dilepasnya jaket yang Kelvin pakai untuk menyelimuti Kirana yang cukup kedinginan. Beberapa jam kemudian, mereka sampai di Semarang, rumah Kirana berada di kawasan simpang lima.
       Kota Semarang terletak di pesisir Utara Pulau Jawa dan merupakan Ibukota Propinsi Jawa Tengah, sama seperti letaknya yang berada tepat ditengah-tengah antara pesisir Timur dan Barat Pulau Jawa. Lingkungan Kota Semarang sangat cocok bagi wisatawan yang ingin melakukan day trip and side dan side excursions.
       Kenangan masa lalu di kota ini akan membawa kita kembali ke abad 15 sampai dengan abad 18 sesudah Masehi di mana sebuah monumen yang kolonial dan kuno masih berdiri sampai sekarang, selain itu juga, di bagian lain Kota Semarang, dekat dengan pelabuhan, kita dapat menemukan berbagai bangunan menarik yang akan mengingatkan kita kembali pada masa kolonial Belanda dan VOC seperti Gereja Blenduk, gereja umat kristiani tertua di Jawa Tengah yang dibangun oleh masyarakat Belanda pada tahun 1753. Bangunan ini menunjukkan arsitektur abad 18 dengan aulanya yang sangat besar dan bergaya seni abad 17. Berdekatan dengan gereja, terdapat beberapa bangunan yang berasal dari jaman kolonial Belanda, seperti Stasiun Tawang, Stasiun Kereta Utama dengan arsitektur masa lampaunya juga terletak di area ini. Sementara itu, Lawang Sewu atau biasa disebut sebagai bangunan seribu pintu, yang terletak di Semarang kota juga merupakan sebuah gedung bersejarah dari masa Belanda.
       Selain berbagai koleksi bangunan-bangunan kolonial Belanda yang menarik, di Semarang terdapat juga bangunan bersejarah dengan arsitektur khas dari negeri Cina. Di bagian barat Kota Semarang terdapat sebuah kuil Sampokong atau biasa dikenal sebagai Gedong Batu (Bangunan Batu) yang didedikasikan kepada seorang China yang muslim, Laksamana Cheng Ho, yang pertama kali datang pada Tahun 1406 sebelum Masehi. Selain itu terdapat pula kuil China Buddha, Tay Kak Sie yang berada pada jalan Lombok dan dibangun pada Tahun 1772.
       Itulah kilasan sedikit mengenai sejarah Kota Semarang, lalu mereka sampailah di rumah Kirana yang cukup mewah. “Oh ini, rumahmu Kirana” sambil memandang dari dalam jendela. “Ya sudah kita masuk sekarang Vin” sambil membuka pintu mobil. Dari depan rumahnya, kedua orang tua Kirana sudah menunggunya dengan penuh rasa sopan Kelvin bersalaman dan memberikan senyum terhangat kepada kedua orang tua Kirana. “Oh ini yang namanya den Kelvin” kata mama Kirana.
Kelvin: (rasa malu) kok den sich tante, emang Kelvin anak ningrat (tersenyum)
Mama Kirana: kan, nggak apa-apa,, biar enak saja manggilnya (tersenyum)
Kelvin: ahh tante bisa saja (tersenyum)
Ayah Kirana: ya sudah silahkan masuk…den Kelvin…(mempersilahkan masuk)
Kelvin: (melangkahkan kakinya masuk dengan wajah yang masih terlihat malu) iya om…
Kirana: ya sudah Vin…aku buatin minum dulu ya (tersenyum)
Kelvin: (duduk di kursi ruang tamu) iya Kirana…
Mama Kirana: iya sudah den Kelvin….habis ini makan dengan Kirana kan pasti kalian laper,, (tersenyum)
Ayah Kirana: iya den Kelvin…sudah dimasakin mama Kirana rendang (tersenyum)
Kelvin: iya om…makasih…(tersenyum sambil memandang kedua orang tua Kirana)
Mama Kirana dan Ayah Kirana: (masuk ke dalam)
Kirana: (membawa dua gelas teh hangat) ini Vin minumanya…(duduk di samping Kelvin)
Kelvin: iya sayangku…makasih (meminum tehnya)
Kirana: gimana Vin…rumahku jelek kan (merendah)
Kelvin: kalau rumahmu kayak begini dibilang jelek..terus yang mewah seperti apa (tersenyum) rumah kamu mewah kali Kirana….oh iya ini kan sudah sore,,ya sudah kamu mandi dulu sana…habis ini temani aku keliling kota semarang ya (memandang Kirana)
Kirana: ok!! tapi, habis ini kita makan dulu..sudah disiapkan mama di meja makan tuh,,(tersenyum)
Kelvin: iya dech sayang…..
Kirana: sayang juga mandi ya,,,biar baunya nggak kecut (ngledek sambil masuk ke dalam untuk mandi)
Kelvin: (hanya tersenyum)

       Setelah mereka mandi dan makan bersama akhirnya mereka pamit keluar kepada orang tua Kirana untuk jalan-jalan di sekitar kota semarang. Di dalam mobil Kelvin bertanya kepada Kirana “kita sekarang mau kemana dulu nie Kirana” sambil menyetir.
Kirana: yang dekat dulu saja…di simpang lima (tersenyum)
Kelvin: terus mobilku diparkir di mana Kirana (memandang Kirana)
Kirana: kita parkir di CL saja…
Kelvin: ok! dech…..

       Mereka berjalan-jalan di CL, Matahari dan Robinson. Mereka membeli sesuatu mulai dari aksesoris sampai baju, Kelvin dan Kirana begitu menikmatinya ketika itu kemudian mereka istirahat sejenak sambil makan es krim di CL. “Kok di sekitar sini banyak pengemis ya Kirana” sambil makan es krimnya.
Kirana: iya aku juga kurang tahu latar belakang ekonomi mereka seperti apa,,,,kan, tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah (tersenyum)
Kelvin: kita jangan buruk sangka dulu ….mungkin, saja mereka benar-benar tak mampu mencari rezeki dengan cara bekerja atau nggak tingkat pendidikan mereka yang rendah (memandang orang di sekitar CL)
Kirana: benar juga kamu Vin…tapi, kan setahuku di agama islam mengajarkan kita boleh benar-benar mengemis apabila sudah tak mampu lagi untuk bekerja..seperti, sudah tua renta atau cacat fisiknya….
Kelvin: bahkan terkadang nie…orang yang memiliki keterbatasan saja bisa mencari uang yang tidak bisa kita duga…bahwa sebuah keterbatasan tidak menjadikan sebuah alasan untuk kita selalu berusaha…(tersenyum)
Kirana: iya Vin…(tersenyum)
Kelvin: oh iya…untuk seseorang yang boleh mengemis,,,kan uangnya hanya boleh digunakan untuk menyambung hidupnya saja…
Kirana: maksudnya Vin? (memandang Kelvin)
Kelvin: maksudnya, uang itu hanya boleh digunakan untuk makan saja…
Kirana: wah,,barati selain itu nggak boleh…seperti membeli sesuatu yang mewah begitu..(sambil mengusap mulutnya dengan tisu)
Kelvin: iya, orang yang mengemis itu terkadang sedikit ada benernya juga kok…
Kirana: kok bisa Vin? (tersenyum)
Kelvin: iya lebih baik mereka mengemis …daripada mereka harus mencuri atau merampok…malah itu sangat merugikan orang lain…kan, banyak kasus di luar sana…seorang perampok membunuh korbannya,,,hanya gara-gara uang…
Kirana: (tersenyum) iya sich Vin….kehidupan orang selalu berbeda-beda,,,
Kelvin: ya mungkin, yang membedakannya adalah kebutuhan, pola pikir dan gaya hidupnya….begitu…
Kirana: iya…tapi, kan masih banyak faktor-faktor lain (tersenyum) sekarang kita lihat orang main sepatu roda saja yuk…
Kelvin: di mana emangnya (membuang bungkus es krimnya)
Kirana: di alun-alun simpang lima (tersenyum)
Kelvin: ayo,,,,boleh juga (menggandeng tangan Kirana)

      Duduk berdua di bawah pohon, mereka asyik memandang orang yang sedang bermain sepatu roda. Sambil menikmati indahnya dan ramainya kota semarang pada waktu itu, Kelvin dan Kirani asyik bercerita mengenai tempat tinggalnya masing-masing. Asyik bercerita, ternyata waktu sudah menunjukan pukul setengah sepuluh malam dan mereka segera pulang ke rumah Kirana. Lalu, Kelvin buru-buru mengambil mobilnya di parkiran CL karena parkirannya akan tutup pukul 10 malam. Ketika sudah sampai di depan rumah, Kirana bertanya kepada Kelvin “beneran kamu mau tidur di mobil Vin” memandang Kelvin dengan rasa kasihan.
Kelvin: iya nggak apa-apa Kirana….kan, aku juga nggak enak dengan tetangga kamu masak belum apa-apa sudah tinggal satu rumah…(tersenyum)
Kirana: kan, masih ada kedua orang tuaku di dalam rumah lagian, kamu kan seperti tamu…dan tamu itu adalah raja juga kan.
Kelvin: ahh kamu bisa saja Kirana (tersenyum)
Kirana: nggak ahh…aku nggak mau kamu tidur di dalam mobil (sedikit memaksa) kamu tidur saja di kamar sebelah, kebetulan itu kamarnya nggak ada yang meniduri …(memandang Kelvin)
Kelvin: ya sudah…terserah kamu saja (membuka pintu mobil)
Kirana: nah,,,begitu nurut sama ceweknya (tersenyum)

       Orang tua Kirana malah menyarankan Kelvin tidur di kamar sebelah dan akhirnya Kelvin tidur di dalam rumah Kirana. Kelvin merasa senang dengan perlakuan orang tua Kirana yang baik dan menghargai Kelvin. Dengan nyala lampu yang terang dan gambar poster ungu di dinding Kelvin tidur terlelap. Keesokan harinya, bunyi ringtone dari alarm membuat Kelvin terbangun, lalu dia mengerjakan sholat subuh dan setelah sholat subuh Kelvin keluar rumah untuk menikmati segarnya udara pada pagi hari. Dari dalam kamarnya Kirana menuju ke kamar Kelvin yang ternyata Kelvin tak berada di kamarnya lalu Kirana mencoba keluar, dilihatnya Kelvin sedang terduduk di teras rumahnya. “Kamu sudah bangun Vin” kata Kirana sambil duduk di dekatnya.
Kelvin: iya, kamu sudah bangun juga (melihat pemandangan sekitar) sudah sholat subuh belum kamu Kirana (memandang Kirana)
Kirana: sudah kok Vin…ayo kita jalan-jalan yuk Vin,,,
Kelvin: kemana sayangku…?
Kirana: di alun-alun simpang lima saja yang dekat, iya sekalian kita cari sarapan…
Kelvin: ayo…kita jalan kaki…?
Kirana: iya..sekalian kita olah raga tow…ya sudah aku ganti baju dulu…masak aku pakai baju tidur (tertawa)
Kelvin: (memandang Kirana sambil tersenyum)

       Beberapa waktu setelah jalan-jalan di simpang lima mereka berhenti sejenak. “Capek banget ya Kirana” kata Kelvin sambil mengusap keringatnya. “Ahh belum apa-apa Vin” memberi Kelvin minum. Mereka pun melanjutkan jalan-jalannya lagi. Di kota Semarang yang indah, pagi yang cerah dan kedua wajah mereka yang ceria menambah suasana yang semakin romantis pada waktu itu. Lama berjalan-jalan Kelvin dan Kirana berhenti sejenak di suatu tempat untuk sarapan pagi “oh kamu kalau beli sarapan di sini” kata Kelvin.
Kirana: iya..di sini makanannya enak kok Vin (tersenyum)
Kelvin: oh…kamu mau pesan apa? nanti aku pesankan…
Kirana: aku nasi rames saja Vin….
Kelvin: ok! ya sudah kamu duduk dulu…kalau aku mau pesan nasi soto (tersenyum)
Kirana: oh iya,,,kamu sukanya nasi soto kok ya (tersenyum)
Kelvin: nanti malam kan malming ya sayangku…kita mau main ke mana lagi (memandang Kirana)
Kirana: nanti malam kita ke kampung laut, tugu muda dan kota lama…
Kelvin: wah kayak melancong saja (tertawa) denger-denger sich di sini ada tempat wisata lawang sewu, kita nggak ke sana Kirana (tersenyum)
Kirana: (tersenyum) aku takut tempat kayak gituan sayangku……
Kelvin: oh ya sudah nggak apa-apa kalau kamu takut…berarti lain kali saja ya (tersenyum)
Kirana: iya Vin…lain kali nunggu aku berani dulu ya (tertawa)
Kelvin: terserah apa kata sayangku ini (tertawa)
Kirana: kayak bahasa mana gitu (tertawa)
Kelvin: ini nasi rames buat kamu….dan ini nasi sotonya buat aku….mari makan (tersenyum)
Kirana: ahh sayangku lebaynya kumat tow (tertawa)
Kelvin: (tersenyum) oh iya,,nanti bungkusin makanan buat ortu kamu buat sarapan di rumah…btw ortumu biasanya sarapan sama apa?
Kirana: (makan nasi ramesnya) iya biasanya sama kayak aku,,,nasi rames…
Kelvin: oh….(mendekati penjual) bu, nasi ramesnya 2 dibungkus ya (tersenyum)
Penjual: iya mas..(tersenyum)

       Setelah mereka sarapan, mereka memutuskan untuk segera pulang. Di dalam rumah ayah Kirana bertanya kepada mereka “dari mana saja kalian” dengan tersenyum. “habis jalan-jalan om… oh iya, ini om ada nasi bungkus buat om dan tante” kata Kelvin sambil memberikan nasi bungkusnya.
Ayah Kirana: oh iya, makasih ya den Kelvin (tersenyum)
Kelvin: iya om sama-sama (tersenyum)

       Kirana dan Kelvin sejenak menyempatkan diri sebelum mandi untuk mengobrol di ruang tamu. “Ternyata kota Semarang, asyik juga ya” kata Kelvin.
Kirana: iya dong…kota semi metropolis gitu (tersenyum)
Kelvin: oh iya, btw kenapa kamu kok bisa kuliah sampai Jogya padahal universitas di sini nggak kalah bagusnya seperti UNDIP atau UNNES (tersenyum)
Kirana: ya sebenarnya pengen saja melihat dunia luar sekalian mencari pengalaman begitu…
Kelvin: oh,,, dulu kamu SMA nya mana tow?
Kirana: ahh paling kamu juga nggak bakalan tahu (tertawa) aku dulu di SMA Kesatria Samarang…..
Kelvin: (tersenyum) kalau waktu pulang begini kamu kesibukannya apa sayang?
Kirana: apa ya? kadang-kadang nyapu, ya bantuin mama nyuci baju…emang kenapa kok tanya-tanya mau bantuin apa? (tersenyum)
Kelvin: iya namanya saja pengen tahu banget…nggak apa-apa dong sekedar nanya (tersenyum) ternyata aku lihat-lihat dagumu kok belah ya, diapain itu sayang (melihat dagu Kirana)
Kirana: iya emang begini dengan sendirinya aneh kamu Vin…kata orang sich, kalau dagu belah menandakan orangnya setia (tertawa)
Kelvin: oh setia,,,nggak selingkuh tiada akhir kan (tersenyum)
Kirana: iya nggaklah sayangku…satu saja cukup…..(tersenyum)
Kelvin: (memegang tangan Kirana) tanganmu kok lembut banget ya Kirana…
Kirana: namanya saja tangan cewek Vin…(tertawa)
Kelvin: nggak ini beda kok sayang…tanganmu itu imut-imut kayak gantungan kunci di Malioboro….
Kirana: (tertawa) kamu lucu Vin…eh Vin, kamu kok cerewet banget ya…..(tertawa)
Kelvin: daripada bengong Kirana,,nanti di masukin hantu gimana coba (tertawa)
Kirana: bukan itu maksudnya….yang kamu omongin itu ada saja (tersenyum)
Kelvin: oh begitu….(melihat jam) ini sudah jam 9, kamu mandi dulu Kirana….biar makin cantik…(tersenyum)
Kirana: mana ada mandi kok makin cantik, yang ada itu mandi makin bersih dan wangi (tertawa)
Kelvin: terserah apa kata kau ini sajalah (tertawa)
Kirana: wah lebaynya kumat…ya sudah aku mandi dulu…paling cuma 45 menit sabar saja (tertawa)
Kelvin: kamu mandi atau sambil nguras bak Kirana (terawa) 45 menit kok cuma …
Kirana: namanya saja cewek Vin….(tersenyum)
Kelvin: kasihan ya orang tuamu bayar PAM nya (tertawa)

       Malam minggu yang ramai di sekitar tugu muda mereka asyik berfoto-foto tak disangka-sangka ada sebuah keramaian di luar tugu muda itu. “Kok itu ada ramai-ramai ya, kamu di sini sebentar ya Kirana aku mau lihat ke sana” kata Kelvin yang cukup panik. Ternyata keramaian itu adalah ada seseorang yang dipukuli akibat kepergok akan mencuri sepeda motor milik orang lain, orang itu di kepalanya penuh dengan lumuran darah di sana juga tak ada aparat yang menenangkannya. Selang beberapa menit kemudian aparat pun datang, tapi pencuri itu telah sekarat lalu polisi mengamankan pencuri itu. Dan Kelvin kembali ke tempat Kirana berada “ada apa Vin?” kata Kirana.
Kelvin: itu ada pencuri yang di pukuli…
Kirana: ihh,,,pasti ngeri banget (wajah yang cukup miris)
Kelvin: iya Kirana, kepalanya saja sampai berdarah semua (memandang ke tempat perkara itu)
Kirana: kasihan banget ya Vin…pasti itu benar-benar sakit…(membayangkan)
Kelvin: padahal andai motor curian itu di jual paling hasilnya nggak seberapa….tapi, dampak kepergoknya yang benar-benar merugikan….tahu nggak Kirana hidup di dunia ini sangat beresiko…makanya, kita harus benar-benar hati-hati…sekarang mencari kerja susah yang dapat meningkatkan angka kriminalitas……
Kirana: memang hidup di dunia makin lama makin kurang nyaman saja…kejahatan di mana-mana…aku jadi takut ikk kalau pergi ke mana gitu….
Kelvin: (tersenyum) tenang saja Kirana…kan, masih ada aku sebagai kekasihmu pasti aku kan berusaha melindungimu….kamu pergi denganku itu sudah menjadi tanggung jawabku (memegang pipi Kirana)
Kirana: (menyandarkan kepalanya ke bahu Kelvin) makasih ya sayangku….aku nyaman bila di dekatmu (tersenyum)
Kelvin: iya sayangku (tersenyum dan memandang Kirana) ya sudah kita cari makan dulu yuk…pasti kamu sudah laper kan….
Kirana: ayo…kita makanya ke kampung laut saja Vin (tersenyum)

       Kampung lautlah yang mereka tuju sekarang, mereka tentunya makan dengan menu masakan laut mulai dari ikan, kepiting, udang dan cumi. Setelah makan, mereka menuju ke tempat yang terakhir yaitu kota lama. Di kota lama semakin malam nampak semakin romantis, di sana cukup ramai mereka berjalan-jalan di area kota lama itu dan Kelvin bertanya kepada Kirana “berarti ini adalah bangunan tua peninggalan pada masa penjajahan belanda ya sayangku, terlihat dari bentuk desain bangunannya”. “Iya Vin, kamu benar tapi lama-lama seram juga ya Vin” menggandeng Kelvin dengan erat. Cukup lama berputar-putar, mereka akhirnya memutuskan untuk pulang karena Kirana sudah merasa ngantuk.
       Keesokan harinya Kelvin memutuskan untuk pamit pulang kepada orang tua Kirana bersama dengan Kirana. “Makasih ya om, tante sudah ngizinin Kelvin bermalam di sini…Kelvin juga minta maaf kalau Kelvin merepotkan om dan tante waktu Kelvin tinggal di sini” kata Kelvin sambil bersalaman dengan kedua orang tua Kirana.
Ayah Kirana: halah,,,biasa saja den Kelvin…makasih juga oleh-olehnya kemarin (tersenyum)
Mama Kirana: iya den Kelvin,,,ini ada sedikit oleh-oleh dari kami (memberikan kepada Kelvin)
Kelvin: wah,,,tambah ngrepotin om dan tante nie…makasih ya om, tante..
Mama Kirana: iya sama-sama…itu lunpia makanan khas kota Semarang (tersenyum)
Ayak Kirana: den Kelvin satu lagi…tolong jagain Kirana di sana ya (melihat Kirana)
Kelvin: iya om,,pastinya (tersenyum)
Kirana: ya sudah mah, yah…Kirana berangkat dulu..(mencium kedua tangan orang tuanya)
Ayah Kirana: ya sudah…kalian hati-hati di jalan (tersenyum)
Mama Kirana: (hanya tersenyum)
Kelvin: iya om, tante mari (tersenyum)
Mama dan Ayah Kirana: iya mari-mari (tersenyum)

       Kelvin pun merasa puas bisa main di kota Semarang dan bisa ketemu dengan kedua orang tua Kirana. Kirana dan Kelvin juga sangat bahagia bisa bermain berdua, banyak kesan yang mereka temui ketika berada di Semarang bahwa cinta terasa sangat indah. Dan mereka berusaha menghadapi bersama untuk menjalani hidup yang penuh dengan resiko ini. Hanya dengan sebuah cinta dunia bisa merasa nyaman. Cinta, Persahabtan dan Kehidupan adalah ketiga komponen yang saling melengkapi. Dengan kata lain kekasih=cinta, ikatan solidaritas=persahabatan dan kepedulian terhadap orang lain=kehidupan. Itulah arti khusus tentang judul novel ini.
       Memang benar cinta itu sempurna, Mari dengan sebuah cinta, persahabatan dan kehidupan kita bawa diri kita dan orang lain ke arah yang lebih baik. Dengan itu kita akan menciptakan surga dunia yaitu sebuah kebahagiaan, ketenangan dan kenyamanan hidup di dunia ini sambil menyelam minum air, sambil memperbaiki diri kita kita ke arah lebih baik, kita juga bisa memperbaiki diri orang lain ke arah lebih baik juga.

minato

sesuatu Yang Terkesan Di Mata Seorang Kekasih


Segmen 29
“Sesuatu Yang Terkesan Di Mata Seorang Kekasih”

       Percikan air membersihkan piring-piring yang kotor nampak Clara sedang sibuk membantu ibunya berjualan, di belakang warungnya Rico sedang asyik main kelereng dengan teman-temannya. Clara pun berhenti sejenak ketika dilihatnya sabun cuci piring di dalam botol sudah habis dan bergegas Clara keluar dari warungnya menuju pintu belakang “Rico, ke sini sebentar” ucap Clara. “Iya kak, ada apa?” jawab Rico.
Clara: sabun cuci piringnya habis, tolong kamu beliin di warung sana ya (memberikan uang kepada Rico)
Rico: iya kak,,, sabun ya sunlight itu kak? (tersenyum)
Clara: iya…(kembali ke dalam warung)

       Pada siang hari itu pembeli sangat ramai karena menu masakannya bu Santi yang enak, warung ibu Santi sudah berdiri cukup lama-lama kira-kira 2 tahun lebih setelah ayah Clara meninggal dan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga itu akhirnya ibu Santi mendirikan sebuah warung dan sampai saat ini warungnya semakin laris. Beberapa menit kemudian Rico datang dengan membeli sabun pesanan Clara dan Clara melanjutkan mencuci piringnya. “Alhamdulilah ya Clara warung kita semakin ramai” kata bu Santi sambil melihat Clara mencuci piring. “Iya bu, syukuri saja yang ada sekarang” sibuk mencuci piring. Selang waktu kemudian waktu menunjukan pukul 4 sore itu menandakan warungnya akan segera ditutup. Sore hari itu memang terasa sedikit beda, terasa lebih cerah dari biasanya, dari warung Clara dan bu Santi sedang sibuk membereskan warungnya.
       Di depan halaman rumahnya bu Risma sedang menyirami bunga-bunga kesayangannya, dari kecil bu Risma memang menyukai bunga baginya bunga adalah sesuatu yang indah, mulai dari bunga anggrek, melati, sepatu, mawar dan masih banyak lagi koleksi bunga yang dimiliki bu Risma. Dari pintu gerbang terdengar suara motor, itu adalah Vino yang baru pulang dari rumah Kelvin dan bergegas bu Risma membukakan pintu gerbang untuk Vino lalu bu Risma berkata dengan Vino “dari mana saja Vin, kok baru pulang” sambil memandang Vino. “Vino, tadi pulang kuliah langsung buat tugas mah di rumah Kelvin dengan teman-teman Vino yang lain juga” ucap Vino.
Bu Risma: oh begitu…..ya sudah kamu makan dulu sana gih (menutup pintu gerbang)
Vino: iya mah (tersenyum)

       Di teras rumahnya, Pak johan sedang membaca koran lalu bertanya kepada Vino “dari mana saja anak ayah yang ganteng?” kata Pak Johan . “Vino, dari rumah Kelvin yah” ucap Vino dengan senyum.
Pak Johan: oh iya… gimana kabar Clara (memandang Vino)
Vino: kabarnya baik kok yah (duduk di samping ayahnya)
Pak Johan: kok sekarang kamu jarang main sama dia (sambil membaca koran)
Vino: iya sich yah,,,sekarang Vino jarang main sama dia soalnya banyak tugas kuliah kok yah,,,paling ketemu juga kalau di kampus saja (melihat bu Risma yang sedang menyirami bunga)
Pak Johan: oh..paling nggak kamu harus bisa menyempatkan waktu untuk dia,,,buat tugas kuliah kan nggak setiap hari…wanita itu butuh perhatian,,kayak ayah sama mama kamu dulu (tersenyum)
Vino: memangnya ayah dulu romantis (tersenyum)
Pak Johan: romantis sich nggak..cuma ayah selalu memberi perhatian untuk mama kamu….jadi, wanita itu seperti dipedulikan begitu….
Vino: oh begitu ya yah….Vino mau tanya sedikit nie yah..biar seseorang yang kita cintai semakin cinta dengan kita gimana itu yah? (tersenyum)
Pak Johan: beneran kamu ingin tahu (tersenyum)
Vino: iya dong yah (rasa yang penasaran)
Pak Johan: bahagiakan seseorang yang penting di mata Clara selain kamu…..
Vino: (berpikir sejenak) keluarga Clara yah….
Pak Johan: ya benar sekali Vin (membereskan koran)
Vino: (tersenyum) akhirnya Vino tahu yah…makasih ya yah…
Pak Johan: (tersenyum) ya sudah kamu mandi dulu terus jangan lupa makan (masuk ke dalam rumah)
Vino: ok! yah…(tersenyum)

       Vino tahu apa yang seharusnya dia lakukan dan hanya menunggu waktu yang tepat, di dalam benak Vino sudah ada rencana untuk membahagiakan keluarga Clara. Pada malam harinya Vino menuju rumah Clara sambil membawakan martabak telor kesukaan ibu Santi. Di ruang tamu Clara sedang membantu adiknya belajar. “Rico, kamu baca dulu cerita ini baru kamu bisa menjawab pertanyaan dibawah ini” kata Clara. “Oh begitu ya kak, ya sudah Rico baca” jawab Rico. Di saat sedang menemani adiknya belajar, Vino datang dengan membawa makanan. “Eh kamu Vin, kok nggak bilang kalau kamu mau ke sini” ucap Clara dengan senyum manis.
Vino: ya biar surprise saja (tersenyum) kamu lagi apa Clara?
Clara: ini lagi ngajarin Rico belajar bahasa Indonesia, masuk Vin (mempersilahkan Vino masuk)
Vino: ya sudah terusin saja (tersenyum)
Clara: Rico, kan sudah kakak beritahu cara jawabnya tadi, Rico belajar sendiri dulu ya (tersenyum dengan Rico)
Rico: iya kak….(berkata dengan Clara) kak Vino, Rico belajar di dalam dulu ya (berkata dengan Vino)
Vino: iya….belajar yang pinter ya Rico (tersenyum)
Rico: (hanya tersenyum)
Vino: ini sayang,,,,ada martabak telor untuk ibu kamu (memberikan kepada Clara)
Clara: wah..repot-repot amat Vin…makasih ya Vin…(wajah yang senang)
Vino: iya sama-sama…(tersenyum)
Clara: oh iya Vin…gimana kabar keluarga kamu? (tersenyum)
Vino: alhamdulilah baik….warung ibu kamu semakin laris tow (tersenyum)
Clara: alhamdulilah Vin…tadi, siang pembelinya ramai
Vino: ya syukurlah (memandang Clara)
Clara: ya sudah tunggu bentar Vin..aku buatin minum….(menuju ke dapur)
Vino: iya sayang….
       Di dalam rumahnya Clara memberikan martabak telor dari Vino untuk ibunya “bu, ini ada martabak telor dari Vino” kata Clara sambil memberikan martabak ke ibunya. “Kok repot-repot amat” kata bu Santi sambil berjalan menuju ruang tamu.
Bu Santi: nak Vino, kok repot-repot amat bawain ibu makanan (tersenyum)
Vino: iya nggak apa-apa bu (tersenyum)
Bu Santi: makasih ya nak Vino…(tersenyum)
Vino: iya bu sama-sama (tersenyum)
Clara: (membawa minuman untuk Vino) ini Vin minumnya…
Bu Santi: (masuk ke dalam)
Vino: iya Clara…oh iya Clara, aku minta maaf ya kalau aku jarang ada waktu untuk kamu (memegang tangan Clara)
Clara: iya Vin, aku bisa ngertiin kamu kok,,sekarang kan banyak tugas kuliah….(tersenyum)
Vino: makasih ya sayangku…kamu selalu bisa ngertiin aku (mencubit hidung Clara dengan lembut)
Clara: ya sudah diminum Vin….(tersenyum)
Vino: iya ini aku minum sayangku…….(minum sirup buatan Clara) oh iya warung kamu setiap hari apa tutupnya Clara…?
Clara: tutupnya ya hari minggu Vin,,,emang kenapa Vin?
Vino: oh…begini…aku pengen ngajak ibu kamu dan Rico main ke candi Borobudur (tersenyum)
Clara: (hati yang sangat bahagia) dalam rangka apa Vin? (bercanda)
Vino: nggak dalam rangka apa-apa…kan, aku tahu ibu kamu jarang ke mana-mana hanya sibuk jualan….pasti kan ibu kamu butuh sesuatu untuk menyenangkan hati dirinya (tersenyum)
Clara: makasih ya Vin…kamu baik banget (mata yang berkaca-kaca)
Vino: kan, sudah sewajarnya aku juga nyenengin hati orang tua kamu….aku kan kekasih kamu atau calon suami kamu (membelai rambut Clara)
Clara: (tersenyum) iya Vin……ya sudah aku panggilkan ibu dulu…biar kamu bisa bicara langsung dengan ibu (tersenyum)
Vino: iya Clara………..
       Kemudian ibu Santi menghampiri Vino.
Bu Santi: mau bicara apa dengan ibu nak Vino? (duduk di sebelah Vino)
Vino: iya begini bu..katanya Clara warung ibu kan tutup pada hari minggu….
Bu Risma: iya (tersenyum)
Vino: rencananya saya, mau ngajak ibu, Rico dan Clara pergi ke candi Borobudur….begitu (tersenyum) gimana mau nggak bu..?
Bu Santi: apa nggak tambah ngrepoti nak Vino (tersenyum)
Vino: nggak apa-apa bu….kan, pengen nyobain main bareng dengan ibu, Rico dan Clara (tersenyum) nanti pakai mobil saya kok bu….
Bu Santi: kalau kayak begitu..terserah nak Vino saja…memangnya sudah bilang sama ayah nak Vino, mau pakai mobil (tersenyum)
Vino: sudah kok bu….ayah saya malah nggak keberatan sama sekali….justru senang, lihat anaknya bisa nyenengin orang lain (tersenyum)
Clara: (memandang Vino dan ibunya)
Bu Santi: (tersenyum)
Vino: besok saya jemput jam 9 ya bu….(tersenyum)
Bu Santi: iya nak Vino…sebelumnya ibu ngucapin terima kasih banyak….
Vino: iya bu…sama-sama,,,kalau begitu saya pamit pulang dulu ya bu..sudah jam 9 soalnya….biar besok juga bisa bangun pagi (tersenyum)
Bu Santi: iya nak Vino…hati-hati di jalan (bersalaman dengan Vino)
Vino: iya bu….(tersenyum)
Vino: mari Clara (tersenyum)
Clara: iya Vin..nggak usah ngebut-ngebut malam begini (tersenyum)

       Vino pulang dengan perasaan yang bahagia, dia berharap mudah-mudahan besok cuaca mendukung. Sesampai di rumah, Vino langsung tidur karena rasa kantuk yang tak tertahan. Kamar yang gelap disertai nyala kipas angin Vino tertidur lelap dengan jaket yang masih melekat pada bajunya.
       Suara adzan subuh yang berkumandang membangunkan Vino dari tidurnya cepat-cepat dia mengambil air wudhu untuk segera pergi ke mushola dekat rumahnya. Setelah sholat subuh berjamaah dia mempersiapkan segala sesuatu untuk dibawanya ke obyek wisata candi Borobudur bersama dengan Clara dan keluarganya. Di laci kamarnya dia mengambil sesuatu, itu adalah kamera Vino satu-satunya “bawa kamera ahh, buat kenang-kenangan di sana” kata Vino. Pintu kamar Vino yang terbuka menarik perhatian Pak Johan untuk masuk “nyari apa Vin” kata Pak Johan. “Ini yah, Vino mau bawa kamera buat foto di sana” kata Vino sambil melihat-lihat kameranya.
Pak Johan: oh..ya sudah ini kunci mobilnya…salam buat ibu Clara (tersenyum)
Vino: iya yah,,nanti Vino sampaikan (tersenyum dan menerima kunci mobil)
Pak Johan: kamu mau berangkat jam berapa? (memandang kamar Vino)
Vino: jam 9 kok yah…masih lama,,emang kenapa?
Pak Johan: nggak apa-apa….kamu masih punya uang kan di dompetmu (tersenyum)
Vino: masih kok yah..tenang saja…..(tersenyum)
Pak Johan: ya sudah…ini ayah kasih uang buat beli bensin 200 rb (mengambil uang dari dompetnya)
Vino: makasih yah…(menerima uang dari ayahnya)
Pak Johan: oh iya hampir lupa….mobilnya tolong kamu panasin dulu ( keluar dari kamar Vino)
Vino: iya yah,,,Vino panasin sekarang (keluar dari kamarnya)

       Vino menuju ke garasi mobilnya, dari arah dapur Bu Risma bertanya kepada Vino “makan dulu nak, ini sudah mama masakin ayam goreng kesukaan kamu”. “Bentar mah, Vino mau manasin mobil dulu taruh dulu di meja makan” berjalan menuju garasi depan. Waktu menunjukan pukul 8 pagi, Vino sudah mempersiapkan semua dari manasin mobil, makan hingga menyiapkan segala sesuatu untuk di bawa ke Candi Borobudur. “Semua sudah beres tinggal mandi yang belum” kata Vino.
       Di teras rumah Pak Johan sedang asyik ngopi sambil baca koran dan ditemani Bu Risma yang duduk di sampingnya. “Ayah, kerjaannya sudah kelar kan” kata Bu Risma sambil memandang Pak Johan yang sedang baca koran.
Pak Johan: iya sudah..emang kenapa mah? (tersenyum)
Bu Risma: ini lho Yah…kemarin anaknya temannya mama masuk rumah sakit,,,,terkena DB katanya…
Pak Johan: maksud mama anak ibu Firly…(memandang bu Risma)
Bu Risma: iya…kalau ayah nggak ada acara nanti kan kita bisa ke rumah sakit…..
Pak Johan: oh iya jelas dong mah….kasian bu Firly ya mah,,,semenjak cerai dengan suaminya dia yang bekerja sendirian….
Bu Risma: iya yah,,,dengar-dengar biaya buat ke rumah sakit saja dia sedikit kesulitan….
Pak Johan: oh begitu….kita bisa bantu bu Firly,,tenang saja mah (tersenyum)

       Dari kamar Vino menuju ke pintu depan untuk berpamitan dengan orang tuanya “mah, yah Vino berangkat dulu ya” kata Vino sambil memakai jaket kesayangannya.
Pak Johan: ada yang ketinggalan nggak?
Vino: nggak kok yah ..Vino pergi dulu (mencium tangan ayahnya)
Vino: Vino pergi dulu ya mah (mencium tangan ibunya)
Bu Risma: ya sudah,,hati-hati di jalan nak….salam buat ibunya Clara (tersenyum)
Vino: iya mah (membuka pintu mobilnya)

       Beberapa menit kemudian, Vino menuju ke rumah Clara. Di rumah Clara dan ibunya sedang bersiap-siap malahan Rico sudah duduk di kursi ruang tamu dengan baju warna merah dan celana pendek sambil memandang keluar tiba-tiba terlihat mobil warna putih yang menuju ke rumahnya. “Wah, itu pasti kak Vino” sambil berjalan keluar rumah. “Kak, Vino” memanggil Vino dengan wajah yang berseri-seri.
Vino: iya Rico (keluar dari mobilnya) wah,,,Rico kok cakep bener (mengusap kepala Rico)
Rico: iya dong…adik siapa dulu (tertawa)
Vino: oh iya…ibu dan kak Clara sedang apa?
Rico: sedang pada di kamar lagi siap-siap kak (tersenyum) mobil kak Vino kok bagus banget….nanti Rico duduk paling depan ya (melihat ke mobil Vino dengan wajah yang gembira)
Vino: wah,,beres dech pokoknya sama kak Vino (tersenyum)

      Bu Santi dan Clara keluar dari dalam rumahnya.
Clara: sudah menunggu lama Vin (memasukan sesuatu ke dalam tasnya)
Vino: nggak…baru nyampai kok Clara….
Vino: bu..(bersalaman dengan Bu Santi) ya sudah,,bisa kita berangkat sekarang bu…
Bu Santi: iya nak Vino (tersenyum)
Vino: ya sudah mari bu…(membukakan pintu belakang mobilnya)
Rico: Rico…duduk depan ya kak Vino..
Vino: iya..ya sudah Rico masuk (membukakan pintu depan mobilnya)
Vino: kamu temani ibu kamu di belakang ya Clara (tersenyum)
Clara: iya Vin (tersenyum)
       Pagi yang indah dan cerah akhirnya mereka mulai berangkat menuju candi Borobudur. Jarak antara candi Borobudur dengan Yogyakarta kira-kira kurang lebih 40 km. Candi Borobudur terletak di Desa Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Candi ini merupakan candi Buddha terbesar kedua setelah Candi Ankor Wat di Kamboja dan termasuk dalam salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Ada beberapa versi mengenai asal usul nama candi ini. Versi pertama mengatakan bahwa nama Borobudur berasal dari bahasa Sanskerta yaitu “bara” yang berarti “kompleks candi atau biara” dan “beduhur” yang berarti “tinggi atau di atas”.
       Candi Borobudur merupakan salah satu peninggalan sejarah yang paling dikenal bahkan oleh masyarakat dunia. Bahkan popularitasnya melebihi kota Yogyakarta itu sendiri dan merupakan salah satu tempat paling menarik yang harus dikunjungi ketika sudah di Yogyakarta. Merupakan Candi Buddha dengan bentuk stupa. Kita akan mengenal kemegahan Candi Borobudur yang dibangun dengan luas dasar 123×123 meter dan tinggi 42 meter ini. Yang paling menarik dari Candi Borobudur, selain dari megah dan luasnya Candi ini, adalah mengenai danau purba yang masih menjadi perdebatan hingga sekarang. Ada beberapa arkeolog yang beranggapan bahwa asal mula Candi Borobudur dibangun di atas sebuah danau sehingga menyerupai teratai. Itu sedikit asal-usul mengenai candi Borobudur, kita kembali lagi ke cerita. 50 menit kemudian mereka sampai di Candi Borobudur, untuk alat transportasi di luar candi menggunakan becak.
       Untuk menuju ke sebuah candi mereka menggunakan transportasi becak. Di Candi borubudur mereka berjalan-jalan mengitarinya dan tak lupa Vino mengambil gambar sebagai kenang-kenangan lalu Vino berfoto-foto bersama dengan Clara, Rico dan Bu Santi. Mereka terasa sangat bahagia bisa berjalan-jalan dengan tempat yang menakjubkan itu. Canda dan tawa terselip diantara mereka, dikala itu Clara memang terasa sangat terkesan bisa melihat senyum ibunya dengan lepas, hati Clara pada waktu itu memang terasa sangat bahagia. Dan Clara berterima kasih banyak dengan Vino yang sudah membuat keluarganya bahagia dan nyaman. Semenjak, ayah Clara meninggal keluarga Clara sudah jarang bisa pergi ke suatu tempat bersama-sama namun, kini dengan adanya seorang Vino yang mampu mengubah itu semuanya. Mereka seperti layaknya satu keluarga bisa menerima dan saling melengkapi. Kebahagiaan ibunya sama halnya adalah kebahagiaan Clara juga. Vino juga merasa senang bisa berkumpul di tengah-tengah keluarga Clara tentunya Vino sangat mencintai mereka semua.
       Sekarang memang jarang kita bisa menemukan momen seperti itu, Kita harus banyak berbagi kebahagiaan agar orang lain juga dapat merasakannya. Tersenyum itu memang indah, bisa mengubah suasana menjadi tenang, nyaman dan damai. Itulah sesuatu yang terkesan di mata seorang kekasih, bahwa keluarganya ternyata lebih dari segalanya untuk menjadi segalanya kita juga harus dapat memberikan segalanya untuk orang yang dia (kekasih) cintai yaitu keluarganya. Hidup akan terasa indah jika kita saling membahagiakan bahwa sesuatu yang kita lakukan pasti akan mengandung makna dan arti untuk orang lain. Manusia itu adalah makhluk sosial yang artinya saling membutuhkan satu sama lain atau tidak bisa hidup sendiri selain itu manusia juga mempunyai sifat yang mementingkan kelompoknya seperti keluarga. Itu merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan dan mempunyai sebuah ikatan yang sangat kuat yang maknanya adalah apa yang dirasakan salah satu dari anggota keluarga kita akan terasa di kita juga. Maka, dari itu keluarga adalah nomor satu. Jadi, jika kita membahagiakan keluarganya maka, kita akan memperoleh kedudukan yang istimewa di dalam hatinya seorang kekasih

minato

Sebuah Kebenaran Yang Pahit


Segmen 28
“Sebuah Kebenaran Yang Pahit”

       Malam yang gelap gulita dipenuhi bintang dan bulan serta suara desas-desis angin yang melewati dedaunan, di kamarnya yang rapi Joni sedang asyik bermain game. Dari kecil hingga sekarang Joni memang menyukai game menurutnya game adalah sebuah permainan yang selalu menghibur dirinya. Pada malam itu, dia teringat dengan seseorang tidak lain adalah kekasihnya Tiara yang tinggal di Jakarta rasa rindu pun membayangi Joni ketika bermain game yang pada akhirnya mematikan laptopnya karena pikirannya tertuju pada Tiara. “Waduh liburan kuliah semester 2 masih lama” kata Joni sambil membereskan laptopnya. Tiba-tiba hpnya berbunyi, sepertinya itu adalah panggilan dari Tiara dan cepat-cepat Joni mengangkat panggilan itu. “Wa’alaikum salam, kebetulan sayang telepon aku lagi kangen” kata Joni saat ditelepon Tiara.
Tiara: iya pah, mama juga kangen kok (tersenyum manja)…oh iya btw gimana kuliahnya?
Joni: alhamdulilah lancar mah…mama sendiri gimana?
Tiara: kuliah mama juga baik-baik saja kok pah (tersenyum)
Joni: liburannya masih lama ya mah (tersenyum) mah…liburan besok papa yang main ke rumah mama ya…..
Tiara: beneran pah…kan, Jakarta jauh banget pah…
Joni: jauh atau dekat kalau naik pesawat kan cepet…wust!! Dua jam nyampai (tertawa)
Tiara: ahh papa bisa saja…tapi, papa harus minta izin dulu sama ibu tow….hayo,,
Joni: oh iya,,,,mudah-mudahan saja boleh (tersenyum)
Tiara: iya….papa di sana nggak macem-macem tow….
Joni: nggaklah mah…kalau nggak percaya tanya Radit….oh iya mah, Radit ternyata sekarang sudah punya pacar lho….(tersenyum)
Tiara: yang bener pah….? (sedikit nggak percaya)
Joni: iya beneran…jadiaanya sudah agak lama sich..1 minggu yang lalu…emang kenapa mah…kayak nggak percaya gito….
Tiara: oh..bukannya nggak percaya…tapi, setahuku Radit orangnya sulit jatuh cinta…btw ceweknya cantik nggak pah? (tersenyum)
Joni: wah…kalau menurut papa sich cantik…begitu…
Tiara: sipz dong…mudah-mudahan mereka langgeng ya pah..
Joni: amin….mama lagi apa sekarang?
Tiara: ini mama lagi nglipet baju….
Joni: waduh,, mama sregep bener (tersenyum)
Tiara: iya dong…zaman sekarang nggak boleh malas-malasan….harus tetap semangat (tertawa)
Joni: setuju mah…(tertawa)
Tiara: lanjutkan (tertawa) papa sudah makan belum?
Joni: sudah kok mah….mama juga sudah makan?
Tiara: iya sudah barusan….pah, menurut papa hubungan jarak jauh itu menyakitkan nggak pah?
Joni: iya mau gimana lagi? itu sich tergantung kita yang menyikapinya..kalau dibuat enak ya pasti enak….tapi, ya kalau dibuat ngeluh hasilnya tak nyaman….yang penting kan kita harus bisa saling percaya itu modal pertama menjalani hubungan jarak jauh (tersenyum)
Tiara: iya pah….(tersenyum)
Joni: pasti ada saatnya kita benar-benar bersama….ya sabar saja….yang penting kita kuliah yang bener dulu dech…ok!!
Tiara: ok!! pah….
Joni: (tersenyum) mama cantik…sekarang tidur dulu yuk…kan, besok kita kuliah…
Tiara: iya papa ganteng….i love u..
Joni: love u too….

       Mereka akhirnya sudah mengobati rasa rindunya dengan berbicara melalu handphone dan mereka bisa tidur nyenyak untuk mempersiapkan kegiatan besok.
       Pag-pagi di kantin mereka sudah pada kumpul yaitu Vino, Kelvin, Faisal, Joni dan Radit. Semuanya sarapan dengan menu makanan yang berbeda-beda. Seperti biasa mereka melahirkan canda dan tawa.
Vino: dengar-dengar teman kita ada yang punya cewek baru (nada bercanda)
Kelvin: wah..siapa ya Vin? (tertawa)
Radit: (tertawa) kalian ada-ada saja….sok nyindir-nyindir….
Joni: mending ngaku saja Dit…daripada disindir-sindir (sambil minum teh hangatnya)
Radit: ngaku gimana mereka kan sudah pada tahu….gara-gara kamu Jon (mengaduk minumannya)
Joni: setiap ada apa-apa dengan salah satu diantara kita….kita harus cerita dong,,,mau senang atau sedih..semuanya harus tahu (tersenyum)
Kelvin: wah,,,berarti kita sudah punya pasangan semua dong….(tertawa)
Faisal: kurang satu Vin…aku yang belum (tertawa)
Kelvin: emang kamu belum jadian Sal?
Faisal: ya mau gimana lagi…waktu aku mau nyatain perasaan ke dia,,,ayahya sakit keras,,jadi, aku tunda dulu (tersenyum)
Vino: benar kamu Sal….emang ayah Fina sakit apa?
Faisal: sakit kanker paru-paru Vin…(makan nasi sotonya)
Vino: apa ayah Fina,,,perokok berat….? (memandang Faisal)
Faisal: dulu iya….tapi, ketika sudah berhenti merokok malah kena penyakit kanker paru-paru
Vino: berarti memang sudah terlambat….(melihat jam di tangan)
Faisal: iya Vin….
Joni: merokok itu tidak akan menguntungkan kita mens….yang pertama kalau sudah kecanduan pasti berapa uang yang harus kita keluarin buat beli rokok per harinya…kedua awalnya memang tak ada apa-apa tapi ketika kita sudah lama merokok organ kita akan rusak dengan sendirinya akibat nikotinya itu…(memandang para sahabatnya)
Radit: betul Jon…hanya kenikmatan sesaat,,,tetapi dibalik kenikmatan itu…ada sesuatu yang dapat menghancurkan kita….(sambil membalas sms)
Kelvin: padahal kan di bungkus rokok itu sudah ada indikasinya…(membayar makanannya ke penjaga kantin)
Vino: itulah orang Indonesia (tersenyum) tidak bisa berpikir kritis ….memang kita merokok dapat menguntungkan petani tembakau dan sebuah perusahaan rokok…tetapi, itu semua tidak setimpal dengan apa yang kita terima akibat dampak dari merokok itu…jadi, merokok sama halnya melahirkan penyakit di dalam tubuh kita….
Faisal: semua tergantung dari kesadaran kita masing-masing Vin…tapi, tetap sangat susah melarang orang agar tidak merokok…..padahal bukti sudah ada, banyak orang yang mati akibat merokok….
Vino: mau gimana lagi…itulah cara mereka memilih dan menentukan kehidupannya sendiri….hidup ini ikutilah hati nurani kita…karena hati nurani kita itu suci….hati itulah yang membawa kita selalu pada porosnya yaitu sebuah kebaikan…ya sudah mens,,,kita kembali ke kelas…sudah jam mata kuliah MO I sekarang

       Mereka semua pun masuk kelas dan mengikuti mata kuliah MO I. Di samping itu, Joni lega karena tugas MO I nya sudah selesai itu semua berkat hasil tugas Radit yang dijadikan referensi dan dirinya yang berusaha mencari buku MO I di perpustakaan.
       Panasnya siang hari membuat Joni gerah, setelah pulang kuliah Joni memutuskan untuk tidur siang biasanya siang begini Joni bermain game tetapi untuk siang ini Joni memilih tidur siang. Dua jam telah berlalu, dia bangun dari tidurnya dan minum segelas air putih. Dan dia melihat sebuah kertas yang berserakan dilantai depan kamar ibunya, diambilah kertas itu, dia sedikit bingung karena yang dia temukan adalah Kartu Keluarga tetapi namanya dia tak ada. “Lho ini kan KK tetapi, kenapa tak ada namaku” ucap Joni. Setelah penasaran dia ingin menanyakan hal itu kepada orang tuanya. Ayah Joni bernama Pak Firman yang bekerja di bank swasta sedangkan ibunya bernama Bu Ratih yang bekerja sebagai PNS atau Pegawai Negeri Sipil. Kehidupan Joni memang sedikit mewah dia selalu dituruti oleh kedua orang tuanya tetapi Joni tak meminta yang aneh-aneh kepada orang tuanya dan dia sangat senang dengan kehidupan keluarganya, selalu harmonis dan perhatian dengannya. Tak lama kemudian, kedua orang tuanya pulang kerja. “Sudah makan belum Jon?kata Pak Firman. Joni menjawab dengan sedikit gelisah “sudah kok yah”
Pak Firman: ya sudah ayah mau istirahat dulu (tersenyum)
Joni: iya yah (memandang ayahnya)
Bu Ratih: (melepas sepatu)
Joni: tumben mama pulang bareng ayah…
Bu Ratih: iya Jon…kebetulan tadi pulangnya bareng biasanya ayahmu pulangnya agak sorean dikit (tersenyum)
Joni: mah, Joni mau tanya sesuatu (sedikit gugup)
Bu Ratih: iya mau tanya apa nak? (memandang Joni dengan penasaran)
Joni: (tersenyum) ya sudah nanti saja dech mah….kasian mama kan baru pulang kerja….
Bu Ratih: (hanya tersenyum)

       Saat makan malam pun tiba, Joni dan kedua orang tuanya berkumpul di meja makan. Joni masih kepikiran dengan KK tadi. “Sebentar ya mah, Joni mau ambil sesuatu” sambil menuju kamarnya. “Mau ambil apa nak?” kata mamanya sambil gudeg.
Pak Firman: Joni kok tumben sedikit aneh ya mah (tersenyum)
Joni: ini Joni bawa sesuatu..tapi, Joni pengen mama dan papa jujur dengan Joni…
Pak Firman dan Bu Ratih: (kaget dengan perkataan Joni)
Joni: Joni mau tanya mah, pah…tadi, sore Joni menemukan ini di depan kamar mama dan papa (menunjukan KK) tetapi kenapa tak ada nama Joni di KK itu….
Pak Firman: (kaget hanya memandang Bu Ratih)
Joni: kenapa pada diam……apa mungkin, Joni bukan anak kandung kalian? (mata yang berkaca) jujur saja mah, pah..
Bu Ratih: (terdiam sejenak sambil memandang Joni) iya mungkin, mama harus jujur sekarang………..
Pak Firman: sabar nak…duduklah jangan berdiri seperti itu….pasti ayah dan mama kamu yang akan jelasin …..
Bu Ratih: iya kamu memang bukan anak kandung kami…tapi, kamu sudah kami anggap sebagai anak kandung sendiri (menangis)
Joni: (menangis) kenapa kalian nggak bilang dari dulu…?
Pak Firman: kami sengaja nak, menyembunyikan masalah ini….kami akan cerita setelah kamu dewasa nanti…dan ini saat yang tepat…(terharu)
Joni: terus di mana orang tua kandung Joni? (semakin menangis dan emosi)
Bu Ratih: iya nak…sabar mama akan cerita….Jadi begini, pada mulanya kami tak percaya karena dokter memfonis kami nggak bisa memiliki keturunan……suatu ketika saat perjalanan pulang dari rumah sakit…mobil ban kami bocor dan kami berusaha mencari bengkel terdekat….tanpa disengaja kami mendengar teriakan orang minta tolong “kebakaran! Kebakaran” begitu dan kami berusaha mendekati suara teriakan itu…ternyata memang betul ada rumah yang cukup mewah terbakar…..apakah kamu tahu itu adalah rumah orang tua kamu?
Joni: apakah orang tua Joni masih hidup,,katakan mah!! (nada yang cukup tegas)
Bu Ratih: (menggelengkan kepala) kedua orang tua kamu tak tertolong nak (menangis)
Joni: kenapa Joni tak mati saja dengan orang tua Joni (cukup histeris dan menangis)
Pak Firman: (mendekati Joni dan menenangkannya) sabar nak…itu semua adalah takdir tuhan…..
Joni: kenapa aku bisa hidup mah (mengusap air matanya)
Bu Ratih: kami dulu juga tak percaya…ternyata ada bayi yang masih hidup di dalam rumah yang terbakar itu…terus, akhirnya kami yang mengadopsi kamu nak…
Pak Firman: tenang ya Jon…besok kami antar kamu ke makam orang tua kamu (memegang bahu Joni)
Joni: (sedikit tenang) iya pah…(terbayang kedua orang tuanya)

       Pagi-pagi buta mereka menuju ke sebuah desa di sekitar Yogyakarta, di sanalah kedua orang tua kandung Joni dimakamkan. Di samping makam kedua orang tuanya Joni menangis dan mendo’kan untuk pertama kalinya. Di sana Joni cukup lama, karena dia tak pernah melihat wajah kedua orang tuanya pada waktu itu Joni memang benar-benar sedih mungkin, itulah cobaan bagi Joni ketika dia harus menerima kenyataan bahwa kedua orang tua kandungnya sudah tak ada dalam dunia ini dan ditambah lagi dia baru mengetahuinya sekarang. Beberapa menit kemudian, Joni menghampiri mereka yang menunggu di luar makan dan Joni berkata “Sebelumnya Joni mengucapkan terima kasih banyak untuk kalian, karena kalian Joni bisa hidup hingga sekarang…maafkan Joni, yang belum bisa menjadi anak yang baik untuk kalian walaupun, kalian bukan orang tua kandung Joni tapi, Joni merasa bersyukur bisa dibesarkan oleh keluarga yang baik seperti kalian” memeluk Pak Firman dan Bu Ratih.
Pak Firman: iya nak…kami kan selalu memberikan yang terbaik untuk kamu terutama untuk masa depan kamu…..(tersenyum)
Bu Ratih: benar kata ayah kamu…meski kamu bukan anak kandung kami,,,kami tulus memberikan kasih sayang dan perhatian kami untuk kamu Jon (memandang Joni)
Joni: makasih ya pah,,ya mah…Joni sayang kalian berdua….(tersenyum) ya sudah…kita pulang sekarang yuk….(memandang makam orang tuanya)
       Joni tetap berusaha menerima kenyataan meskipun rasa sedih masih menghampiri di wajah Joni. Orang tua tidak selalu seseorang yang melahirkan kita tetapi seseorang yang merawat kita dari kecil, menyayangi kita dengan tulus dan yang terpenting selalu memberikan yang terbaik untuk kita, itu sudah seperti orang tua kita sendiri. Kasih sayang orang tua itu seperti air yang selalu kita butuhkan sedangkan jasanya seperti bintang yang tak bisa dihitung jumlahnya artinya apapun yang kita berikan kepada orang tua kita tak akan pernah cukup untuk membalas jasanya
       Jadi, kita masih beruntung kedua orang tua kandung kita masih ada, “sangatlah menyesal apabila orang tua kandung kita telah tiada tetapi kita belum bisa membuatnya bahagia”. Orang tua adalah bagian yang terpenting dari kehidupan kita karena yang pertama kita sebagai anak adalah titipan illahi sehingga wajib hukumnya bagi orang tua agar selalu membimbing kita, dengan bimbingannya kita bisa menjadi pribadi yang baik. Kedua kita adalah cerminan dari orang tua kita apapun yang orang tua ajarkan pasti akan melekat dalam kehidupan kita. Ketiga kasih sayang orang tua adalah sebuah ketulusan yang tak mengharapkan apa-apa dari kita dan orang tua selalu mendo’akan kita agar menjadi sejatinya seorang manusia. Dengan kata lain, kita sebagai anak harus bisa berbakti kepada orang tua dengan kita berbakti saja sebagai orang tua sudah merasa bahagia tetapi banyak juga orang tua yang menerlantarkan anaknya begitu juga sebaliknya. Hidup itu sangatlah beragam banyak kita jumpai fenomena-fenomena yang buruk, kembalikanlah pada tugas seorang manusia di dunia ini bahwa manusia hidup di dunia ini hanya untuk mencari bekal buat di akhirat kelak jangan sampai kita terlena dengan kehidupan di dunia. Kita harus tahu apa yang seharusnya kita lakukan, kita sebagai anak dan kita sebagai orang tua. Pahamilah peran kita masing-masing dan berikan yang terbaik untuk orang yang kita cintai.

minato

Ketika Mencintai Dan Dicintai Part III


Segmen 27
“Ketika Mencintai Dan Dicintai Part III”

       Sebulan sudah Radit mendekati Veronika banyak hal yang mereka dapatkan terutama dari sifat masing-masing. Di samping itu, Radit juga banyak belajar dari Veronika dan begitu pula sebaliknya mereka saling mengisi satu sama lain. Suatu ketika Veronika sedang melayani konsumen di percetakan dia kerja, ada seorang cowok yang ingin membeli buku kelihatannya cowok itu tertarik dengan kecantikan Veronika yang sederhana. Cowok itu berpenampilan sangat rapi dan ganteng. “Mbaknya sudah lama kerja di sini ya” ucap cowok itu.
Veronika: iya mas (tersenyum)
Si cowok: oh …btw rumahnya mana mbak?
Veronika: di jalan Malioboro ….
Si cowok: kenalin mbak namaku Rizal (penuh percaya diri)
Veronika: Veronika (bersalaman dengan Rizal)
       Veronika memang cewek yang sangat lugu dia juga baik dengan semua orang dan ramah menjadikan banyak orang yang menyukainya, beberapa menit kemudian setelah mereka mengobrol, cowok itu meminta nomor hp Veronika. Veronika pun agak bingung kalau dia nggak ngasih takut dikira sombong dan melukai perasaannya akhirnya Veronika memberikan nomor hpnya dengan sedikit terpaksa. Terlihat dari wajah Rizal yang cukup senang ketika Veronika memberikan nomor hpnya.
       Malam hari yang terang diselimuti bulan dan bintang Veronika sedang sibuk membantu adiknya yang sedang belajar matematika. Ketika itu hpnya berbunyi dan ada sms dari Rizal sejenak Veronika membalas sms dari Rizal. Rizal adalah lulusan sarjana dari UNY, masih berumur 23 tahun dan dia bekerja di bank swasta yang ada di Yogyakarta. Rizal berusaha mendekati Veronika pada waktu itu tanpa disadari oleh Radit karena Veronika tak pernah cerita dengan Radit kalau ada cowok yang minta nomor hpnya. Pada hari minggu Radit main ke rumah Veronika tujuannya sebenarnya hanya satu yaitu ingin mengungkapkan perasaannya dengan Veronika. Di saat Radit ingin mengungkapkan perasaannya, ternyata Veronika dipanggil ibunya sejenak Radit menunggu. Di depan Radit nampak hp Veronika berbunyi, itu adalah sms dari Rizal dan tanpa sepengetahuan Veronika dibukalah sms dari Rizal. Terasa sangat sakit hati Radit ketika membaca pesan dari Rizal bertuliskan “sayang” lalu cepat-cepat Radit mengembalikan hp seperti posisi semula kerena Veronika telah datang. “Maaf ya Dit lama nunggunya soalnya tadi bantu ibu goreng kerupuk” kata Veronika. “Iya nggak apa-apa” dengan perkataan yang dingin tanpa memandang Veronika.
Veronika: kamu kenapa Dit…kamu sakit..
Radit: oh..nggak kok Ver..ya sudah aku pulang dulu (dengan senyum terpaksa)
Veronika: kok tumben kamu buru-buru pulang (tersenyum)
Radit: soalnya nanti aku mau diajak ibuku ke rumah nenek….
Veronika: oh begitu..yang sudah pulangnya hati-hati ya Dit…(tersenyum)
Radit: iya………….

       Radit terpaksa berbohong dengan Veronika karena Radit merasa sakit hati dan kecewa dengan Veronika. Dalam hatinya Radit menangis, sesampai di rumah Radit langsung masuk kamar dan merenung dia sebenarnya nggak percaya tetapi Radit sudah melihat buktinya waktu di rumahnya Veronika. Saat berangkat kuliah Radit terus saja diam, Veronika sms pun nggak dibalas lalu datanglah Vino yang menghampiri Radit di parkiran. “Tumben kamu hari gini sudah sampai di kampus” kata Vino. “ya sudah aku masuk kelas dulu Vin” dengan wajah yang dingin.
Vino: (berkata dalam hati) nggak biasanya Radit kayak begitu,, ahh paling cuma perasaanku saja….
       Di kampus Radit banyak diam dan masih terbayang peristiwa kemarin. Dalam hati Radit berkata “mungkin, saat ini aku harus menjauhi Veronika dan mungkin juga dia bukan terbaik untukku”. Saat itu Radit benar-benar frustasi. “Woi Dit,,,dari tadi kamu diem terus emangnya ada apa?” kata Joni. “nggak ada apa-apa kok mens” jawab Radit dengan sedikit lesu.
Joni: daripada bengong…nanti pulang kuliah tak ajak ke rumahe Dodi yuk…
Radit: mau apa emangnya?
Joni: biasa mau ngopy game (tersenyum)
Radit: iya terserah kamu saja….
Joni: ok!!….

       Sore harinya seperti biasa Veronika menunggu angkutan umum “wah ada angkot nggak ya jam segini mana tadi ada sedikit masalah dengan bosnya” kata Veronika. Sudah lima belas menit Veronika menunggu tetapi tidak ada angkot juga. Tiba-tiba ada sepeda motor yang berhenti di depannya dan membuka helmnya itu adalah Rizal “Ver, aku antar pulang yuk” kata Rizal. “Nggak usah “ tersenyum.
Rizal: nggak apa-apa lagi,,jam segini itu nggak ada angkutan nanti kamu kenapa-kenapa lagi…
Veronika : (berpikir sejenak) ya sudah ayo….
       Dalam perjalanan pulang dari rumah Dodi kebetulan mereka berpas-pasan dengan Veronika tetapi Veronika tak menyadarinya. “Dit…coba lihat ke sana itu kan Veronika tapi kok sama cowok ya” kata Joni.
Radit: iya Jon….ya sudah biarin saja (tambah sakit hati)
       “Makasih ya Zal” kata Veronika sambil turun dari motor Rizal. Setelah sampai di rumah Veronika.
Rizal: iya sama-sama…oh ini rumahmu….hampir deket dong dengan rumahku…
Veronika: oh,,,,,
Rizal: kapan-kapan aku boleh main ke rumahmu dong (tersenyum)
Veronika: (hanya tersenyum)

      Setelah itu, Veronika pun mandi, sholat magrib dan tiduran di kamarnya. “Kenapa sih Dit, kamu jadi seperti ini sama aku smsku sekarang nggak pernah kamu balas. Apakah kamu sudah menemukan cewek lain yang lebih dari aku” sambil meneteskan air mata.
      Di kamar Radit juga memikirkan Veronika dan berkata dalam hati “oh tadi itu cowok kamu, aku pikir kamu benar-benar mencintaiku apakah aku terlambat buat mengutarakan isi hatiku sampai-sampai kamu menerima cowok lain yang lebih dariku dan aku tahu kamu nggak benar-benar mencintaiku padahal aku benar-benar mencintaimu” mata yang berkaca-kaca.
      Sejak itulah, Radit menjauh dari Veronika dan Rizal pun semakin mendekati Veronika. Di sinilah cinta mereka benar-benar diuji. Sebetulnya itu semua adalah kesalahpahaman antara Radit dengan Veronika. Radit tak bercerita dengan Veronika ketika ada sms dari Rizal dan Veronika pun juga tak bercerita ketika Rizal minta nomor hpnya. Dalam sebuah hubungan apa saja yang terpenting adalah keterbukaan agar tak terjadi kesalahpahaman yang akan menimbulkan sebuah masalah. Saat Radit sudah menjauh dengan Veronika, justru sekarang giliran Rizal yang akan mengungkapkan perasaannya kepada Veronika. Momen itu terjadi pada saat malam minggu dan Rizal berharap cintanya diterima oleh Veronika. “Oh iya malam ini kamu terlihat cantik” kata Rizal.
Veronika: nggak kok Zal biasa saja (tersenyum)
Rizal: beneran kok (tersenyum)
Veronika: (hanya tersenyum)

       Lama mereka mengobrol, akhirnya saat yang ditunggu tiba.
Rizal: aku pengen ngomong sesuatu (memandang Veronika)
Veronika: (bingung dan merasa deg-degan) iya pengen ngomong apa?
Rizal: waktu aku bertemu denganmu…ternyata kamu orangnya baik dan ramah…itu yang membuatku senang….kamu mau nggak jadi cewekku…?
Veronika: (kaget dan bingung) gimana ya?
Rizal: apa kamu sudah punya cowok?
Veronika: aku memang belum punya cowok mas…tetapi aku mencintai seorang cowok di luar sana mas (terbayang Radit) tetapi cowok yang aku cintai tiba-tiba menjauh…dan aku nggak mau kalau aku menerima cintamu takutnya hanya sekedar pelampiasan saja….kamu tahu kan mas maksudku?
Rizal: iya aku tahu…memang cinta itu nggak bisa dipaksain…tapi, aku senang walau cuma berteman denganmu (tersenyum)
Veronika: iya mas…ya sudah diminum tehnya (tersenyum)

       Veronika pun dalam kamarnya menangis “apa Radit yang selama ini aku kenal hanya bisa membuat aku kuatir dan menangis, andai kamu tahu Dit kalau aku benar-benar mencintaimu” sambil memandang foto Radit.
       Radit pun akhirnya menceritakan semua yang dia alaminya dengan Joni. “Tapi, apa mungkin Veronika seperti itu, coba kamu pikir-pikir dulu lagi Dit andai kamu menjauhi Veronika” kata Joni.
Radit: kan kamu tahu sendiri kemarin kita lihat dia boncengan sama cowok dan ada cowok yang sms dia dengan kata “sayang” kurang bukti apalagi Jon…
Joni: sekarang aku mau tanya kamu…apakah dia masih sms kamu (memandang Radit)
Radit: iya sms,,tapi, nggak aku balas (memandang langit)
Joni: kamu pikir,,,andai dia punya cowok pasti dia nggak bakalan sms kamu lg dan dia bakal cerita sama kamu!!…(sedikit emosi)
Radit: (hanya terdiam)
Joni: itulah kamu…kamu nggak mau mencari kebenarannya dulu..langsung mutusin begitu saja…sekarang kamu nyesel tow…aku tahu kamu benar-benar mencintai Veronika…!!!(emosi)
Radit: (dalam hati) Joni nggak pernah semarah ini…apa aku benar-benar salah…
Radit: terus apa yang harus aku lakukan Jon…?
Joni: ya sudah begini saja…kalau kamu nggak mau cerita sama Veronika…biar aku yang akan menceritakan masalahmu ini ke dia….
Radit: tapi Jon….
Joni: kamu tenang saja..besok kan dia libur jadi aku yang akan ke rumahnya…ok!! ya sudah sekarang kita pulang sudah malam,,,,,
       Keesokan harinya Joni ke rumah Veronika dan bertanya kepada ibu yang sedang duduk di luar. “Permisi bu,,Veronikanya ada” kata Joni.
Bu Novi: oh iya ada, ini siapa?….ya sudah ibu panggilkan dulu..silahkan masuk…(tersenyum)
Joni: saya teman Veronika bu,,iya bu (tersenyum)

       Betapa kagetnya ketika Veronika keluar.
Veronika: ada apa Jon? (terlihat bingung)
Joni: aku mau tanya tentang Radit..apa kalian ada masalah?
Veronika: (terdiam sejenak) aku saja sebenarnya bingung tiba-tiba Radit menjauhiku dan smsku nggak pernah dibalas ….
Joni: Radit sudah cerita sama aku..katanya di hp kamu ada seorang cowok yang manggil kamu “sayang” terus waktu itu kamu pulang kerja diboncengin sama cowok…aku juga lihat dengan Radit…
Veronika: iya itu semua memang benar….
       Veronika berusaha menjelaskan apa yang terjadi termasuk dia ditembak oleh Rizal dan menangis memikirkan Radit.
Joni: oh ternyata begitu…berarti ini salah paham…..lain kali kalau ada apa-apa itu cerita…saling terbuka…kalian itu merepotkan aku saja (tertawa)
Veronika: (wajah yang senang) makasih ya Jon,,,,(tersenyum)
Joni: iya….ya sudah habis ini aku nggak mau lihat kalian ada masalah seperti ini lagi….(tersenyum) aku pulang dulu Ver…(minum tehnya)

       Setelah ke rumah Veronika Joni langsung menuju ke rumah Radit dan menceritakan semua kepada Radit dan Radit ngaku bersalah, terutama sudah membuat Veronika khawatir dan menangis. Sebagai permintaan maafnya, nanti malam Radit ingin membawakan sesuatu untuk Veronika.
       Waktu menunjukan pukul 7 malam, dinyalakanlah motornya dan bergegas Radit menuju rumah Veronika dengan perasaan yang benar-benar bahagia dan ditengah perjalanan Radit membeli sesuatu untuk Veronika. Tiga puluh menit kemudian Radit sampai di rumah Veronika sebelumnya Radit tak sms Veronika dulu kalau dia ingin main ke rumahnya. Lalu, Radit mengetuk pintu dan berharap Veronikalah yang membukakan pintu itu, selang kemudian harapan Radit dikabulkan Veronika yang membukakan pintunya dan Veronika sedikit kaget dengan kedatangan Radit. Tak disangka-sangka malah Veronika nangis ketika membukakan pintu.
Radit: kamu kok malah nangis (mengusap air mata Veronika)
Veronika: kamu nakal kok (merasa terharu)
Radit: ya sudah sini..kita duduk di luar saja (menggandeng Veronika)
Veronika: kamu itu,,,nggak pernah cerita kalau ada masalah (air mata yang sudah terhenti)
Radit: iya aku minta maaf ya…aku ngaku salah…ini ada coklat untuk kamu sebagai permintaan maafku (tersenyum sambil member coklatnya)
Veronika: iya..makasih ya Dit…(tersenyum)
Radit: nah begitu dong….kalau senyum kan tambah cantik (memegang tangan Veronika)
Veronika: (tersenyum) aku juga minta maaf ya Dit….aku juga salah karena aku nggak bilang kalau Rizal minta nomorku……
Radit: iya nggak apa-apa kok…aku maafin..makanya jadi orang jangan cantik-cantik (bercanda) nantinya aku yang selalu memikirkanmu (tersenyum)
Veronika: ahh kamu bisa saja Dit……(tersenyum)
Radit: aku mau bilang sesuatu…kamu mau kan jadi ceweku (memegang tangan Veronika)
Veronika: iya Dit…aku mau kok…kan, aku juga cinta Radit yang nakal ini….(memandang Radit dengan senyum manis)
Radit: iya,,,maksih ya cantik…oh iya, aku janji dech…aku nggak akan buat kamu menangis lagi…karena air matamu adalah suatu kesalahanku kepadamu (tersenyum)
Veronika: iya Dit….ya sudah aku suapin coklatnya ya,,,
Radit: iya cepetan dong….(memandang Veronika dengan tersenyum)
       Begitulah kisah cinta Radit dan Veronika ternyata memang mereka benar-benar saling mencintai. Meski, ada seorang yang ganteng, mapan dan keren seperti Rizal tetaplah Veronika mencintai Radit. Cinta itu adalah pilihan tetapi cinta itu tetap ada satu di hati kita. Cinta tak memandang paras, status atau apa karena cinta itu terjadi di dalam bawah kesadaran manusia yang tidak bisa dikontrol oleh pikiran kita. Cinta itu memang indah, indahnya cinta itu tergantung dari orang yang menjalankannya. Yang harus kita pahami dari sebuah “cinta” adalah ketika kita pertama mendapatkannya maka, kita kan selalu mengingat perjuangan kita dan kenangan pertama ketika kita mendapatkannya sehingga dengan itu kita akan bisa menghargai sebuah hubungan yang kita jalin. Cinta yang indahnya datangnya dari dalam hati, dari dalam hati menuju sebuah harapan yang akhirnya akan direalisasikan menuju sebuah pernikahan.

minato